Temuan puluhan kasus Influenza A subclade K atau 'super flu' memicu kekhawatiran. Pertanyaannya, apakah super flu akan sampai memicu pandemi layaknya Covid-19?
Eks Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Profesor Tjandra Yoga Aditama menilai, kondisi super flu di Indonesia saat ini belum mengarah ke pandemi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau melihat perkembangan sekarang, maka super flu ini hanya akan mengakibatkan gelombang penyakit flu yang lebih hebat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jadi tidak [mengarah ke pandemi]," ujar Tjandra dalam keterangan resminya, Kamis (1/1).
Sejumlah faktor memegang peran penting dalam menentukan pandemi. Pertama, jika terjadi mutasi lebih signifika yang membuat virus Influenza A menjadi benar-benar baru dan berbeda dari varian sebelumnya.
Kedua, peningkatan tajam penularan dan keparahan penyakit. Ketiga, meluasnya penularan lintas negara secara masih. Pandemi, lanjut Tjandra, ditandai oleh penyebaran global yang tak lagi dibendung batas wilayah.
"Kalau ketiga faktor ini tidak terjadi secara bersamaan, peluang menjadi pandemi relatif kecil," ujar dia.
Influenza A atau H3N2 sendiri bukanlah virus baru. Lonjakan yang sama sempat terjadi di sejumlah negara beberapa waktu sebelumnya seperti Jepang, Kanada, Amerika Serikat, Malaysia, dan Thailand.
Namun, yang perlu dicermati adalah subclade K yang telah mengalami sekitar tujuh kali mutasi. Sejak November 2025, WHO menyatakan virus ini menyebar cepat dan mendominasi seluruh kasus influenza di belahan bumi utara.
Meski belum mengarah ke pandemi, masyarakat tetap diimbau untuk waspada saat mengalami gejala flu. Istirahat di rumah atau menggunakan masker saat harus bepergian. Jangan lupa untuk melakukan konsultasi dokter jika gejala memberat.
Vaksinasi influenza juga bisa diberikan, utamanya untuk kelompok rentan seperti lansia, anak, dan penderita komorbid berat.
Hingga Desember 2025, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mencatat 62 kasus super flu di Indonesia. Jawa Timur, Jawa Barat, dan Kalimantan Selatan menyumbang kasus terbanyak.
Sebagian besar pasien merupakan kelompok perempuan (64 persen). Sebagiannya lagi menyerang kelompok anak (35 persen).
Kementerian Kesehatan RI sebelumnya menegaskan bahwa situasi influenza A(H3N2) subclade K, yang viral disebut super flu, di Indonesia hingga akhir Desember 2025 masih dalam kondisi terkendali dan tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan clade maupun subclade influenza lainnya.
"Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan. Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan," ujar Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine dalam keterangan resmi, Rabu (31/12).
(asr)