SURAT DARI RANTAU

Perpustakaan Rasa Mal di Swedia

Ahmad Satria Budiman, CNN Indonesia | Sabtu, 16/02/2019 12:22 WIB
Perpustakaan Rasa Mal di Swedia Perpustakaan umum di Stockholm, Swedia. (Istockphoto/mustafacan)
Stockholm, CNN Indonesia -- Ketika tinggal di Palembang dan Yogyakarta, salah satu tempat yang saya biasa kunjungi untuk mengisi waktu luang adalah perpustakaan kota.

Saya dulu kalau ke perpustakaan, tidak sebatas membaca majalah atau meminjam buku, tetapi juga beraktivitas lain, di antaranya menulis artikel atau menyusun aplikasi beasiswa.

Kebiasaan tersebut masih saya lakukan setelah tinggal di Stockholm. Di sini, perpustakaan merupakan fasilitas publik yang sangat mudah diakses dan begitu banyak jumlahnya.


Perpustakaan dalam bahasa Swedia dikenal dengan beberapa nama; "bibliotek", "biblioteket", atau "stadsbibliotek". Pada intinya maknanya sama.

Perpustakaan paling besar yang juga menjadi ikon adalah Stockholms Stadsbibliotek atau Perpustakaan Kota Stockholm.

Menurut data di website, terdapat 51 perpustakaan yang tersebar di berbagai wilayah di Stockholm, termasuk Stockholms Stadsbibliotek itu sendiri. Dan itu belum termasuk perpustakaan nasional, kampus, dan perpustakaan di beberapa museum. Jumlah yang relatif banyak untuk kota dengan kurang lebih 2,3 juta penduduk.

Sebagian besar perpustakaan kota tersebut berlokasi tidak jauh dari stasiun metro (kereta), sehingga memang mudah diakses oleh siapa saja. Di peta kawasan yang tercantum di ruang publik juga tertera titik lokasinya.

Jadi tak ada lagi alasan malas ke perpustakaan karena tak tahu di mana lokasinya, tarif parkirnya mahal, atau fasilitasnya tak semodern mal.

Semua perpustakaan terintegrasi satu sama lain.

Jika meminjam buku di satu lokasi, kita bisa mengembalikan di lokasi lain. Misalnya, kita bisa meminjam buku dari perpustakaan di daerah Kista dan mengembalikannya di daerah Solna.

[Gambas:Instagram]

Durasi peminjaman buku juga relatif lama, yaitu empat minggu. Bahkan saat musim panas bisa sampai 6 minggu!

Kalau terlambat mengembalikan, dikenakan denda sebesar 10 krona (sekitar Rp16 ribu) per buku, tapi masa iya, sudah sebegitu lama, masih terlambat juga, hehe.

Jumlah buku yang maksimal bisa dipinjam pun relatif banyak, yaitu mencapai 50 item per satu kali peminjaman. Banyaknya jumlah peminjaman buku tersebut dikarenakan minat baca masyarakat di Swedia yang memang tinggi sekali.

Untuk peminjaman dan pengembalian buku, dilakukan secara self service dengan komputer khusus. Pengunjung tinggal melakukan pemindaian kartu perpustakaan, mengetik kata kunci akun pelanggan perpustakaan, lalu meletakkan buku yang akan dipinjam atau dikembalikan di meja, lalu nanti muncul pemberitahuan.

Jika bingung untuk menggunakannya banyak petugas yang siap membantu dengan senang hati dan ramah.

Dan yang menarik memiliki kartu perpustakaan di Swedia tidak dipungut biaya alias gratis. Prosesnya cepat, mudah, dan bisa dilakukan secara online dari mana saja. Jadi nanti mengambil kartunya saja yang harus dilakukan di perpustakaan. Satu kartu bisa dipakai di semua perpustakaan kota.

Untuk koleksi buku, pengunjung bisa mengeceknya di situs resmi perpustakaan. Nanti dari sana pengunjung bisa tahu buku yang pengunjung cari posisinya sedang berada di perpustakaan yang mana. Dan seperti diceritakan di awal, pengunjung bisa meminjam dan mengembalikan di perpustakaan manapun.

Pengunjung juga bisa pesan buku yang mau dipinjam. Jadi nanti ketika datang ke perpustakaan, pengunjung tinggal bilang kepada petugasnya untuk mengambil buku yang dipesan.

Perpustakaan Umum Rasa Mal di Swedia Koleksi buku di Perpustakaan Stockholm, Swedia. (Istockphoto/mustafacan)

Menurut saya koleksi buku di sini lengkap sekali. Mulai dari fiksi, sains, biografi, sosial, geografi, budaya, psikologi, agama, sampai buku bacaan anak juga tersedia.

Buku-buku yang dimaksud adalah buku-buku populer. Kalau buku-buku yang lebih spesifik, seperti buku untuk bahan tugas-tugas kampus, tentu mencarinya di perpustakaan kampus.

Kebanyakan buku memang ditulis dalam Bahasa Swedia. Tetapi disediakan juga buku dalam bahasa lain, seperti Arab, Mandarin, Bengali, Urdu, Perancis, dan Yunani.

Buku-buku dalam bahasa Indonesia juga ada, lokasinya di Internationella Biblioteket atau Perpustakaan Internasional. Tertulis di rak bukunya "Indonesiska" atau Bahasa Indonesia.

Contoh bukunya kebanyakan buku fiksi, antara lain karangan Andrea Hirata, Eka Kurniawan, Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Fuadi, Mira Widjaja, dan lain-lain. Buku nonfiksi juga ada. Ada pula buku bacaan berbahasa Indonesia untuk anak-anak, seperti dongeng dan fabel.

Oh iya, di samping segala hal tentang buku, perpustakaan kota di Stockholm juga dilengkapi area khusus untuk membaca surat kabar atau koran, baik edisi cetak maupun format digital. Surat kabar ini juga beragam bahasa, namun kalau koran, tidak ada yang berbahasa Indonesia.

Fasilitas lain yang disediakan adalah film atau musik dalam bentuk CD yang bisa dipinjam, ruang belajar, ruang komputer, dan kafe.

Desain setiap perpustakaan juga beda-beda, dalam arti desain yang artistik dan dinamis, seperti penataan rak buku, ornamen ruangan, perpaduan warna, jenis kursi, dan lain-lain.

Jadi kalau sedang ada tugas kampus atau perlu melakukan hal-hal lain yang butuh fokus, ketenangan, dan pergantian suasana, saya terkadang melakukannya di perpustakaan kota.

Jam buka perpustakaan tidak sama antara satu lokasi dan lokasi lain, namun pada umumnya mulai dari jam sepuluh pagi sampai dengan jam sembilan malam. Jam buka tersebut benar-benar tepat waktu. Setengah jam sebelum tutup, selalu ada pemberitahuan.

Perlu diketahui, biaya pajak di Swedia relatif tinggi. Sebagai contoh, biaya pajak penghasilan pribadi mencapai 30 sampai 50 persen. Akan tetapi, pengelolaan pajak kembali lagi ke masyarakat, salah satunya adalah fasilitas publik berupa perpustakaan kota.

Dengan mengatur perpustakaan sedemikian rupa, tentu masyarakat jadi betah berkunjung ke perpustakaan yang secara tak langsung ikut meningkatkan minat dan budaya literasi.

Saya terkadang melihat orang tua membawa anaknya, menemani sang anak di area khusus bacaan anak-anak. Sejak kecil, mereka sudah dikenalkan pentingnya budaya membaca.

Di antara segala kemudahan yang ada, hanya satu yang kurang dari semua perpustakaan kota di Stockholm, yaitu belum adanya mushola atau tempat untuk menunaikan shalat, sehingga bagi yang muslim harus ke masjid terdekat dulu untuk menunaikan shalat jika waktu beribadah telah tiba.

---

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com / ike.agestu@cnnindonesia.com / vetricia.wizach@cnnindonesia.com

(ard)