Urusan Migrain sampai Politik di Festival Ganja Thailand

AFP, CNN Indonesia | Minggu, 21/04/2019 01:25 WIB
Urusan Migrain sampai Politik di Festival Ganja Thailand Thailand menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang melegalkan ganja untuk kebutuhan medis. (AFP/Lillian SUWANRUMPHA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang biksu Buddha terlihat mengoleskan minyak ganja di bawah lidahnya dalam festival ganja medis yang digelar di timur Thailand.

Thailand menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang melegalkan ganja untuk kebutuhan medis. Negara Gajah Putih masuk dalam daftar negara yang memiliki aturan yang sama, seperti Kanada, Australia, Israel, dan sejumlah negara bagian Amerika Serikat.

Pasar ganja untuk kebutuhan medis diperkirakan mencapai puluhan miliar hingga satu dekade ke depan. Sejumlah partai politik di Thailand telah mendukung keberadaan ganja untuk medis, sementara pertemuan ilmiah terkait hal itu juga telah digelar di penjuru Thailand.


Festival ganja medis di Buriram merupakan salah satunya.

Festival yang berakhir para Minggu (21/4) ini berlokasi di kota yang berjarak lima jam perjalanan dari Bangkok.

Sebelumnya kota ini dikenal sebagai lokasi kejuaraan sepakbola dan balap motor.

Biksu Chaivisit Visitvekin (67) merupakan satu dari ribuan orang yang datang untuk mengurus surat izin penggunaan ganja untuk medis yang bakal disahkan Kementerian Kesehatan.

Ia mengatakan menggunakan ganja untuk mengobati nyeri punggungnya.

"Saya telah menggunakan pengobatan jenis ini dan tidak ada efek sampingnya," katanya.

Festival ganja medis di Buriram berlangsung menyenangkan diikuti dengan kehati-hatian.

Polisi terlihat berkerumun saat lagu Bob Marley terdengar dari pengeras suara dan orang-orang melinting ganja.

Urusan Migren sampai Politik di Festival Ganja ThailandOrang-orang yang menunggu sertifikasi ganja untuk medis. (AFP/Lillian SUWANRUMPHA)

Di area festival terlihat tenda-tenda yang berisi pelatihan menanam ganja yang baik dan benar.

Mahasiswi yang baru lulus kuliah, Surrerat Ruangnoy, mengatakan kalau ganja membantunya mengobati migrain.

Ia berharap pandangan negatif mengenai ganja bisa berubah seiring aturan baru yang terbit di Thailand.

"Saya melihat banyak orangtua melakukan hal yang sama dengan saya di festival. Saya mengambil gambar mereka dan akan menunjukkannya ke orangtua saya," kata perempuan berusia 26 tahun itu.

Stigma Ganja

Buriram merupakan kawasan dengan banyak pendukung Partai Bhumjaithai, yang pada kampanye bulan lalu mempromosikan legalisasi ganja untuk medis dan mengizinkan setiap rumah menanam maksimal enam pot ganja.

Hartawan Newin Chidchob, yang menjadi donatur utama, Bhumjaithai, menjadi ketua penyelenggara festival ganja medis di sini.

Ia mengatakan kepada AFP pada Sabtu (20/4) bahwa festival ini membantu penduduk Thailand memahami "manfaat dan cara mendapatkan ganja."

Bhumjaithai mengatakan tidak akan bergabung dengan koalisi yang tak mendukung keinginannya melegalisasi ganja untuk medis.

Pengunjung festival melihat festival ini sebagai cara mengubah pandangan penduduk Thailand mengenai ganja.

"Pandangan mengenai ganja telah berubah," kata Ryan Doran, pakar ganja dari Amerika yang rajin memberikan pelatihan kepada petani Thailand.

"Saya tak menyangka bisa berada di tengah polisi Thailand dan ganja tanpa diborgol," katanya.


[Gambas:Video CNN]

(ard)