AP II Akan Sulap Terminal 1 dan 2 Bandara Soetta Jadi LCCT

Kemenpar, CNN Indonesia | Rabu, 28/11/2018 18:11 WIB
AP II Akan Sulap Terminal 1 dan 2 Bandara Soetta Jadi LCCT Ilustrasi bandara Soekarno-Hatta. (Rengga Sancaya)
Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengapresiasi kemudahan aksesibilitas yang sedang dirancang PT Angkasa Pura II. Rencananya, AP II akan menyulap terminal 1 dan 2 Bandara Soekarno Hatta menjadi Low Cost Carrier Terminal (LCCT).

Terminal 1 dan 2 Soetta diperuntukkan bagi penerbangan domestik dan internasional. Konsep LCCT diyakini dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), serta mendukung realisasi target kunjungan 20 juta wisman pada 2019.

"LCCT jelas akan memberikan dampak signifikan bagi pariwisata Indonesia. Sebagai gambaran, penerbangan di Jepang tumbuh 55 persen saat sudah punya LCCT. Target saya Indonesia bisa mencapai 50 persen. Saat ini baru tumbuh 20 sebelum memiliki LCCT," kata Arief, dalam keterangan tertulis, Rabu (28/11/2018).


Dengan keberadaan terminal LCC, maskapai bisa memotong biaya operasional hingga 50 persen namun akan memiliki trafik yang meningkat dua kali lipat. Seperti diketahui, passenger service charge (PSC) Terminal 2 domestik Seokarno Hatta Rp85 ribu dan Terminal 2 internasional Seokarno Hatta Rp150 ribu.


"Masih banyak maskapai LCC pontensial yang belum terbang ke Indonesia. Jumlahnya sekitar 45 maskapai. Contohnya Indigo (India) Vietjet (Vietnam) yang tidak mau karena Airport charge-nya mahal. Hingga saat ini AirAsia sudah komitmen. Di manapun ada LCCT, AirAsia akan terbang," ujarnya.


Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin menjelaskan, saat ini terminal 1 dan 2 sedang direvitalisasi. Pada dasarnya, kedua terminal itu saat ini sudah mengusung low cost carrier. Namun, setelah revitalisasi kedua, terminal tersebut akan menjelma sepenuhnya menjadi terminal LCCT.

Proses revitalisasi ditargetkan selesai tiga tahun mendatang atau pada tahun 2021. Proses tersebut tergolong lama sebab kedua terminal masih tetap difungsikan meski sedang direvitalisasi.

"Selesai 2021. Tapi kalau implementasinya akan mulai dengan pendekatan tahun depan akan kita mulai," ungkap Awaluddin.

Ia menambahkan, revitalisasi juga akan meningkatkan daya tampung penumpang di terminal 1 dan 2. Dari kapasitas 9 juta penumpang di masing-masing terminal, menjadi 25 juta penumpang.

"Terminal 1 menjadi lebih luas desain konstruksinya 9 juta menjadi 25 juta. Terminal 2 juga sama," tuturnya.

Bukan hanya itu saja, nantinya terminal 2 akan terkoneksi seperti terminal 3. Di mana semua subterminal seperti 2D, 2F dan lain sebagainya akan terhubung tanpa ada pemisah.

Perbedaan mendasar terminal 1 dan 2 saat menjadi full terminal LCCT ada tiga. Pertama adalah seamless journey, yang diharapkan dapat menyedot penumpang wisatawan backpaker yang membawa barang sedikit saat bepergian. Hal ini karena antrean saat check in di LCCT akan dibedakan antara penumpang dengan bagasi dan nonbagasi.

Kedua adalah fast procesing time. Mesin check in mandiri akan diperbanyak sehingga penumpang dapat melakukan check in sendiri melalui mesin yang disediakan. Sementara itu counter check in manual akan dikurangi jumlahnya dalam rangka membuat lahan terminal menjadi semakin luas.

Terakhir adalah differentiated service atau pelayanan bagasi sendiri.

"Banyak milenial yang tidak suka antre dan ingin melayani diri sendiri agar cepat. Selain itu, Self boarding gate juga akan diterapkan, di mana pemeriksaan keamanan hanya akan menjadi satu tahap. Selanjutnya penumpang bisa langsung masuk ke gate hanya dengan memindai barcode yang terdapat di tiket pesawat," ujarnya.

Dengan adanya terminal LCCT, Awaluddin menyakini bisa menggenjot angka kunjungan wisman ke Indonesia.

"Kenapa kita perlu terminal yang dengan kategori LCCT? Karena yang memang kita akan dorong adalah pertumbuhan traffic pariwisata. Pariwisata sudah menjadi sektor dan akan menjadi core ekonomi baru," imbuh Awaluddin.

Saat ini, arus kedatangan wisatawan mancanegara ke Indonesia hampir seluruhnya melalui jalur udara. Pihaknya akan mengajak maskapai-maskapai low cost untuk masuk ke bandara tersibuk di Indonesia itu. Dengan demikian, pilihan penerbangan low cost akan semakin banyak.

"Kami akan menarik maskapai. Jadi kalau ini kemudian kita lanjutkan kegiatan revitalisasi terminalnya akan mengarah ke situ. Berarti saya sendiri akan roadshow ke maskapai," jelas Awaluddin. (mle/egp)