Hari Batik Nasional

Cerita Bambang Sumardiyono Membatik Kimono Jepang

tim, CNN Indonesia | Rabu, 02/10/2019 17:00 WIB
Cerita Bambang Sumardiyono Membatik Kimono Jepang Ilustrasi membatik (ANTARA FOTO/Yusran Uccang)
Jakarta, CNN Indonesia -- Memperingati Hari Batik Nasional, sebagian jajaran instansi swasta maupun pemerintah menggalakkan stafnya untuk mengenakan busana bernuansa batik. Batik yang awalnya kerap dikenakan kala bertandang hajatan atau melamar kerja pun eksis. Antusiasme publik dalam negeri akan batik tampaknya masih kalah dengan publik mancanegara.

Bambang Sumardiyono, pemilik Rumah Batik Nakula Sadewa, Yogyakarta menuturkan dirinya kerap mengajarkan teknik batik pada 'bule-bule'. Sudah 32 negara ia kunjungi dan peminatnya selalu membludak.

"Mereka ingin lihat prosesnya (dan mencoba sendiri). Walau hanya dengan sapu tangan kecil, mereka mencanting, memberi warna, melepaskan lilin," ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.


Ajakan PT Angkasa Pura Yogyakarta untuk mengadakan pameran batik di Jeddah pada 2001, membuat Bambang bersama rumah batiknya berkeliling berbagai negara untuk memperkenalkan batik. Namun dari sekian banyak negara yang ia kunjungi, Jepang memberikan kesan cukup mendalam buatnya.


Dia berkata orang Jepang begitu disiplin dan pekerja keras. Mereka bekerja mulai pukul 06.00 hingga 18.00. Selain itu ia juga terkesan akan rasa hormat mereka pada orang lain.

Soal batik, Jepang memiliki selera jauh berbeda dengan Indonesia. Ini jadi tantangan tersendiri buatnya saat bertandang ke sana.

"Misalnya hijau selera orang Jepang itu lebih ke arah hijau kecokelatan. Kalau kita, lebih ke hijau pupus. Contoh lain, orang kita suka hitam pekat, kalau Jepang warna hitam itu ya abu-abu tua," papar Bambang.

[Gambas:Instagram]

Untuk motif, lanjut dia, Jepang tidak menyukai motif-motif berukuran besar. Orang Jepang menyukai motif-motif berukuran kecil, rapi, plus detail. Berkat kemampuannya mempelajari pasar, Bambang pun menerima pesanan kimono batik.

"Kami mengekspor kimono ke Jepang. Bahan kain dari sana, kami tinggal membatik sesuai pesanan. Satu kain batik tulis dihargai Rp145juta," tuturnya.

Sementara itu harapan untuk makin memperluas kecintaan akan batik bakal jadi kenyataan. Bambang turut serta dalam penyusunan dan pengawalan kurikulum batik bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Ini baru diperiksa UNESCO untuk jadi kurikulum internasional, penyerahan dengan UNESCO pada Maret 2019 kemarin di Medan," kata Bambang melalui pesan singkat, Selasa (1/10).

Menurut Bambang, jika kurikulum ini disetujui UNESCO maka nanti akan dimasukkan ke lembaga-lembaga kursus dan dijadikan ekstrakurikuler sekolah. Di Indonesia, batik sudah masuk ke dalam kurikulum baik di SD, SMP dan SMK di beberapa daerah.

Bersaing dengan batik printing

Bambang melihat batik kini makin berkembang. Media online juga media sosial menambah penyebarluasan informasi mengenai batik. Ini pu dibarengi permintaan batik yang meningkat dan beragam. Dia berkata anak muda pun sekarang tidak malu mengenakan batik.

"Batik kini bisa mengikuti komposisi warna yang diinginkan anak muda," imbuhnya.


Sedangkan untuk ragam jenis, dia mengatakan bahwa batik tulis masih banyak diminati orang konsumen. Batik tulis dianggap sebagai batik edisi terbatas (limited edition). Kain ini tidak bisa diproduksi banyak. Ada kemungkinan motif sama tetapi warna berbeda.

Selain itu, proses pembuatannya pun memakan waktu cukup lama. Paling cepat, satu lembar kain bisa diselesaikan selama dua minggu. Itu pun hanya satu kali proses atau satu kali melepas lilin.

Cerita Bambang Sumardiyono Membatik Kimono JepangFoto: ANTARA FOTO/Syailendra Hafiz Wiratama


Batik cap, yang harganya di bawah batik tulis pembuatannya lebih cepat. Meski demikian, batik cap juga bisa dibanderol dengan harga cukup mahal bergantung dari kerumitan komposisi motif dan warna.

"Tantangan sekarang itu bersaing dengan printing. Itu yang paling berat. Tapi kami tidak membenci, tidak. Karena ada produksi dompet, tas, itu perca bahannya dari printing," kata dia.

Melihat persaingan ini, ia pun mulai berani menawarkan batik cap dengan harga tak jauh berbeda dengan printing. Di pasaran, printing dijual rata-rata dengan harga Rp70ribu. Ia pun mengeluarkan batik cap dengan kisaran harga Rp100ribu-Rp125ribu. Perbedaan yang tidak terlalu besar ini diharapkan dapat membuat konsumen melirik batik cap.


Bambang menuturkan batik memang telah diakui UNESCO, tetapi organisasi ini hanya mengakui teknik batik dengan menggunakan lilin panas. Sedangkan batik printing jelas menggunakan mesin dan komputer.

"Daripada printing, mending batik," katanya. (els/chs)