Ardita Mustafa
Penulis adalah lulusan Institut Kesenian Jakarta yang menggemari karya-karya dari band The Velvet Underground dan Sonic Youth.

Menjadi Perempuan Betawi yang Utuh?

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Senin, 22/08/2016 15:28 WIB
Menjadi Perempuan Betawi yang Utuh? Ilustrasi: Busana perempuan khas Betawi (Nico Wijaya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebagai perempuan Betawi totok, lulus kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan bisa dibilang suatu ketidaknormalan.

Secara budaya, perempuan Betawi memang tidak diharapkan untuk memiliki karier di luar rumah. Prestasi ideal yang diharapkan adalah membina rumah tangga, menjadi ibu. Perempuan Betawi yang utuh. Setidaknya itu yang terjadi di generasi sebelumnya di keluarga saya.

Tak heran kalau banyak perempuan Betawi yang akhirnya menyudahi mimpi mereka berkarier atau memiliki pendidikan tinggi karena harus membina sebuah rumah tangga. Terpaksa atau tidak terpaksa.


Ini bukan bermaksud mengatakan tidak ada perempuan Betawi yang memiliki karier dan tingkat pendidikan tinggi. Apalagi yang sudah berdarah campuran. Jumlahnya bejibun.

Tapi lama kelamaan, menjalani ruitinitas sebagai perempuan Betawi kantoran di kota besar Jakarta tak seindah yang saya bayangkan. Ada kebosanan yang amat sangat. Mungkin inilah yang pada akhirnya dirasakan oleh banyak rekan yang lain. Tidak peduli Betawi atau bukan.

Semua serba rutin. Bangun pagi, membuat kopi, membakar rokok, mandi, berpakaian, berangkat ke kantor, menghadiri rapat, mengurus segala sesuatunya sendiri—termasuk memantau uang di bank, lalu pulang lagi ke rumah berhadapan dengan kesendirian.

Jika perempuan Betawi generasi sebelumnya menginginkan hidup seperti saya, mungkin kini sebaliknya, saya menginginkan hidup seperti mereka: membina rumah tangga.

Ironis memang.

"Ngapain sih perempuan kerja sampe malem? Enakan ngurus suami sama anak di rumah," kata salah satu uwak saya, dalam perbincangan di Hari Lebaran beberapa tahun yang lalu.

Sampailah saya pada niat ingin menikah, dengan harapan tidak akan sendirian lagi, ketika bangun pagi, membuat kopi, membakar rokok, mandi, berpakaian, berangkat ke kantor, menghadiri rapat, mengurus keperluan sehari-hari, lalu pulang lagi ke rumah berhadapan dengan kesendirian.

Niat—yang menurut sebagian besar teman saya sangat "duh"—itu mulai saya cicil sejak tiga tahun yang lalu. Sayangnya, niat itu gagal tahun ini.

Hubungan saya dengan calon suami harus gagal di tengah jalan, padahal kami sudah berencana untuk melangsungkan pernikahan tahun depan.

Mungkin saya terlalu naif, berpikir kalau pernikahan tidak ada hubungannya dengan fisik.

Tapi calon suami saya sepertinya lebih peduli dengan jumlah kilogram lemak dalam tubuh saya, yang saya timbun karena takut sakit saat lembur, ketimbang niat saya untuk membina rumah tangga.

"Kamu gemukan. Udah enggak kayak dulu lagi. Kurusin, dong."

"Oke kita putus."

Begitulah kira-kira percakapan singkat saya dengan mantan calon bapaknya anak-anak.

Kegagalan pernikahan itu tentu saja membuat kepercayaan diri saya runtuh. Saya seakan tidak bisa mencapai mimpi menjadi "seorang perempuan Betawi yang seutuhnya."

Mau tidak mau, saya kembali menjalani hidup sendirian; bangun pagi, membuat kopi, membakar rokok, mandi, berpakaian, berangkat ke kantor, menghadiri rapat, mengurus keperluan sehari-hari, lalu pulang lagi ke rumah, kini setelah sebelumnya mampir ke bar.

Sebulan dua bulan, saya bosan juga meratapi nasib sebagai perempuan yang gagal. Perempuan Betawi yang gagal.

Sampai akhirnya saya harus kembali memulai dari nol untuk menjadi "perempuan Betawi yang tidak seutuhnya": lembur dan keluar rumah tengah malam.

Hasilnya, saya memang masih belum menikah tapi saya jauh lebih bahagia. Saya bahagia karena masih bisa bertemu teman dan keluarga.

Apalagi saat saya bisa hadir dalam situasi penuh keseruan yang sebelumnya sering saya lewatkan ketika masih berpacaran.

Saya bahagia karena tidak jadi menikah dengan pria yang kurang tepat. Apalagi saat mengetahui kalau ongkos moril dan materiil salah satu teman yang sedang mengurus perceraian sangatlah besar. Lebih baik putus daripada bercerai.

Saya bahagia karena saya memiliki lebih banyak waktu untuk berbahagia.

Gagal menikah memang suatu kesialan, tapi bukan berarti kita bisa mengizinkan diri kita untuk membusuk dalam kesialan itu.

Masih banyak hal yang bisa dilakukan. Menangis? Silakan. Membuat akun di Tinder? Kenapa tidak.

Pada akhirnya, menjalani hubungan perkawinan yang sehat jauh lebih indah daripada menjalani hubungan perkawinan hanya demi pencitraan di mata orang lain. Untuk sementara saya harus menerima nasib belum menjadi perempuan Betawi yang utuh.

(ard/dlp)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS