Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mengingatkan risiko kenaikan harga pangan akibat fenomena El Nino dan La Nina yang diperkirakan terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
Pemerintah diminta mengantisipasi dampaknya terhadap produksi dan ketersediaan pangan, terutama beras, melalui pengelolaan stok cadangan, distribusi, hingga operasi pasar.
Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu mengatakan El Nino diperkirakan dapat berlangsung hingga kuartal I 2027 sebelum La Nina berpotensi terjadi pada pertengahan tahun depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua fenomena tersebut perlu diantisipasi karena dapat memicu kekeringan maupun banjir yang mengganggu kegiatan pertanian.
"Hampir semua insiden El Nino itu pasti dibarengi dengan kenaikan harga pangan dan ini sesuatu yang harus benar-benar kita antisipasi," ujar Mari dalam keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa (20/10).
El Nino sendiri merupakan fenomena iklim yang dapat memicu kekeringan akibat berkurangnya curah hujan di Indonesia. Kondisi ini berisiko mengganggu produksi pertanian dan pasokan pangan.
Sebaliknya, La Nina cenderung meningkatkan curah hujan sehingga berpotensi memicu banjir yang juga dapat mengganggu kegiatan pertanian.
Menurut Mari, pemerintah perlu memanfaatkan data dan perkiraan cuaca untuk menentukan wilayah yang berisiko mengalami kekeringan.
Langkah antisipasi dapat mencakup penyiapan pompa air, penentuan waktu tanam, hingga penundaan penanaman apabila kondisi lahan tidak memungkinkan. Pemerintah juga perlu menyiapkan langkah menghadapi banjir dan kemungkinan bencana lainnya.
Selain menjaga produksi, pemerintah perlu memastikan stok pangan tersedia dan dapat disalurkan ke wilayah yang membutuhkan. Mari menyebut cadangan pangan, terutama beras, perlu dijaga agar pasokan tetap memadai dan tekanan terhadap harga dapat dikendalikan.
"Ini sangat penting untuk menjaga harga pangan dan ketersediaan pangan dengan menjaga stok cadangan pangan terutama beras, melakukan distribusi yang tepat dan melakukan operasi pasar bila mana diperlukan," ujarnya.
Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan menambahkan pihaknya telah melaporkan potensi dampak El Nino dan La Nina kepada Presiden Prabowo Subianto.
DEN juga mengusulkan agar pemerintah mencermati perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara terperinci sebagai dasar menyusun langkah antisipasi.
Luhut mengatakan perubahan cuaca perlu diperhitungkan dalam perencanaan pangan, termasuk menentukan waktu tanam.
Pemerintah juga perlu menyiapkan rencana kontingensi untuk menghadapi dampak alam yang tidak dapat dikendalikan, tetapi berpotensi diperkirakan sebelumnya.
"Tadi juga Presiden (Prabowo) sudah memberikan arahan mengenai itu dan saya kira arahan-arahan Presiden cukup detail dalam konteks itu tadi," ujar Luhut.
(del/sfr)