SURAT DARI RANTAU

Bahagia di Finlandia Tidaklah Rumit

Adrianto Dwi Nugroho, CNN Indonesia | Sabtu, 20/04/2019 12:14 WIB
Bahagia di Finlandia Tidaklah Rumit Ilustrasi. (Foto: AFP PHOTO / LEHTIKUVA / VILLE MYLLYNEN)
Helsinki, CNN Indonesia -- Sebagai orang yang tumbuh dan besar di Indonesia, saya merasa cukup kikuk ketika pertama kali menginjakkan kaki di Finlandia tiga tahun silam untuk menempuh studi doktoral jurusan Hukum Pajak Internasional di University of Helsinki.

Negara yang tahun ini didaulat oleh PBB sebagai tempat paling bahagia di muka bumi ini secara kultur sangat jauh berbeda dengan Indonesia yang guyub bahkan terkadang 'kebablasan'.

Pada prinsipnya penduduk Finlandia adalah orang yang baik dan ramah. Hanya saja, mereka terkenal tertutup, sangat menghargai privasi orang lain, dan cenderung tidak menyukai basa-basi.


Sapaan basa-basi pun sering kali tidak dikehendaki, kecuali sudah saling mengenal sebelumnya.

Namun ini bukan berarti penduduk Finlandia cuek jika melihat orang yang sedang mengalami kesulitan. Ketika kita bingung mencari arah, misalnya, mereka akan dengan senang hati menawarkan bantuan.

Finlandia memiliki kualitas hidup yang tinggi. Udara yang bersih, alam yang luas dan mudah diakses, air keran yang dapat diminum langsung, transportasi dengan harga terjangkau dan memiliki interkoneksi yang luas, lingkungan sosial yang aman, kualitas barang jualan yang di atas rata-rata, dan lainnya.

Sementara itu The World Happiness Report justru didasari pada survei yang menggunakan kriteria khusus seperti dukungan sosial, persepsi korupsi dan lain-lain.

Survei ini juga melibatkan para imigran, sehingga dapat dikatakan merepresentasikan seluruh penduduk Finlandia.

Bagi orang awam seperti saya, predikat negara paling bahagia tersebut dapat diasosiasikan dengan kemudahan akses terhadap pendidikan, penitipan anak, dan kesehatan, yang merupakan kebutuhan dasar setiap penduduk.

Dalam hal ini, saya merasakan bahwa akses tersebut mudah, dan biaya yang harus dikeluarkan disesuaikan dengan kemampuan ekonomi saya sebagai penerima beasiswa Indonesia. Untuk mendapat akses penitipan anak, misalnya, saya hanya perlu mendaftarkan anak saya dengan menggunakan formulir elektronik ringkas secara online, tanpa perlu menyertakan lampiran-lampiran apapun.

Demikian pula dengan pendaftaran diri untuk mengakses fasilitas kesehatan di Terveysasema (semacam Puskesmas), yang cukup dengan mengakses e-form secara online, atau telepon.

Hal ini dikarenakan sistem single identity number (semacam KTP) di Finlandia sudah terkoneksi dengan baik ke berbagai layanan dasar, sehingga untuk mengakses layanan-layanan tersebut cukup dengan menyebutkan nomor tersebut.

Walaupun terkesan remeh, sistem ini nyatanya telah mereduksi beban administrasi dan waktu yang harus dihabiskan oleh seseorang untuk mengisi formulir dan menyampaikan lampiran-lampirannya, sehingga dapat dirasakan manfaatnya.

[Gambas:Instagram]

Demikian pula dengan pembiayaan layanan-layanan dasar. Jenis layanan dasar seperti penitipan anak dan kesehatan tidak didasarkan pada besaran penghasilan, melainkan sesuai kebutuhan dan ketersediaan tempat serta waktu.

Pembiayaan layanan dasar disesuaikan dengan kemampuan masing-masing keluarga. Untuk layanan penitipan anak, misalnya, orang tua diminta mengisi income statement dan menyampaikannya ke pemerintah kota, yang selanjutnya akan menentukan besaran biaya yang harus dibayarkan oleh orang tua.

Hal yang sama juga berlaku untuk layanan kesehatan, seperti konsultasi dokter hingga tindakan medis umum seperti cabut gigi, yang harganya terjangkau dan dipublikasikan di situs pemerintah kota. Jelas ini membuat segala sesuatu sangat transparan.

Namun tetap saja ada juga hal yang membuat saya tidak bahagia, sebagai makhluk tropis, yaitu iklim yang terlalu dingin. Suhu paling rendah yang pernah saya alami selama tinggal di sini mencapai minus 25 derajat Celsius. Suhu rata-rata di musim dingin pun masih di sekitar nol derajat Celsius.

Musim dingin di Finlandia bisa berlangsung selama 6 bulan, sejak Oktober hingga Maret. Pada bulan November dan Desember, waktu siang (daylight) pun sangat pendek, yaitu sekitar 7-8 jam, sehingga 16-17 jam selebihnya adalah waktu malam.

Saya tidak ingin membandingkan keadaan ini dengan Indonesia, karena bagi saya Indonesia tetaplah rumah tempat saya akan kembali. Bahkan geliat-geliat untuk memperbaiki kualitas hidup pun sudah terlihat dan menuju ke arah yang seharusnya, termasuk pemilu serentak yang akan akan segera dilaksanakan.

Persiapan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden serta Pemilihan Anggota DPR Daerah Pemilihan DKI Jakarta II telah mencapai tahapan persiapan lokasi Tempat Pemungutan Suara Luar Negeri (TPSLN) di Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Helsinki.

Apabila tidak ada aral melintang, sekitar 200 Warga Negara Indonesia yang telah terdaftar di Daftar Pemilih Tetap Luar Negeri (DPTLN) akan menyalurkan hak pilihnya pada hari Sabtu, 13 April 2019.

Pemilihan di Tempat Pemungutan Suara Luar Negeri (TPSLN) memang dilaksanakan pada jadwal yang berbeda dengan di Indonesia, hal ini bertujuan agar tingkat partisipasi warga pada Pemilu 2019 ini dapat tinggi, mengingat tanggal 13 April 2019 adalah hari Sabtu. Namun, penghitungan suara tetap dilakukan pada 17 April 2019, serentak dengan penghitungan suara di Indonesia.

[Gambas:Video CNN]

---

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com / ike.agestu@cnnindonesia.com / vetricia.wizach@cnnindonesia.com

(agr/ard)