Etika Membangunkan Penumpang Tidur dalam Penerbangan

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Selasa, 02/01/2018 16:04 WIB
Etika Membangunkan Penumpang Tidur dalam Penerbangan Ilustrasi. (Thinkstock/Digital Vision)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak hanya di darat, sikap tenggang rasa juga perlu dilakukan di langit saat melakukan penerbangan dengan pesawat komersil.

Salah satu perwujudan dari sikap tenggang rasa dalam penerbangan ialah dengan tidak terlalu sering membangunkan penumpang di bangku sebelah yang sedang tidur untuk mondar-mandir di kabin pesawat.

Jika sangat mendesak, maksimal penumpang hanya pantas untuk membangunkan penumpang di sebelahnya satu kali, seperti yang dikutip dari studi maskapai penerbangan British Airways belum lama ini.


Dalam studi tersebut diungkapkan kalau sebanyak 40 persen dari 1.500 penumpang British Airways merasa enggan membangunankan penumpang yang duduk di sebelahnya lebih dari satu kali.

Sisanya, merasa pantas membangunkan penumpang di sebelahnya kapan saja. Bahkan, ada juga yang merasa kalau mereka tak perlu membangunkan, karena bisa meloncantinya.

Sebanyak 40 persen penumpang yang merasa enggan berasal dari Amerika, Inggris, Perancis, Jerman, dan Italia, negara-negara yang selama ini dianggap mengutamakan etika dalam segala hal.

Bepergian seorang diri memang terasa canggung, terutama jika harus duduk di bangku tiga baris bersama penumpang lain dalam penerbangan jarak jauh.

Jika ingin menghindari suasana tersebut, penumpang yang terbang sendirian bisa memilih duduk di dekat lorong, sehingga tak perlu sering membangunkan penumpang di sebelahnya untuk mondar-mandir.

Bagi yang ingin menghindari suasana berisik, bisa juga menghindari duduk di barisan depan, karena biasanya pihak maskapai menempatkan rombongan dan keluarga dengan anak kecil di barisan tersebut.

(ard)