Turis Milenial, Tantangan Baru Industri Pariwisata Indonesia

CNN Indonesia | Senin, 11/02/2019 19:42 WIB
Turis Milenial, Tantangan Baru Industri Pariwisata Indonesia Wisatawan mancanegara berlatih selancar di Pantai Kuta, Bali. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Salah satu usaha mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) pada tahun depan, Kementerian Pariwisata akan lebih fokus menggarap segmen pasar dari generasi milenial.

Pasalnya, sebanyak 50 persen wisman yang datang ke Indonesia berasal dari generasi milenial.

"Kami harus berterus terang, kami baru mulai fokus menggarap generasi milenial ini. Negara lain juga baru, jadi jangan khawatir," ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya di sela Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia IV di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta (11/2).


Sektor pariwisata, lanjut Arif, memfasilitasi kecenderungan turis milenial yang gemar menerapkan prinsip berbagi. Dalam hal ini, untuk merasakan sesuatu tidak harus memiliki tetapi bisa menyewa.

Terlebih, turis milenial lebih senang untuk menikmati suatu pengalaman baru.

"Kenapa pariwisata tumbuh dengan pesat? karena sebagian besar pengeluaran anak-anak milenial dihabiskan untuk hal-hal yang terkait dengan pengalaman," ujarnya.

Hal itu tak lepas dari kebutuhan generasi milenial untuk diakui. Tak ayal, generasi yang melek digital ini gemar melakukan swafoto, terutama di daerah yang belum pernah dikunjungi oleh orang lain.

Kompetisi membuat iklan pariwisata menjadi salah satu strategi Kemenpar mengerek jumlah turis milenial pada tahun ini.

Kompetisi ini berlangsung pada 7 - 21 Februari 2019 dengan hadiah total Rp100 juta. Pemenangnya dipilih berdasarkan suara terbanyak dari generasi milenial.

Pengalaman, bukan cuma kenyamanan

Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani juga menangkap potensi dari generasi milenial. Tak ayal, bisnis akomodasi melakukan penyesuaian untuk bisa menangkap selera mereka.

Hariyadi mencermati turis milenial merupakan generasi yang tidak bisa lepas dari internet. Untuk itu, setiap hotel dan penginapan kini telah dilengkapi dengan layanan WiFi gratis.

"WiFi  yang memiliki sinyal yang kuat harus ada," ujar Hariyadi.

Selain itu, turis milenial lebih memilih tempat menginap yang tak pasaran, unik dan bagus jika dipamerkan di foto. Untuk itu, pelaku industri perhotelan juga bersaing untuk bisa menyediakan layanan akomodasi yang bisa memenuhi selera tersebut.

Hotel sebenarnya diuntungkan. Mengingat bermain di konsep yang tidak pasaran, investasinya bisa jadi tidak sebesar hotel konvensional yang biasanya menawarkan kemewahan atau tingkat kenyamanan tertentu.

Hotel juga melakukan diversifikasi lini bisnis. Misalnya, kini beberapa jaringan hotel memperluas bisnisnya ke lini hotel murah (budget hotel).

"Misalnya hotel kapsul, generasi saya sih tidak mau menginap di hotel seperti itu, tetapi generasi milenial sih senang-senang saja menginap di hotel seperti itu," ujarnya.

Selain itu, hotel juga berlomba-lomba menggelar kegiatan yang bisa menawarkan pengalaman menarik bagi tamu dari generasi milenial.

Sebagai contoh, sebuah resort di tepi pantai menggelar acara memasak makanan tradisional atau menghias kain tradisional.

"Intinya, generasi milenial lebih mengedepankan pengalaman. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih mengedepankan kenyamanan," ujarnya.

(sfr/ard)