HARI TBC SEDUNIA

Dilema Penularan TBC di Angkutan Umum

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Minggu, 24/03/2019 14:57 WIB
Dilema Penularan TBC di Angkutan Umum Angkutan umum menjadi salah satu area rawan penularan TBC. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Transportasi umum jadi petaka bagi Ulfa Umar. Dia tak menyangka commuter line tujuan Bogor yang dinaikinya sepulang kuliah berujung nestapa baginya pada 2016 lalu. Hari itu menjadi awal dari tuberkulosis resisten obat (TBC RO) yang dideritanya.

Seperti biasa, commuter line selalu dipenuhi beragam umat pada jam sibuk. Desak-desakan dan berbagi udara yang minim adalah hal yang biasa bagi 'umat kereta'.

Seorang pria terus mengeluarkan batuk sepanjang perjalanan dari Jakarta menuju Bogor. Pria itu tak mengenakan masker. Secara kebetulan, Ulfa berada di dekatnya.


Praktis setelah kejadian itu, Ulfa mulai mengeluarkan batuk. Kondisi tubuhnya kian lemah. Dia tak nafsu makan, berat badan pun terus menurun.


Tak disangka, setelah pemeriksaan medis, Ulfa didiagnosis menderita tuberkulosis resisten obat (TBC RO). Ulfa menduga dia tertular setelah bertemu pria yang terus mengeluarkan batuk di kereta.

"Penularannya paling mungkin itu di kereta, ada yang batuk-batuk cukup lama dan dari situ aku mulai drop," kata Ulfa saat bercerita kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Apa lacur, Ulfa mesti menjalani pengobatan TBC RO yang lebih rumit dan panjang dari TBC 1. Ulfa harus mengonsumsi obat injeksi selama delapan bulan. Selain itu, Ulfa juga harus menelan obat cair selama dua tahun dan tak boleh sekali pun berhenti. Pada tahun 2018, ia baru dinyatakan sembuh.

Kisah Ulfa yang tertular di transportasi umum hanya satu dari banyak kasus penularan TBC. Berdasarkan Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan (Infodatin) 2018, jumlah kasus baru TBC di Indonesia mencapai 420 ribu kasus pada 2017.

Angkutan umum tertutup menjadi area rawan penularan TBC.Angkutan umum tertutup menjadi area rawan penularan TBC. (CNN Indonesia/Tiara Sutari)

Tak ada yang dapat memastikan di mana penularan itu terjadi. Namun, dalam banyak referensi akademik, transportasi umum merupakan salah satu tempat paling rentan terjadinya tular menular bakteri Mycrobacterium tuberculosis penyebab TBC.

Sejumlah penelitian telah dilakukan terkait penularan TBC di transportasi umum. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan di Lima, Peru, yang diterbitkan dalam jurnal PLoS One. Studi yang dilakukan di distrik terpadat dan tersibuk di Lima, San Juan de Lurigancho, menemukan sebanyak 53 persen penularan TBC terjadi di transportasi umum.

Ahli paru-paru, dr Fathiyah Isbaniah tak menampik hal tersebut. Penularan TBC, kata dia, paling sering terjadi di kawasan padat yang lembap dan tidak memiliki sirkulasi udara yang baik. Transportasi umum merupakan salah satunya.

Di kota-kota besar termasuk Jakarta, transportasi umum seperti KRL, MRT, bus, bahkan pesawat dirancang memiliki sistem sirkulasi yang tertutup dengan pendingin ruangan demi alasan kenyamanan. Bakteri TBC dapat hidup di tempat seperti ini.


Untuk diketahui, bakteri TBC hanya bisa mati jika terkena cahaya matahari langsung. Oleh karena itu, ribuan orang yang berada di transportasi massal ini berpotensi terkena TBC.

Fathiyah mengatakan, penularan yang terjadi di transportasi umum terjadi lantaran minimnya pertukaran udara. Penularan terjadi dari dahak yang keluar saat seseorang batuk di udara. "Kalau ada banyak orang seperti di kereta yang berdesak-desakan, bisa jadi tertular," ujar Fathiyah.

Semua orang yang terpapar dahak berisiko tertular penyakit. Namun, hanya orang dengan sistem imun yang kuat yang dapat melawan bakteri tersebut. Artinya, dalam kondisi kekebalan tubuh yang menurun, seseorang mudah tertular.

Tengok saja kisah Ulfa. Saat menaiki kereta 'petaka' itu, kondisi tubuhnya tengah melemah dengan sistem imun yang rendah. Saat itu, Ulfa sedang tak begitu enak badan.

Angkutan umum tertutup menjadi area rawan penularan TBC.Angkutan umum tertutup menjadi area rawan penularan TBC. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Buah simalakama

Jakarta adalah kawasan padat penduduk. Di dalamnya ada jutaan orang yang hilir mudik berpindah dari satu transportasi umum ke transportasi umum lainnya.

Pada tahun 2019, tercatat rata-rata sebanyak 663 ribu orang menaiki busway. Ditambah rata-rata sebanyak hampir 1 juta penumpang hilir mudik menggunakan commuter line. Bukan hal yang tak mungkin jika penularan TBC terjadi di sana.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, Wiendra Waworuntu menjelaskan, pencegahan penularan TBC di transportasi umum ibarat buah simalakama. Pasalnya, transportasi umum memiliki peraturan dan ketentuan tersendiri dalam operasional mereka.


"Artinya buah simalakama juga, pasti kebijakan transportasi itu tertutup karena pakai AC. Kalau di mobil pribadi bisa dibuka. Sementara kalau pakai AC, kemungkinan kuman tertular lebih cepat, mereka lebih suka lembap," tutur Wiendra.

Sejauh ini, pencegahan yang dapat dilakukan Kemenkes hanyalah mengedukasi pengguna kendaraan umum untuk selalu menggunakan masker, terutama bagi orang yang sedang sakit.

Pencegahan yang dapat dilakukan Kemenkes adalah mengedukasi pengguna kendaraan umum untuk selalu menggunakan masker, terutama orang yang sedang sakit.

Wiendra menjelaskan, Kemenkes sudah menyosialiasikan etika batuk bagi orang yang sakit untuk selalu memakai masker atau batuk dengan menutup dengan sapu tangan.

"Menggunakan masker merupakan salah satu pencegahan terutama dari orang yang sakit. Prinsipnya, 'kalau saya batuk, maka saya harus pakai masker,' sekalipun belum TBC," ujar Wiendra.

[Gambas:Video CNN] (ptj/asr)