Ekonomi Lemah, Turis Tiongkok Pilih Liburan Imlek di Asia

REUTERS, CNN Indonesia | Senin, 04/02/2019 20:03 WIB
Ekonomi Lemah, Turis Tiongkok Pilih Liburan Imlek di Asia Suasana persiapan Imlek di Hong Kong. (CNN Indonesia/Safyra Primadhyta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) dan perlambatan ekonomi membuat tak sedikit turis Tiongkok yang memilih menghabiskan liburan Tahun Baru China atau Imlek ke destinasi yang lebih dekat seperti Bangkok dibanding ke Sydney atau San Francisco.

Musim libur selama seminggu yang tahun ini jatuh pada minggu pertama di bulan Februari adalah salah satu musim libur terpanjang di China.

Lebih dari 400 juta orang diperkirakan akan melakukan perjalanan ke seluruh negeri untuk reuni keluarga, menurut agen perjalanan China Ctrip. Diperkirakan juga lebih dari 7 juta orang akan ke luar negeri.


Hotel-hotel dan agen-agen perjalanan di negara-negara Asia, mulai dari Thailand hingga Jepang, mengantisipasi kenaikan jumlah wisatawan asal Tiongkok dari tahun lalu.

Namun jumlah yang pergi ke AS, Australia dan Selandia Baru diperkirakan turun atau hanya menunjukkan peningkatan kecil.

"Kami melihat pertumbuhan mulai melambat sedikit dan pengeluaran per orang, terutama untuk belanja, menurun," kata Hunter Williams dari Oliver Wyman, perusahaan konsultan asal AS.

Williams juga mengatakan bahwa pengeluaran rata-rata turis Tiongkok untuk belanja luar negeri setahun yang lalu adalah 5.800 yuan ($855), lebih kecil dibandingkan dengan Imlek tahun 2016 yakni sebesar 8.000 yuan.

Sepanjang tahun lalu perekonomian China tercatat tumbuh pada tingkat paling lambat dalam hampir tiga dekade, dan para ekonom memperkirakan penurunan lebih lanjut tahun ini, sebagian diakibatkan melemahnya belanja konsumen.

He Yanping (26) yang bekerja di bidang periklanan di Beijing, memilih tak liburan ke benua Eropa atau Amerika pada Imlek tahun ini.

Ia lebih memilih liburan ke ke Malaysia selama 11 hari yang ia perkirakan akan menelan biaya antara 8.000 hingga 10.000 yuan.

"Saya sebenarnya ingin pergi ke Australia tetapi masalahnya terlalu jauh, dan biaya hotel serta visa yang mahal," katanya.

Bali Siap Terima Turis Imlek

Ctrip mengatakan tujuan liburan Imlek paling populer adalah Thailand, Jepang, Indonesia dan Singapura, semuanya bisa dijangkau dalam tujuh jam penerbangan dari Beijing atau Shanghai.

Kedatangan turis dari daratan China untuk liburan Imlek tahun ini terbilang ramai, kata Ida Bagus Agung Partha Adnyana, ketua Dewan Pariwisata Bali.

"Kami optimis bahwa pemesanan akan setidaknya sama (seperti 2018)," katanya.

Asosiasi Hotel Thailand mengatakan pemesanan dari China, yang tercatat menurun setelah 47 wisatawan Tiongkok meninggal dalam kecelakaan kapal tenggelam di Phuket pada Juli, saat ini telah berangsur normal.

Perjalanan keluar Tiongkok ke AS mengalami perlambatan yang signifikan sejak ketegangan perdagangan antara Beijing dan Washington mulai meningkat.

Pada Juli-September, kedatangan turis asal Tiongkok turun 20 persen dari tahun sebelumnya, menurut Lembaga Penelitian Pariwisata China, yang menganalisis data perjalanan Tiongkok.

"Untuk setiap warga negara, menjadi jelas bahwa saat ini tidak tepat secara politis untuk melakukan perjalanan ke AS, terutama untuk liburan," kata juru bicara lembaga itu.

Prospek untuk Australia dan Selandia Baru, yang sebelumnya populer sebagai destinasi wisata turis Tiongkok, juga kurang cerah.

Pada bulan November, kedatangan turis Tiongkok di Selandia Baru tercatat 4,4 persen di bawah tahun sebelumnya, dan di Australia hanya 1,6 persen lebih tinggi.

Air New Zealand pada hari Rabu (30/1) telah memperkirakan bahwa tingkat keterisian bangku dari daratan China bakal menurun pada tahun ini.

Du Ge, seorang direktur penjualan di Beijing Xinjie International Travel Service yang mengorganisir tur ke Selandia Baru dan Australia, mengatakan pemesanan menjelang libur Imlek masih lemah, yang dikaitkannya dengan iklim ekonomi.

"Tiga atau empat tahun lalu, kita bisa memiliki lebih dari 3.000 pemesanan. Sekarang, mungkin 1.000," katanya.

"Pariwisata dianggap sebuah kemewahan, sesuatu yang harus dimiliki setelah perut kenyang. Tetapi ketika pendapatan masyarakat turun, pariwisata akan terpengaruh."

[Gambas:Video CNN]

(ard)