Bank Dunia Ramal Krisis Lapangan Kerja Menanti Anak Muda 10 Tahun Lagi

CNN Indonesia
Senin, 26 Okt 2026 15:45 WIB
Aktifitas warga yang bekerja di kawasan Sudirman-Thamrin, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Usai libur cuti bersama Idul Fitri pekan lalu, hari ini merupakan hari pertama bekerja kembali bagi pegawai swasta maupun Aparatur Sipil Negara (ASN). CNNIndonesi
Pada 10-15 tahun mendatang, sekitar 1,2 miliar anak muda ke pasar kerja, sementara lapangan kerja cuma 400 juta. Artinya, 800 juta pemuda berpotensi menganggur. Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Bank Dunia Ajay Banga memperingatkan anak muda bakal menghadapi krisis lapangan pekerjaan dalam 10 hingga 15 tahun mendatang.

Pada 10-15 tahun mendatang, sekitar 1,2 miliar anak muda ke pasar kerja, sementara lapangan kerja yang tersedia diproyeksikan hanya sekitar 400 juta. Artinya, 800 juta pemuda berpotensi menganggur.

Banga menyampaikan peringatan tersebut dalam pidatonya pada rangkaian Pertemuan Tahunan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF), Sabtu (17/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dalam 10 hingga 15 tahun ke depan, 1,2 miliar kaum muda akan memasuki pasar kerja, yang diproyeksikan hanya mampu menyediakan sekitar 400 juta lapangan pekerjaan," kata Banga.

Ia menilai keputusan yang diambil saat ini akan turut menentukan masa depan generasi muda tersebut.

"Generasi inilah yang akan membentuk abad mendatang. Pilihan yang kita buat hari ini akan turut menentukan bagaimana bentuk masa depan tersebut," ujarnya.

Banga mengatakan penciptaan lapangan kerja semakin menantang di tengah konflik global, keterbatasan ruang fiskal, beban utang, dan tingginya biaya kebutuhan pokok. Pemerintah pun menghadapi tantangan untuk mendorong investasi sekaligus membuka lebih banyak pekerjaan dengan anggaran yang terbatas.

Menurutnya, penciptaan lapangan kerja membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, lembaga filantropi, dan pemanfaatan teknologi. Skema pendanaan juga perlu disesuaikan dengan kondisi setiap negara.

Pendanaan publik dan pembiayaan konsesional tetap diperlukan di negara yang menghadapi kebutuhan besar dan risiko tinggi. Namun, mobilisasi investasi swasta dan perluasan akses pasar perlu ditingkatkan seiring menguatnya kapasitas negara tersebut.

Banga mengatakan mobilisasi modal swasta oleh Grup Bank Dunia meningkat lebih dari tiga kali lipat, dari sekitar US$35 miliar pada tahun fiskal 2022 menjadi US$112 miliar pada tahun fiskal terakhir. Jika digabungkan dengan pendanaan Bank Dunia sendiri, total pembiayaan yang dihimpun melampaui US$230 miliar.

Mobilisasi modal swasta juga hampir tiga kali lipat di negara berpendapatan menengah bawah dan empat kali lipat di negara berpendapatan menengah atas. Di Afrika, nilainya meningkat lebih dari dua kali lipat. Namun, perkembangannya masih stagnan di negara berpendapatan rendah.

Banga menekankan peran usaha kecil dalam mendorong pemulihan ekonomi, terutama di negara termiskin dan paling rentan.

"Jalan menuju pemulihan ekonomi bagi negara-negara termiskin dan paling rentan terletak pada usaha kecil mereka," ujarnya.

Usaha kecil, kata dia, kerap tumbuh di wilayah yang belum terjangkau perusahaan besar.

Banga juga memaparkan tiga pilar untuk mendorong penciptaan lapangan kerja, yakni pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia, kepastian kebijakan dan regulasi, serta peningkatan investasi swasta.

Pada tahun fiskal terakhir, sekitar US$40 miliar atau hampir sepertiga dari total pendanaan Bank Dunia dialokasikan untuk membangun fondasi infrastruktur dan sumber daya manusia.

"Tahun lalu, kami mengalokasikan US$40 miliar, hampir sepertiga dari total pendanaan kami, untuk membangun fondasi-fondasi ini," kata Banga.

Sementara itu, sekitar 30 persen pembiayaan sektor publik pada tahun fiskal terbaru diarahkan untuk reformasi kebijakan dan kelembagaan.

Bank Dunia juga menjalankan Private Sector Investment Lab untuk mengatasi hambatan investasi, termasuk risiko nilai tukar dan keterbatasan akses pembiayaan. Instrumen yang digunakan antara lain penjaminan, investasi ekuitas, dan pembiayaan dalam mata uang lokal.

Banga menilai peningkatan investasi swasta perlu berjalan beriringan dengan penguatan fondasi ekonomi agar penciptaan lapangan kerja dapat berlangsung secara berkelanjutan.

[Gambas:Video CNN]

(lau/pta)