5 Pertanyaan Penting Sebelum Pindah ke Luar Negeri

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Selasa, 02/01/2018 18:15 WIB
5 Pertanyaan Penting Sebelum Pindah ke Luar Negeri Ilustrasi. (REUTERS/Albert Gea)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebagian besar yang sudah pernah merasakan tinggal di luar negeri sepakat mengatakan kalau Indonesia ialah negara terbaik untuk hidup. Cuaca cerah dan biaya murah menjadi beberapa alasannya, meski masalah kemacetan dan ketertiban masih belum juga tuntas.

Tak ada salahnya mencoba tinggal di luar negeri, minimal sekali seumur hidup. Bagi yang masih bersekolah bisa mencoba mencari beasiswa. Yang sudah bekerja bisa mencoba melamar di perusahaan asing.

Walau menawarkan banyak kesempatan, namun masalah hidup seperti keuangan atau urusan kantor tetap saja masih akan dirasakan saat tinggal di luar negeri.


Hanya saja, faktor kesejahteraan dan ketertiban—terutama di negara-negara Amerika atau Eropa, bukan lagi jadi masalah utama.

Sebelum angkat koper ke luar negeri, berikut ini ialah beberapa hal yang patut ditanyakan ke diri sendiri untuk menilai tingkat kesiapan memulai kehidupan baru di negeri orang, seperti yang dilansir dari Huffington Post:

1. Apakah saya siap menjelajah kawasan baru?

Tinggal di luar negeri berarti memulai kehidupan baru. Memulai kehidupan baru berarti melangkahkan kaki ke kawasan baru.

Jika tak memiliki perasaan gentar menjelajah kawasan baru untuk bertahan hidup—seperti mencari tempat makan atau berjalan ke stasiun kereta di hari bersalju, maka tinggal di luar negeri bisa jadi pengalaman hidup yang sangat seru untuk dijalani.

2. Apakah saya bisa bepergian seorang diri?

Tidak semua orang senang berada di tempat baru, apalagi seorang diri. Kalau selama ini sebagian besar kegiatan remeh—seperti ke minimarket atau ke toko buku, harus dilakukan bersama teman atau pacar, berarti tinggal di luar negeri bukan pilihan yang tepat. Pasalnya, bertahan hidup di sana butuh tingkat kemandirian yang sangat tinggi.

Ditambah, harga tiket pesawat dan tarif biaya telepon juga bakal sangat mahal, sehingga rasa rindu kampung halaman harus disimpan rapat-rapat.

[Gambas:Instagram]

3. Apakah saya bisa betah di rumah baru?

Bagi pelancong sejati, rumah adalah tempat di mana mereka menginjakkan kaki saat itu. Rasa rindu kampung halaman tentu saja ada, tapi mereka tidak menjadikannya sebagai beban.

Kalau merasa rumah yang ditempati sekarang membuat diri sering bosan, mencari "rumah baru" di luar negeri bisa jadi pilihan yang boleh dipertimbangkan.

[Gambas:Instagram]

4. Apakah saya mau mengubah gaya hidup?

Hemat dan hemat, adalah tips utama untuk bertahan hidup di luar negeri. Dengan ukuran pendapatan rata-rata orang Indonesia, biaya tinggal di negeri orang--terutama Amerika dan Eropa, tentu saja bakal membuat dompet menangis.

Jika selama ini biasa belanja baju atau kongko di kedai kopi seminggu tiga kali, jangan harap bisa melakukan hal yang sama saat setiap hari. Bisa saja tetap melakukannya, tapi jangan harap bisa membayar pengeluaran pokok yang penting seperti sewa apartemen atau beli sembako.

5. Apakah saya siap dengan perbedaan budaya?

Selain bahasa, etika yang diterapkan negara-negara di luar negeri juga pasti berbeda. Penduduk Indonesia terkenal ramah, tapi ada beberapa negara yang penduduknya malah tak sering saling sapa.

Bukan berarti jati diri harus jadi ke-Barat-baratan, hanya saja butuh pengertian yang besar untuk memahami budaya baru tersebut. Siapkah tak punya tetangga untuk merayakan Lebaran? Siapkah punya tetangga yang gemar makan menu non-halal? Jika jawabannya iya, berarti diri sudah siap berhadapan dengan beragam budaya baru di luar negeri.

(ard)