Mengenal 4 Jenis Bedah Bariatrik Pasien Obesitas

Tim, CNN Indonesia | Senin, 25/03/2019 19:02 WIB
Mengenal 4 Jenis Bedah Bariatrik Pasien Obesitas Ilustrasi (Istockphoto/gorodenkoff)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bedah bariatrik kerap jadi solusi untuk menurunkan risiko kemunculan penyakit yang disebabkan obesitas.

Pada dasarnya, bedah bariatrik adalah prosedur modifikasi saluran pencernaan. Cara kerjanya menggunakan prinsip restrictive atau menyulitkan makanan yang lewat dan malabsorpsi atawa mencegah terserapnya makanan.

"Teknik bedah bisa menganut salah satu prinsip atau keduanya," ujar ahli bedah digestif, dr Peter Ian Limas saat temu media bersama RS Pondok Indah di Hotel Mulia, Jakarta, medio pekan lalu.


Ada beberapa jenis bedah bariatrik yang kerap dipilih pasien obesitas. Di antaranya adalah gastric bypass, sleeve gastrectomy, mini gastric bypass, dan adjustable gastric banding.


1. Sleeve gastrectomy
Sleeve gastrectomy menjadi salah satu teknik bedah paling mudah. Sebanyak 85 persen lambung pasien akan dipotong dan disisakan sebanyak 15 persen atau seukuran jari kelingking. Teknik ini, kata Peter, bisa diaplikasikan pada pasien obesitas yang tidak terlalu berat.

Penurunan berat badan akan cukup drastis, yakni 5 persen lebih banyak daripada teknik lain. Sleeve gastrectomy pun bisa menumbuhkan pola hidup yang baik pada pasien. Dengan ukuran perut yang kecil, otomatis pasien akan cepat merasa kenyang dan sekaligus menurunkan porsi makan secara drastis.

Akan tetapi, naiknya asam lambung ke area esofagus hingga kerongkongan menjadi risiko teknik bedah bariatrik satu ini. "Asam lambung bisa naik lalu timbul heartburn," imbuh Peter.

2. Gastric bypass
Dari namanya, teknik ini bertujuan membuat jalan pintas atau bypass untuk makanan.

Berbeda dengan sleeve gastrectomy, gastric bypass hanya memotong lambung paling sedikit 15 cc pada bagian atas untuk kemudian dibuat 'jalan pintas' hingga makanan tidak melewati sebagian usus.


Teknik ini menerapkan salah satu prinsip yakni malabsorpsi. Makanan tidak melewati sebagian usus sehingga penyerapan kalori tidak sempurna atau berkurang. Gastric bypass juga cukup banyak diaplikasikan pada pasien obesitas.

Meski demikian, prosedur ini terbilang lebih rumit. Peter mengatakan, pasien yang menjalani prosedur ini harus benar-benar mengontrol konsumsi makanan bergula.

"Kalau Anda suka manis dan bisa membatasi diri, oke bisa (gastric bypass). Karena kalau terlalu banyak konsumsi makanan manis bisa terkena dumping syndrome," jelas Peter.

Dumping syndrome sendiri merupakan gangguan pencernaan akibat konsumsi makanan manis berlebih yang membuat perut terasa sakit. Rasa sakit itu memancing pengeluaran cairan, termasuk insulin.

3. Mini gastric bypass
Teknik ini merupakan gabungan dari kedua teknik sebelumnya. Menganut dua prinsip pembedahan, pemotongan lambung akan lebih panjang dari gastric bypass namun tak lebih panjang daripada sleeve gastrectomy.

"Tindakan minimal, hanya satu sambungan sehingga risiko kecil," imbuh Peter.

4. Adjustable gastric bading
Teknik terakhir ini tak banyak memotong atau memodifikasi usus. Teknik ini mengaplikasikan cincin untuk mengikat bagian atas lambung. Kekuatan ikatan cincin bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Jika berat badan sudah mencapai target, cincin bisa dibuka.

Namun, bukan berarti teknik ini hadir tanpa risiko. Jika pasien tak mematuhi saran dokter, makanan bisa tersangkut karena tak berhasil melewati cincin.

"Teknik ini sangat berhasil di Australia. Jika Anda yakin bisa jaga diri, akses ke dokter gampang, maka teknik ini bisa baik, berhasil," pungkas Peter.

[Gambas:Video CNN] (els/asr)