'Pemakaman Orang Hidup', Cara Orang Korsel Cari Kebahagiaan

CNN Indonesia | Sabtu, 09/11/2019 19:58 WIB
'Pemakaman Orang Hidup', Cara Orang Korsel Cari Kebahagiaan 'Simulasi kematian' dan berbaring di dalam peti mati selama 10 menit jadi cara warga Korea Selatan belajar untuk memaknai hidup lebih baik. (Istockphoto/PeopleImages)
Jakarta, CNN Indonesia -- Banyak cara untuk memahami dan memaknai hidup dengan lebih dalam. Warga Korea Selatan, misalnya, yang beramai-ramai merasakan 'kematian sesaat' demi menggapai kehidupan yang lebih baik.

Pengalaman 'kematian sesaat' ini didapatkan dalam layanan pemakaman gratis untuk mereka yang masih bernyawa. Layanan ini ditawarkan Korsel untuk membantu seseorang memaknai hidup dengan lebih baik.

Lebih dari 25 ribu orang telah berpartisipasi dalam layanan tersebut. Hyowon Healing Center sebagai penyedia layanan telah berdiri sejak 2012 lalu. Layanan diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang melalui simulasi kematian.

"Begitu Anda sadar akan kematian dan merasakannya, Anda akan menemukan makna baru dalam hidup," ujar salah seorang peserta, Cho Jae-hee (75), mengutip The New York Times.

Siapa pun turut serta, mulai dari remaja hingga orang lanjut usia. Mereka beramai-ramai mengenakan kain kafan, melakukan pemotretan pemakanan, menulis surat wasiat, dan berbaring di dalam peti mati yang tertutup sekitar 10 menit lamanya.

Seorang mahasiswa, Choi Jin-kyu (28) mengatakan, berada di dalam peti mati menyadarkannya akan sifat buruknya yang selalu memandang orang lain sebagai pesaing.

"Saat saya berada di dalam peti mati, saya bertanya-tanya, apa gunanya itu [menganggap orang lain sebagai pesaing]," kata Jin-kyu. Alih-alih bersaing ketat di dunia kerja, dia berencana untuk memulai sebuah bisnis kecil selepas menyelesaikan studinya.

Jeong Yong-mun, yang mengepalai Hyowon Healing Center mengatakan bahwa pengalaman akan kematian merupakan salah satu hal terpenting dalam hidup.

"[Dari pengalaman akan kematian] kita bisa memaafkan dan mendamaikan diri untuk kemudian menjalani hidup yang lebih bahagia," ujar Yong-mun.

Tingkat Kebahagiaan Rendah

Korea Selatan menjadi salah satu negara dengan indeks kebahagiaan yang rendah. Data teranyar World Happiness Report (2018) mencatat, Korea Selatan menduduki ranking ke-32 dari 34 negara yang disurvei oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

Banyak kawula muda Korea Selatan yang memiliki harapan tinggi akan edukasi dan pekerjaan. Namun, harapan itu kemudian hancur akibat kondisi ekonomi yang merosot dan meningkatnya angka pengangguran.

Sebuah studi yang dilakukan Korea Development Institute (KDI) mengenai tingkat kebahagiaan Negeri Ginseng pada 2018 lalu juga menemukan hal serupa. Mengutip Hankyoreh, studi menemukan, satu dari lima orang dewasa di Korea Selatan tak bahagia. Mereka terdiri dari warga dengan tingkat penghasilan dan pendidikan rendah, orang lanjut usia, serta pria paruh baya.

"Dibutuhkan aksi nyata. Tak hanya karena tingkat kebahagiaan yang rendah, tapi juga karena perbedaan tingkat kebahagiaan yang dirasakan antarkelompok saling berbeda jauh," ujar Cho Byeong-gu, yang terlibat dalam penelitian.

Rendahnya tingkat kebahagiaan juga terbukti dengan tingginya angka bunuh diri di Korea Selatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat Korea Selatan sebagai satu dari sepuluh negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di dunia.

[Gambas:Video CNN]


(asr/asr)