Rencana penggabungan (merger) maskapai penerbangan pelat merah antara Pelita Air dan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dipastikan belum akan terealisasi dalam waktu dekat.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria menjelaskan eksekusi merger baru akan dilakukan apabila kondisi Garuda Indonesia sudah benar-benar pulih dan sehat.
Jika dipaksakan saat ini, langkah tersebut justru berisiko menjadi beban bagi kedua perusahaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita perbaiki dulu yang Garudanya, harus betul-betul sukses dulu melakukan transformasi terhadap bisnisnya," ujar Dony ketika ditemui di sela-sela acara Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026 di Jakarta, Senin (26/10).
Dony mengatakan perbaikan menyeluruh di Garuda ini menyentuh seluruh aspek layanan penumpang, mulai dari pra-penerbangan (pre-flight), selama penerbangan (in-flight), hingga pasca-penerbangan (post-flight).
Ia secara khusus menyoroti kualitas layanan Garuda Indonesia seperti durasi proses check-in hingga kualitas layar hiburan di dalam kabin pesawat.
"Ini masih jauh transformasi Garuda dari apa yang kita harapkan. Makanya dia terus melakukan transformasi," ujar Dony.
Sebagai bagian dari perombakan, Garuda Indonesia juga bersiap melakukan rebranding.
Meski tidak mengganti nama perusahaan, perombakan akan dilakukan terhadap identitas maskapai, termasuk penyegaran seragam awak kabin yang dinilai sudah cukup lama tidak berganti.
"Kita (ingin) yang lebih fresh, dengan semangat baru, motivasi baru. Ini yang kita harapkan. Nanti kalau dua-duanya (Garuda Indonesia dan Pelita Air) sudah bagus, baru kita lakukan mergernya," ujar Dony.
(dhz/sfr)