Menyambangi Lima Monumen Penting di Taman Wilhelmina

ANTARA, CNN Indonesia | Senin, 18/02/2019 13:51 WIB
Menyambangi Lima Monumen Penting di Taman Wilhelmina Ilustrasi. (Foto: ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wilhelmina Park, sebuah taman yang terletak di depan Alun-alun Taman Merdeka Kota Pangkal Pinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, merupakan salah satu objek wisata di tengah kota yang menjadi idola para wisatawan, khususnya nusantara.

Suasana yang asri dengan banyaknya pepohonan dan monumen sejarah itu, menimbulkan ketertarikan warga untuk bermain atau bersantai. Tak hanya itu Wilhelmina Park juga menyimpan monumen terkait sejarah pulau Bangka, termasuk sejarah tokoh daerah dalam memperjuangkan kemerdekaan RI.

Mengutip Antara, Senin (18/2), berikut adalah lima monumen bersejarah yang ada di Taman Wilhelmina.


Monumen nilai strategis Pangkal Pinang

Monumen nilai strategis Pangkal Pinang, bercerita tentang ibu kota Keresidenen Bangka dipindahkan dari Muntok di Bangka Barat ke Pangkal Pinang pada tahun 1913.

Proses pemindahan tersebut juga menjadi pemisahan administrasi pemerintahan kolonia (bestuur) dengan pengelolaan pertambangan melalui pendirian organisasi Banka Tin Winning Bedryf (BTW).

Perubahan ibu kota keresidenan tersebut juga ditandai dengan pergantian Residen Bangka dari RJ Boers kepad AJN Engelenberg.


Monumen perjuangan Depati Amir

Depati Amir merupakan pejuang yang tangguh dan berbahaya di Pangkal Pinang. Pria yang lahir pada tahun 1805 ini merupakan putera sulung Depati Bahrin, yang pada tahun 1830 dipercaya jadi "depati" atau pejabat setingkat bupati di Bangka.

Meski menjadi anak seorang pejabat, tetapi Depati Amir tidak mau tinggal diam sehingga memimpin masyarakat Bangka untuk melawan penjajahan Belanda.

Perlawanan Depati Amir dan masyarakat Bangka menyebabkan Belanda mengumumkan perang dan menyatakan bangka sebagai wilayah darurat militer (staat van beleg).

Monumen perjuangan Bung Hatta

Pada 22 Desember 1948, Bung Hatta sebagai Wakil Presiden RI diasingkan ke Pulau Bangka bersama RS Soerjadarma (Kepala Staf Angkatan Udara), Mr Assaat (Ketua KNIP), dan Mr AG Pringgodigdo (Sekretaris Negara).

Seluruh pendiri bangsa yang diasingkan ke Pulau Bangka itu sering disebut "Kelompok Bangka" (Trace Bangka).

Melalui diplomasi yang gigih dan dimediasi United Nations Comission for Indonesia (UNCI), Trace Bangka, lahirlah Perjanjian Roem Royen (Roem Royen Statement pada 7 Mei 1949.

Monumen Pangkal Pinang Pangkal Kemenangan

Sebelum berangkat ke Yogyakarta, Bung Karno yang juga ikut diungsikan ke Pulau Bangka mengadakan pertemuan untuk berpamitan dengan masyarakat di salah satu tempat yang berada di depan Masjid Almuhajirin, Kota Pangkal Pinang pada 6 Juli 1949.

Di hadapan masyarakat Bangka, Bung Karno menyampaikan pidato dan kalimat yang mengesankan yakni "Dari Pangkal Pinang, pangkal kemenangan bagi perjuangan".

Monumen Konferensi Pangkal Pinang

Monumen yang terletak di Panti Wangka ini, dulu sering disebut "Societet Concordia" atau "de Harmonie" pada 1-12 Oktober 1946.

Belanda memilih Pangkal Pinang sebagai lokasi konferensi tersebut karena ingin menjadikan daerah-daerah yang ada di luar Pulau Jawa dan Pulau Sumatera sebagai basis kekuatannya.

Konferensi yang diikuti 80 delegasi tersebut dimaksudkan untuk menyatukan pendapat dari berbagai golongan minoritas seperti Eropa, Arab, China, dan India.

Namun pecinta kemerdekaan menolak dan menentang konferensi itu karena dinilai sebagai strategi Van Mook, Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan Pemimpin NICA, untuk membentuk negara federal Bangka Belitung dan Riau dalam Republik Indonesia Serikat sebagai Uni Indonesia-Belanda.

[Gambas:Video CNN] (agr)