Lontong Cap Go Meh, Usaha 'Merayu' Para Dewa dengan Sajian

CNN Indonesia | Rabu, 20/02/2019 00:04 WIB
Lontong Cap Go Meh, Usaha 'Merayu' Para Dewa dengan Sajian Sajian lontong Cap Go Meh. (Foto: Istockphoto/MielPhotos2008)
Jakarta, CNN Indonesia -- Semangkuk sajian lontong Cap Go Meh punya banyak cerita. Kisahnya berkisar soal perpaduan budaya China dan Jawa.

Tak seperti di China, kebanyakan orang Tionghoa di Indonesia tinggal di kawasan-kawasan perkampungan. Mereka hidup berdampingan dengan tetangga beda etnis.

Tak ayal, kondisi sedemikian rupa membuat asimilasi kebiasaan antara orang-orang Tionghoa dan etnis tetangga pun tercipta.


Asimilasi ini terjadi pada berbagai lini. Dalam kuliner, misalnya, kita mengenal lontong Cap Go Meh. Makanan khas setiap perayaan Cap Go Meh ini terpengaruh oleh tradisi kupatan masyarakat Jawa yang dilakukan untuk menyemarakkan perayaan Idul Fitri.

Dalam tradisi ini, masyarakat berkumpul dan berdoa di masjid untuk memohon keselamatan. Hidangan pun didominasi oleh ketupat.

Ketupat merupakan sajian berupa anyaman janur kelapa berbentuk persegi dan diisi beras. Ketupat biasa disantap bersama dengan opor ayam dan pelengkap lain.

Melihat kebiasaan itu, warga Tionghoa pun menggunakannya sebagai ide untuk hantaran perayaan Cap Go Meh. Apalagi sajian seperti ini tidak mengandung babi.

"Mereka pun punya akal. Ketupat dibikin lonjong, dan dipotong sehingga membentuk lingkaran lambang bulan purnama," kata Budayawan Jongkie Tio pada CNNIndonesia.com, Selasa (19/2).

Tapi, ada syarat lain yang perlu dipenuhi supaya sahih. Sajian harus menyertakan bubuk kedelai, docang (parutan kelapa dan kedelai yang dikukus), dan abing (parutan kelapa yang dimaniskan).

"Kedelai itu multifungsi, harapannya bisa bawa rezeki. Kelapa, kan, putih, melambangkan kesucian. Harapannya hidup akan serba baik," ujar Jongkie.


Makanan-makanan Cap Go Meh


Selain lontong Cap Go Meh, penutup tahun baru Imlek pun diisi dengan sajian wedang ronde. Sajian satu ini, kata dia, selalu hadir dalam perayaan apapun yang berkaitan dengan budaya Tionghoa. Bagi orang Tionghoa, wedang ronde merupakan makanan para dewa.

Alkisah, China menyambut musim dingin pada September - Desember. Wedang ronde jadi solusi masyarakat China agar tubuh tetap hangat sekaligus sebagai doa untuk para dewa.

Wedang ronde dalam perayaan semacam ini mengandung tiga unsur. Ketiganya adalah hijau yang melambangkan harapan, merah perlambang keberuntungan, dan bulat lambang persatuan. Semuanya musti terbuat dari unsur tanaman.

Di samping itu, ada satu lagi yang tak boleh terlewat. Itu adalah kue keranjang. Kue ini, kata Jongkie, mewarnai seluruh rangkaian Imlek.

"Kue keranjang bisa tahan lama bahkan sampai setahun. Rasanya manis dan lengket, artinya manusia hendaknya bersatu dengan sekelilingnya," pungkas Jongkie.

[Gambas:Video CNN] (asr/asr)