Imunoterapi, Pengobatan Baru untuk Kanker Paru

CNN Indonesia | Selasa, 12/03/2019 10:58 WIB
Imunoterapi, Pengobatan Baru untuk Kanker Paru ilustrasi kanker (PDPics/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kanker paru merupakan kanker yang paling mematikan di Indonesia dan dunia. Insiden dan tingkat mortalitas kanker paru terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Dunia medis kini menawarkan pengobatan terbaru kanker paru dengan imunoterapi. Pengobatan ini memberdayakan sel-sel imun agar aktif melawan sel kanker.

Pada orang dengan kanker, sel kanker mampu mengelabui sel imun sehingga dapat berkembang dengan pesat menyerang tubuh. Sistem imun dibuat tak berdaya melawan sel kanker. Namun, dengan imunoterapi, sistem imun dirangsang untuk melawan kanker.


"Kanker ini sangat pintar. Ia memiliki kemampuan untuk lari dari radar sistem imun tubuh sehingga sering tidak terdeteksi oleh sistem imun. Konsep imunoterapi adalah membuat sel-sel imun tubuh kembali mampu mengenali sel kanker dan menjadi aktif menyerangnya," kata ahli paru dr Sita Andarini dalam Forum Ngobras, Jakarta, Kamis (28/2).

Pengobatan imunoterapi ini terbukti lebih ampuh menangani kanker paru dibandingkan pengobatan jenis lain.

Penelitian internasional menunjukkan, pasien kanker paru yang belum pernah diberi terapi apapun lalu diberikan imunoterapi, memiliki respons terapi yang lebih baik. Respons itu ditandai dengan perkembangan tumor yang dapat dihentikan dan harapan hidup yang lebih panjang.

Pasien yang mendapatkan imunoterapi memiliki masa hidup lebih panjang dan bebas penyakit kanker lebih lama dibandingkan pasien yang mendapatkan kemoterapi saja.

Imunoterapi yang sudah disetujui untuk kanker paru adalah pembrolizumab atau anti PD-L1. Terapi ini hanya dapat diberikan pada pasien kanker paru stadium 3B dan 4 yang sel-sel tumornya menunjukkan PD-L1 lebih dari 50 persen yang diketahui berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium. Penelitian menunjukkan sepertiga dari penderita kanker paru memiliki PD-L1.

Anti PD-L1 membuat pasien mengalami masa tumor tidak berkembang selama 10 bulan, lebih lama ketimbang kemoterapi selama 6 bulan.

"Masa 10 bulan terbebas dari gejala ini nampaknya tidak bermakna, tetapi bagi pasien akan sangat bermakna. Imunoterapi sangat memberikan harapan pasien, karena angka harapan hidup jadi lebih panjang dibandingkan yang hanya mendapatkan kemoterapi," tutur Sita.

Pemberian obat imunoterapi ini mesti diikuti dalam kurun waktu dua tahun dengan pantauan dan evaluasi dari dokter.

Kelemahan imunoterapi sejauh ini adalah membutuhkan pengujian PD-L1 yang tak bisa di laboratorium biasa dan biaya pengobatan yang mahal dan belum ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

Pemeriksaan PD-L1 di Indonesia saat ini baru bisa dilakukan di FK UGM Yogyakarta, RS Dharmais, dan beberapa instansi swasta. Sementara, RSCM kini tengah melakukan optimalisasi alat.

Selain imunoterapi, kanker paru juga dapat diobati dengan bedah, kemoterapi, radioterapi, dan terapi bertarget. Pilihan pengobatan ini ditentukan oleh dokter berdasarkan diagnosis jenis kanker dan stadium kanker yang sangat personal.

Data global dari Globocan 2018 menunjukkan, tiap tahunnya terdapat 2 juta kasus kanker paru baru, dengan kematian mencapai 1,8 juta. Di Indonesia, 40 per 100 ribu orang berisiko terkena kanker paru, terutama pria berusia di atas 40 tahun dan perokok aktif. (ptj/asr)