RI Pantau Dampak Kemenangan Demokrat di Pemilu Sela AS ke Ekonomi

CNN Indonesia
Jumat, 06 Nov 2026 09:15 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkap sekitar 74 juta penduduk Indonesia berusia 17 tahun ke atas belum memiliki rekening perbankan.Airlangga mengatakan temuan tersebut diperoleh dari hasil pemadanan data kependudukan
Pemerintah Indonesia tengah memantau dampak hasil pemilihan umum sela (midterm elections) di Amerika Serikat (AS). Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Laurent Nabila).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Indonesia tengah memantau dampak hasil pemilihan umum sela (midterm elections) di Amerika Serikat (AS).

Kemenangan Partai Demokrat yang berhasil mengambil alih kendali atas dua majelis tertinggi Kongres, yakni Senat dan Dewan Perwakilan, diyakini akan membawa perubahan dinamika yang signifikan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan pergeseran peta politik di AS tersebut akan berimbas langsung pada arah kebijakan perekonomian dan geopolitik global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita juga memonitor midterm election di Amerika. Kita lihat bahwa Kongres maupun Senat dikuasai oleh Demokrat. Tentu ini akan berakibat terhadap kebijakan-kebijakan perekonomian maupun geopolitik global," ujar Airlangga dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (5/11).

Airlangga turut menyoroti sejumlah indikator makroekonomi global yang saat ini membayangi pasar.

Beberapa di antaranya meliputi tekanan suku bunga The Fed yang berada di kisaran 3,75 hingga 4 persen, imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun di level 4,86 persen, serta inflasi global tahun ini di angka 4,7 persen yang diperkirakan melandai ke 4,1 persen pada tahun depan.

Sementara itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi global saat ini berada di angka 3,1 persen yang diperkirakan naik ke 3,4 persen tahun depan.

Secara khusus, Pemerintah RI menaruh perhatian pada pergerakan harga minyak mentah dunia yang sempat menyentuh US$117 per barel pada akhir Oktober, tetapi kini telah terkoreksi.

Airlangga memastikan fluktuasi harga energi tersebut saat ini masih dalam batas aman Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Terkait dengan situasi global, kami melihat untuk energi relatif harga pembelian kita di sektor energi di bawah 100 dolar, sekitar 93 dolar. Jadi, sampai dengan akhir tahun relatif gejolak energi itu terserap oleh APBN," ujar Airlangga.

Pada perdagangan awal Kamis (5/11), harga minyak mentah berjangka Brent turun 97 sen atau 1,03 persen menjadi US$93,65 per barel pada pukul 02.11 GMT atau 09.11 WIB.

Sementara itu, minyak mentah berjangka US West Texas Intermediate (WTI) turun US$1,14 atau 1,29 persen ke level US$86,98 per barel.

Berdasarkan laporan Reuters, penurunan harga ini didorong oleh ekspektasi pasar yang merespons kekalahan Partai Republik pimpinan Presiden AS Donald Trump.

Dengan posisi Trump yang kini melemah akibat Kongres yang dikuasai Demokrat, opsi militer AS, terutama terkait konflik dengan Iran, diproyeksikan akan jauh lebih terbatas.

Dua sumber Reuters yang dekat dengan lingkaran pemerintahan negara-negara Teluk pada Rabu (4/11) mengungkap dinamika politik ini memberikan dorongan lebih besar bagi Trump untuk mencari kesepakatan damai.

Menurut sumber tersebut, kemungkinan serangan skala penuh terhadap Iran kini tampaknya makin kecil.

Potensi resolusi konflik ini diyakini mampu memulihkan aliran pasokan minyak dari Timur Tengah.

Merespons proyeksi tersebut, Analis Minyak Senior Sparta Commodities June Goh menilai pasar saat ini tengah menakar ulang langkah pemerintahan AS ke depan.

"Pasar sedang menakar dampak pemilu paruh waktu (midterm elections) terhadap langkah Trump selanjutnya terkait perang Iran dan memperhitungkan peluang yang lebih besar bagi berakhirnya perang tersebut," ujar June Goh.

[Gambas:Video CNN]

(dhz/sfr)
LIHAT SELENGKAPNYA