Panglima Laot Aceh Gemas dengan Kapal Pengangkut Batu Bara

ANTARA, CNN Indonesia | Senin, 30/07/2018 18:16 WIB
Panglima Laot Aceh Gemas dengan Kapal Pengangkut Batu Bara Ilustrasi. (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Keberadaan kapal tongkang pengangkut batu bara yang karam di perairan Kabupaten Aceh Besar mulai meresahkan masyarakat setempat.

Pasalnya angin kencang meniup muatan kapal sehingga isinya dikhawatirkan mencemari pantai yang selama ini menjadi lahan memancing nelayan dan objek wisata bahari.

Hal tersebut dikatakan oleh Panglima Laot (lembaga adat laut) Lhok Lampuuk Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Imran, seperti yang dikutip dari Antara pada Senin (30/7).


"Batu bara yang berasal dari kapal tongkang karam dan terbelah dua itu sudah mencemari kawasan laut Lhok Lampuuk," kata Imran.

"Kapal tongkang batu bara kini hanya berjarak sekitar 100 meter dari bibir pantai. Kapal tersebut membawa material untuk perusahaan penghasil semen PT Holcim yang ada di Kecamatan Lhoknga," lanjutnya.

Menurut Imran seharusnya perusahaan segera mengevakuasi kapal, sehingga materialnya tak semakin mencemari peraian.

Keterlambatan evakuasi dan kencangnya angin dikhawatirkan membuat pencemaran semakin parah dan melebar ke perairan lain.

"Dampak pencemaran lingkungan ini tidak hanya diresahkan oleh nelayan tapi juga pelaku usaha di kawasan wisata Pantai Lampuuk," kata Imran.

Ia menambahkan pihaknya akan menggelar rapat dengan para tokoh gampong (desa) serta pemukiman guna membicarakan persoalan ini.

"Kami akan segera berembuk untuk membicarakan terkait langkah-langkah yang akan ditempuh serta rekomendasi apa saja yang akan disampaikan ke perusahaan yang bertanggungjawab," kata Imran.

Tak hanya di Aceh, keberadaan kapal tongkang pengangkut pasir juga terlihat di perairan Nusa Dua, Bali.

Sejumlah warga dan pelaku usaha wisata di sekitar Nusa Dua mengaku khawatir jika kapal-kapal tongkang yang hilir mudik mencemari jernihnya pantai-pantai di sana.

Padahal kawasan Nusa Dua sudah dikenal memiliki garis pantai tercantik di Pulau Dewata.

"Kapal-kapal besar itu sering diusir nelayan jika dirasa sudah berlayar terlalu dekat dengan pantai, karena kami takut pantai jadi keruh dan mati," kata salah satu warga yang tak ingin disebutkan namanya.

(ard)