Kisah 'Bus Persahabatan' Melintasi Konflik India-Pakistan

REUTERS, CNN Indonesia | Senin, 25/03/2019 20:01 WIB
Kisah 'Bus Persahabatan' Melintasi Konflik India-Pakistan Bus
Jakarta, CNN Indonesia -- Satu unit bus Volvo terlihat keluar dari terminal Ambedkar, New Delhi, India, pada Jumat dini hari pekan kemarin. Bus berukuran besar itu terlihat melintas dengan penjagaan polisi bersenjata yang ketat.

Membawa turis asal India dan Pakistan, bus tersebut dihiasi bendera dua negara tersebut sekaligus spanduk dengan semboyan 'Sada-e-Sarhad' (Panggilan Perbatasan).

Bus itu merupakan satu-satunya alat transportasi yang bisa melintasi India ke Pakistan dan sebaliknya, terutama di tengah konflik Kashmir yang tengah berlangsung beberapa bulan terakhir.


Bus yang juga disebut 'bus dosti' (bus persahabatan) ini beroperasi setiap hari kecuali hari Minggu, dengan rute Delhi di India dan Lahore di Pakistan.

Sebelum berangkat penumpang diajak sarapan di tempat makan milik pemerintah yang juga dijaga ketat oleh polisi.

Sepanjang perjalanan penumpang akan disuguhi hiburan film India yang dibintangi oleh aktor dan aktris India yang kebanyakan Muslim.

"Salman Khan seorang Muslim, ia salah satu di antara kami," kata Hilal Ahmad Mir (36), petani Apel asli Kashmir.

Hilal menumpang bus dari selatan Kashmir ke Islamabad, Pakistan, untuk mengunjungi adiknya, Hamis.

Sebelum konflik perjalanan yang ditempuhnya sekitar 300 km untuk sekali jalan, termasuk melewati area perbatasan Pakistan dan India.

Namun karena bentrokan sedang pecah, perjalanannya akan jauh lebih panjang, yakni melalui rute Delhi ke Lahore lalu dua hari kemudian baru sampai di Islamabad.

Meski jaraknya lebih jauh ia tetap menikmati perjalanannya.

"Pakistan memberi kemudahan bagi kaum Kashmir mendapatkan visa," katanya.

"Dalam beberapa hal, Pakistan dan India memiliki hubungan yang baik. Namun hubungan baik itu ternoda oleh beberapa hal. Kami ingin persahabatan, bukan senjata api," lanjutnya.

Terpisah saat Lahir

India dan Pakistan berbagi sejarah selama ribuan tahun. Benteng-benteng batu pasir dan masjid agung di Delhi dan Lahore semuanya dibangun oleh kerajaan Mughal, dan kedua negara kemudian menjadi bagian dari kolonial Inggris, India.

Ketika Inggris menyerahkan kendali pemerintahan untuk India pada tahun 1947, hal tersebut menjadi awal terpecahnya India yang mayoritas Hindu dan Pakistan yang mayoritas Islam. Ratusan ribu tewas dalam pertumpahan darah dan jutaan lainnya menjadi pengungsi.

Hubungan kedua negara tegang sejak itu. Mereka telah bertempur dalam tiga perang, dua di antaranya terjadi di wilayah Kashmir yang mayoritas Muslim. Bulan lalu, mereka bentrok atas serangan bunuh diri terhadap konvoi paramiliter India di Kashmir oleh militan Pakistan.

Dalam upaya mempertahankan hubungan dekat dengan Kashmir yang di bawah pemerintahan India, Pakistan dengan murah hati memberikan visa untuk populasi mayoritas Muslim di sana.

Namun proses mendapatkan visa untuk berkunjung ke India atau Pakistan tidaklah mudah. Sebagian besar penumpang yang berada di dalam bus mengatakan kalau mereka harus menunggu selama tiga bulan.

"Keluarga saya terpecah: istri saya di India, saya di Pakistan," kata Shoaib Mohammed, seorang bankir dari Karachi yang pulang kampung setelah sebulan di Delhi.

"Proses visa memakan waktu setidaknya 45 hari dan bisa lebih lama lagi."

Meskipun bus tersebut-yang diresmikan pada tahun 1999 oleh Perdana Menteri India Atal Bihari Vajpayee, sering diminta tak beroperasi, namun hingga saat ini operasional bus itu berjalan tanpa gangguan.

Saat terjadi bentrokan bus juga tetap beroperasi meski penumpangnya hanya satu atau dua orang.

Beberapa polisi bersenjata selalu berada di dalam bus, mereka biasanya tertidur di bangku belakang dengan senjata di pangkuannya.

Selebihnya berada di mobil polisi yang berjalan di depan dan belakang bus yang bertugas membuka jalanan.

Menuju Senja

Setelah makan siang di tempat makan yang juga dijaga ketat, bus melewati Wagah-Attari, salah satu perbatasan aktif antara India dan Pakistan.

Kawasan ini terkenal dengan upacara pergantian penjaganya yang meriah.

Setiap harinya sekitar 100 orang melewati perbatasan India dan Pakistan, menurut data yang dimiliki penjaga perbatasan di India.

Proses pemeriksaan di perbatasan bisa berlangsung selama tiga jam meski pos perbatasan tampak sepi dari pengunjung.

Mir yang berasal dari Kashmir mengaku mengalami sesi wawancara hingga 40 menit.

"Kaum Kashmir mungkin dinilai sangat berbahaya," katanya sambil tertawa saat naik kembali ke dalam bus.

Sesaat setelah upacara pergantian penjaga usai, bus kembali berjalan melewati area perbatasan. Terdengar sorak-sorai penduduk lokal yang tinggal di dekat area perbatasan.

Usai melewati area perbatasan penumpang bus akan kembali melalui pemeriksaan di oleh penjaga perbatasan di Pakistan.

Tapi tak terlihat muka penumpang yang kesal atau marah, karena sebentar lagi mereka akan mendatangi Lahore yang berjarak sekitar 20 km dari pos perbatasan ini

"Selama 40 tahun kami melakukan perjalanan ini dan tidak ada masalah," kata Mohammed, salah satu penumpang bus dari Delhi.

"Sebagai penduduk India saya merasa diterima dengan baik oleh penduduk Pakistan," lanjutnya.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai bus ini, turis bisa mengunjungi situs resmi Badan Pariwisata Pakistan atau India.

[Gambas:Video CNN]

(ard)