The Fed Tahan Suku Bunga 3,75-4 Persen Demi Jaga Inflasi

CNN Indonesia
Kamis, 29 Okt 2026 13:29 WIB
The seal of the Board of Governors of the Federal Reserve System is seen on the lectern during a press conference September 17, 2014 at the US Federal Reserve in Washington, DC. AFP PHOTO/Paul J. Richards
The Fed menahan suku bunga di kisaran 3,75-4 persen demi tekan inflasi tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi. Ketua Kevin Warsh optimis perekonomian AS stabil. (FOTO:AFP PHOTO/Paul J. Richards).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengumuman The Fed Hari Ini memastikan Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) resmi menahan tingkat suku bunga acuannya.

Keputusan penahanan suku bunga di kisaran 3,75 persen hingga 4,00 persen tersebut diambil pada Rabu (28/10) waktu setempat melalui hasil pemungutan suara 10 berbanding 2.

Dengan ditahannya suku bunga acuan, Ketua The Fed Kevin Warsh yakin inflasi AS dapat diturunkan ke target 2 persen tanpa harus menghambat pertumbuhan ekonomi atau mengerek angka pengangguran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam konferensi pers usai rapat kebijakan selama dua hari, Warsh memproyeksikan laporan produk domestik bruto (PDB) kuartal III yang rilis pada Kamis (29/10) akan menunjukkan tren investasi dan belanja konsumen yang kuat, serta percepatan pertumbuhan dibandingkan dengan paruh pertama tahun ini.

Meskipun begitu, Warsh menilai perekonomian AS saat ini tidak terlalu panas atau menghasilkan inflasi akibat lonjakan permintaan yang perlu ditekan secara paksa.

"Perekonomian bergerak ke arah yang benar. Apakah perekonomian tumbuh terlalu panas? Apakah perekonomian tumbuh terlalu kuat? Itu bukan penilaian sebagian besar kolega saya," ujar Warsh melansir dari Reuters.

[Gambas:Youtube]

Ia kembali menegaskan perubahan produktivitas, termasuk yang sudah terjadi sebelum ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI), memungkinkan AS untuk tumbuh lebih cepat tanpa memicu inflasi sebesar sebelumnya.

"Menurut saya, tujuannya bukanlah menghambat roda perekonomian dan membuat orang kehilangan pekerjaan. Saya tidak berpikir kita harus melakukan itu," katanya.

Ia membeberkan suku bunga kebijakan The Fed yang lebih tinggi telah menunjukkan dampaknya melalui kondisi kredit yang sedikit lebih ketat. Imbasnya, investasi bisnis melambat dan dinilai turut berkontribusi terhadap pelemahan pasar saham baru-baru ini.

Menurut dia, apabila pelemahan pasar saham tersebut sukses menekan tingkat belanja keluarga berpenghasilan tinggi, kondisi ini berpotensi menjadi sumber tambahan disinflasi atau perlambatan kenaikan harga.

 

(dhz/ins)
placeholder
LIHAT SELENGKAPNYA