Bos OJK Bantah Reformasi Pasar Modal Baru Jalan Setelah Tekanan MSCI

CNN Indonesia
Selasa, 20 Okt 2026 18:43 WIB
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi, memberi pemaparan saat Konferensi pers terkait RAPBN & Nota Keuangan Tahun Anggaran 2027
OJK membantah anggapan pembenahan pasar modal Indonesia baru bergerak setelah ada tekanan dari lembaga penyedia indeks global MSCI. (Tangkapan layar Youtube Kemenkeu).
Jakarta, CNN Indonesia --

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membantah anggapan bahwa pembenahan dan reformasi pasar modal Indonesia baru bergerak setelah adanya tekanan dari lembaga penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menegaskan langkah perbaikan ekosistem bursa sebenarnya telah berjalan sejak awal tahun, tepatnya Januari 2026.

"Ini kita tuh dari Januari, sejak ada kejadian Januari kemarin, kita itu udah sangat-sangat apa ya, melakukan reform besar-besaran. Ini kalau boleh dibilang apa ya, kita tuh all out," ujar Friderica saat ditemui usai acara Ijtima' Sanawi di Grand Mercure Harmoni, Jakarta Pusat, Selasa (20/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Friderica pun menegaskan terdapat ketentuan dan undang-undang yang harus diikuti sebelum pihaknya menjatuhkan sanksi.

Upaya perbaikan itu terlihat dari ketegasan OJK menjatuhkan sanksi administratif terkait dugaan pelanggaran transaksi dan penawaran umum saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) berupa denda senilai total Rp2,1 triliun.

"Namun memang kami sampaikan, memang perlu waktulah untuk kita bisa come up dengan sanksi seperti apa itu perlu waktu," terangnya.

Ia mencontohkan saham holding Grup Sinar Mas, yakni DSSA yang memiliki 11 badan hukum asing, dengan banyak orang yang terlibat, serta banyak perusahaan sekuritas.

"Jadi, jangan dibilang, 'Oh, enforcement-nya enggak ada yang severe, gitu yang ada cuman ringan-ringan.' Enggak seperti itu, karena kita perlu proseskan. Kita walaupun kita regulator, tapi kita tidak bisa semena-mena untuk, untuk memberikan sanksi, harus semua sesuai dengan ketentuan," tutur Friderica.

Friderica membeberkan sejumlah langkah konkret OJK yang bahkan melampaui standar bursa lain di kawasan regional, mulai dari pengetatan aturan keterbukaan hingga penerapan klasifikasi tipe investor yang sangat mendalam.

Selain itu, pihaknya juga telah membuka data saham High Shareholding Concentration (HSC). Ia mengatakan pembukaan data tersebut bukan permintaan MSCI, tetapi keputusan regulator sendiri.

"Terus kemudian ketentuan lainnya, klasifikasi, kita sudah 39 klasifikasi tipe investor. Itu ada domestik dan foreign, itu kan berarti kali dua sebetulnya, jadi sudah sangat granular banget. Termasuk tadi HSC tuh nggak diminta loh ya, kita inisiatif sendiri," jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengaku mengaku belum istirahat sejak tekanan besar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dipicu oleh pengumuman MSCI pada Jumat (16/10) lalu.

"Saya dari hari Jumat, Sabtu, Minggu sampai sekarang belum istirahat, Kiai. Jadi tapi alhamdulillah, karena kan saya ke sini semangat karena banyak yang doanya mustajab di ruang ini," ungkap Friderica.

Kendati demikian, Friderica memastikan ke depannya OJK terus melanjutkan reformasi pasar modal Indonesia. Ia pun menyebut langkah tegas penegakan hukum serta perbaikan ekosistem bursa akan terus berjalan beriringan untuk menjaga kepercayaan investor dan stabilitas pasar.

"Kita semua melihat bagaimana hari Jumat kemarin pasar modal kita sedikit mengalami apa istilahnya, gonjang-ganjing atau apa ya gitu kalau istilahnya investor gitu. Tapi kita bisa sampaikan kepada Bapak, Ibu semua yang mungkin di ruangan ini juga adalah investor, bahwa saat ini reformasi di pasar modal terus kita laksanakan, perbaikan-perbaikan terus kita laksanakan," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]

(fln/sfr)