Pascabom Paskah Turis Tinggalkan Sri Lanka

AFP, CNN Indonesia | Selasa, 23/04/2019 20:30 WIB
Pascabom Paskah Turis Tinggalkan Sri Lanka Suasana kawasan St Anthony Shrine di Kolombo, Sri Lanka. (REUTERS/Dinuka Liyanawatte)
Jakarta, CNN Indonesia -- Serangan bom yang terjadi di gereja dan hotel Sri Lanka pada Hari Paskah kemarin membuat banyak turis mulai angkat koper dari negara eksotis itu. Industri pariwisata setempat juga terdampak oleh turis yang membatalkan pemesanannya.

Aksi teror itu membuat sedih dunia, karena Sri Lanka didaulat oleh banyak majalah dan situs rekomendasi wisata sebagai destinasi yang patut dikunjungi pada tahun ini.

Ledakan yang terjadi pada Minggu (21/4) mengakibatkan 300 orang tewas, termasuk di antaranya 37 warga negara asing.



Pria yang bekerja sebagai guru di Jerman, Martin Ewest, datang ke Sri Lanka pada dua hari yang lalu. Ia berharap bisa menikmati libur Paskah bersama istri dan anaknya yang berusia 12 tahun.

Namun rencana itu berubah seketika setelah serangan terjadi.

"Kami ingin meninggalkan negara ini secepatnya, namun kedutaan besar kami tidak bisa membantu karena mereka sedang liburan, maskapai kami juga demikian, dan hotel kami tak memberikan bantuan apapun," kata pria berusia 44 tahun itu seperti yang dikutip dari AFP pada Selasa (23/4).

"Ini adalah situasi yang sulit, kami hanya bisa menunggu," lanjutnya.

Ledakan hebat menghantam tiga hotel di ibu kota Sri Lanka, Kolombo, yakni Cinnamon Grand, Shangri-La dan Kingsbury Hotel, yang semuanya telah ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Turis di salah satu pantai di Kolombo, Sri Lanka. (AFP PHOTO/Lakruwan Wanniarachchi)

Turis asal Pakistan, Kashif Ali, merasa beruntung bisa lolos dari maut di hari itu. Pria yang berusia 33 tahun itu mencoba untuk memesan kamar di Cinnamon Grand untuk liburan keluarganya, namun petugas hotel mengatakan seluruh kamar sudah penuh.

"Kami memiliki untuk melakukan perjalanan keliling negara itu, tetapi sekarang kami jadi takut untuk pergi ke mana-mana," katanya kepada AFP, seraya menambahkan bahwa ledakan itu membawa kembali ingatan buruk tentang sejarah Pakistan akan kekerasan militan.

"Kami datang ke sini untuk melarikan diri dari semua itu - kami ingin bersantai, tidak menghabiskan sepanjang hari di hotel. Sekarang kami hanya menunggu untuk pergi - ini adalah liburan yang sia-sia," kata saudara iparnya, Sobia Samreen, kepada AFP.

Di Bandara Internasional Kolombo, para pelancong yang gelisah dan lelah berbaris untuk meninggalkan negara itu. Tentara bersenjata lengkap menjaga titik masuk dan keluar.

Rasa cemas terasa di hotel-hotel bintang lima yang berjajar di tepi pantai, seperti Taj Samudra Colombo dan Galle Face Hotel yang menempatkan pengamanan ekstra di seluruh area, termasuk petugas bersenjata yang melarang siapapun masuk kecuali tamu.


'Jangan merasa aman'

Pemerintah Amerika Serikat telah merevisi peringatan perjalanannya untuk Sri Lanka. Kini mereka memperingatkan kemungkinan serangan teroris lebih lanjut, sementara negara-negara lain seperti Australia dan Irlandia juga menyarankan warga negaranya untuk berhati-hati saat berada di negara itu.

Pemilik agen perjalanan Sri Lanka, Morris Bernard, mengatakan kepada AFP bahwa perusahaannya telah mencatat "banyak pembatalan - sekitar seperempat klien kami telah membatalkan atau menunda rencana mereka, dengan mengatakan mereka takut (untuk berkunjung)".

Pemilik agen perjalanan lainnya, Saman Palitha, mengatakan bahwa "satu-satunya kelompok yang kami harapkan akhir bulan ini telah membatalkan kunjungan - sebanyak 13 orang dari India yang mengatakan bahwa untuk saat ini mereka tidak merasa aman bepergian ke sini bersama keluarga mereka".

Kota Kuno Sigiriya di Sri Lanka. (AFP PHOTO / ISHARA S. KODIKARA)

Seorang sumber di Galle Face Hotel mengatakan kepada AFP bahwa sementara "industri pariwisata jelas menderita dalam situasi seperti ini, kami berharap tidak akan membawa dampak jangka panjang".

Sementara pelaku dan niat dari pemboman masih belum jelas, efek jangka pendek kemungkinan akan menghancurkan bagi Sri Lanka yang menganggap pariwisata sebagai penghasil devisa utama negara.

Perang saudara selama puluhan tahun dengan gerilyawan Tamil menghancurkan ekonomi Sri Lanka, memberikan pukulan besar bagi industri pariwisata kepulauan tropis ini.

Tetapi sejak perang berakhir pada tahun 2009, industri pariwisata di sana kembali bangkit, dengan lebih dari 2 juta pengunjung per tahun sejak 2016, naik dari 448 ribu pada 2009.

Penerbit buku panduan perjalanan, Lonely Planet, Oktober lalu menyebut Sri Lanka sebagai destinasi wisata terbaik untuk 2019.

Dalam tulisannya Sri Lanka disebut menarik "dengan keberadaan kuil-kuil kuno, kekayaan alam, ombak untuk selancar dan penduduk lokal yang bersahabat".

Tetapi bagi banyak pengunjung, termasuk mereka yang memiliki ikatan kuat dengan negara, rasa takut sulit untuk dilepaskan.

"Saya biasanya menginap di hotel-hotel yang menjadi sasaran, jadi saya menganggap diri saya sangat diberkati ... tapi ini adalah pertama kalinya dalam semua kunjungan saya ke sini saya merasa takut," kata Manique Corteling, turis dari Australia.

"Tetapi Sri Lanka akan bangkit kembali - mereka telah melalui masa-masa yang mengerikan sebelumnya."


[Gambas:Video CNN]

(ard)