Hobi Makan Ramen? Studi Jepang Sebut Bisa Picu Risiko Kematian

CNN Indonesia
Sabtu, 29 Nov 2025 12:00 WIB
Penelitian di Jepang menemukan konsumsi ramen lebih dari tiga kali seminggu bisa meningkatkan risiko penyakit serius hingga kematian.
Ilustrasi. Makan ramen terlalu sering ternyata berbahaya. (CNN Indonesia/Christina Andhika Setyanti)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Siapa yang bisa menolak semangkuk ramen panas dengan kuah gurih dan topping daging lembut di atasnya?

Sayangnya, bagi para pencinta ramen, mungkin kabar ini terdengar pahit. Pasalnya, sebuah studi terbaru dari Jepang mengaitkan kebiasaan makan ramen dengan peningkatan risiko penyakit serius seperti hipertensi, diabetes, bahkan kematian dini.

Penelitian yang dilakukan di Prefektur Yamagata, dikenal sebagai 'kota ramen' di Jepang, melibatkan lebih dari 6.700 partisipan berusia 40 tahun ke atas selama empat setengah tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para peneliti dari sejumlah universitas di wilayah tersebut membagi peserta berdasarkan frekuensi konsumsi ramen, kurang dari sekali sebulan, satu hingga tiga kali sebulan, satu hingga dua kali seminggu, dan lebih dari tiga kali seminggu.

Hasilnya cukup mengejutkan. Mereka yang makan ramen tiga kali atau lebih dalam seminggu memiliki risiko kematian 1,5 kali lebih tinggi dibanding mereka yang hanya menyantapnya satu atau dua kali seminggu.

Namun, menariknya, orang yang jarang makan ramen (kurang dari sekali sebulan) juga menunjukkan risiko kematian sedikit lebih tinggi, kemungkinan karena mereka sudah memiliki penyakit seperti hipertensi atau diabetes dan disarankan dokter untuk menghindarinya.

Terlalu banyak garam dan lemak

Menurut para peneliti, laki-laki muda menjadi kelompok yang paling berisiko. Mereka cenderung mengonsumsi porsi besar dan mendapatkan asupan natrium berlebih dari ramen.

Asupan natrium tinggi ini bukan hal sepele. Selain meningkatkan tekanan darah, garam berlebih juga dikaitkan dengan risiko kanker lambung.

"Banyak pria muda mendapatkan sebagian besar asupan garam dari mi seperti ramen," tulis para peneliti, melansir CNA.

Lebih buruk lagi, kebiasaan menikmati ramen dengan alkohol membuat kombinasi garam dan alkohol menjadi berbahaya bagi tubuh.

"Partisipan yang makan ramen lebih dari tiga kali seminggu dan sering mengonsumsi alkohol memiliki risiko kematian lebih tinggi," sebut hasil penelitian tersebut.

Meski begitu, ahli gizi mengingatkan bahwa penelitian ini bersifat observasional, sehingga belum bisa menyimpulkan bahwa ramen secara langsung menyebabkan kematian.

Menurut ahli gizi senior Mount Elizabeth Hospital, Looi Bee Hong, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah ramen menjadi penyebab utama, atau justru gaya hidup lain seperti merokok, minum alkohol, dan porsi makan yang besar yang berkontribusi terhadap risiko tersebut.

Namun, Looi menegaskan bahwa kandungan natrium tinggi dalam kuah ramen memang perlu diwaspadai.

"Konsumsi ramen yang sering, terutama bila seluruh kuahnya dihabiskan, bisa meningkatkan risiko penyakit jantung dan kanker lambung," ujarnya.

Ahli gizi Jaclyn Reutens dari Aptima Nutrition & Sports Consultants menambahkan, "Semakin tua usia seseorang, semakin rentan organ tubuhnya terhadap efek buruk dari pola makan tinggi garam dan lemak. Kebiasaan makan buruk yang terus dilakukan akan memperbesar risiko kematian akibat penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan stroke."

Reutens menyarankan agar konsumsi ramen dibatasi maksimal satu atau dua kali dalam sebulan. "Dan kalaupun makan, sebaiknya imbangi dengan makanan bergizi lain selama minggu itu," tambah Looi.

Kalori dan lemak dalam semangkuk ramen

Satu porsi ramen tonkotsu yang biasa disajikan di restoran Jepang bisa mengandung 900 hingga 1.200 kalori, tergantung pada kekayaan kuahnya. Menurut Reutens, seporsi ramen rata-rata mengandung 80-90 gram karbohidrat, 40-45 gram protein, 50-60 gram lemak, dan sangat sedikit serat maupun vitamin.

"Ramen tradisional mengandung banyak kalori dan lemak, tapi hampir tidak memiliki serat, vitamin, atau mineral," ujarnya.

"Dan jika disantap bersama alkohol, jumlah kalori dan natriumnya meningkat drastis."

Kuah ramen yang kental dan gurih bukan hanya hasil dari kaldu tulang babi yang dimasak berjam-jam, tapi juga berasal dari lemak dan garam. "Tonkotsu ramen bisa mengandung 2.000 hingga 3.000 mg natrium per porsi. Padahal asupan natrium harian yang direkomendasikan hanya 2.000 mg," jelas Reutens.

Digell Huang, 34, one of the two reserved customers tries the giant isopod ramen in Taipei, Taiwan May 27, 2023. REUTERS/Ann WangIlustrasi. Ramen. (REUTERS/ANN WANG)

Tips membuat ramen lebih sehat

Bagi Anda yang tak bisa benar-benar meninggalkan ramen, ahli gizi menyarankan beberapa cara agar lebih sehat:

• Pilih kuah rendah garam, seperti miso, yang juga mengandung probiotik dari fermentasi kedelai. Hindari kuah tonkotsu, shio, dan shoyu yang tinggi garam. Jika tetap ingin menikmati kuahnya, cukup setengah porsi saja.

• Gunakan jenis mi lain seperti soba, somen, atau udon. Mi ini lebih rendah kalori dan natrium dibanding mi ramen kuning yang dibuat dengan bahan kimia kansui.

• Ganti topping char siew atau daging berlemak dengan ayam panggang, telur rebus, tahu, atau makanan laut. Tambahkan sayuran segar seperti bayam, tauge, atau wortel.

• Hindari set menu dengan tambahan gyoza atau nasi goreng. Itu hanya menambah kalori, garam, dan lemak.

Menikmati ramen sesekali bukanlah masalah. Namun, seperti kata pepatah Jepang, 'Hara hachi bu' makanlah sampai 80 persen kenyang. Karena bahkan semangkuk ramen pun bisa menjadi ancaman jika terlalu sering dihabiskan sampai tetes terakhir.

(tis/tis)


[Gambas:Video CNN]
REKOMENDASI
UNTUKMU LIHAT SEMUA
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
TERPOPULER