Harga Minyak Dunia Lumer ke US$109,06 Efek Pengecualian Sanksi Rusia

CNN Indonesia
Selasa, 20 Okt 2026 11:08 WIB
Kilang Minyak
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November turun 0,33 persen menjadi US$103,32 per barel. (FOTO:CNN Indonesia/Agus Triyono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak mentah dunia melemah pada perdagangan Selasa (20/10) pagi ke level US$109,06 per barel. Penurunan terjadi saat pasar mencermati kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengecualikan sejumlah sanksi dan tarif terkait ekspor energi Rusia.

Sementara itu, serangan di Arab Saudi dan Yaman memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Mengutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent turun 49 sen atau 0,45 persen menjadi US$109,06 per barel pada pukul 00.10 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November turun 0,33 persen menjadi US$103,32 per barel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian, kontrak WTI untuk pengiriman Desember yang lebih aktif diperdagangkan turun 46 sen atau 0,47 persen menjadi US$98,08 per barel.

Pada perdagangan sebelumnya harga minyak Brent sempat menyentuh US$110,70 per barel. Harga tersebut menjadi level tertinggi sejak 20 Mei.

Trump kemudian menerbitkan perintah eksekutif pada Jumat (16/10) malam untuk memberikan pengecualian sejumlah sanksi dan tarif terkait energi Rusia. Kebijakan tersebut mencakup bea masuk terhadap barang-barang Rusia serta sanksi terhadap pihak yang membeli minyak dan gas dari negara tersebut.

[Gambas:Youtube]

Trump juga menyatakan dirinya belum mengumumkan keputusan final terkait kebijakan tersebut, Sabtu (17/10). Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga mengatakan para pejabat pemerintah membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengevaluasi situasi.

Sementara itu, produksi minyak mentah Rusia meningkat 65 ribu barel per hari pada September menjadi 8,43 juta barel per hari, menurut Badan Energi Internasional (IEA) pekan lalu. Meski demikian, produksi tersebut masih sekitar 870 ribu barel per hari di bawah tingkat produksi pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Analis utama KCM Trade Tim Waterer mengatakan pelaku pasar tampaknya lebih berfokus pada risiko kerusakan infrastruktur energi di kawasan Teluk dibandingkan potensi tambahan pasokan diesel dari Rusia.

"Meski prospek tambahan pasokan diesel dari Rusia secara teori menawarkan sedikit kelegaan, para pedagang tampaknya jauh lebih berfokus pada risiko berlanjutnya kerusakan infrastruktur energi di kawasan Teluk," kata Waterer, dikutip dari Reuters.

Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran pada Senin (19/10) mengklaim melancarkan sejumlah serangan terhadap target energi, bandara, dan militer di Arab Saudi.

Target yang disebut mencakup fasilitas Aramco di Yanbu, ladang minyak Shaybah, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, serta Bandara Abha.

Otoritas Arab Saudi belum segera mengonfirmasi klaim serangan tersebut. Reuters juga menyatakan belum dapat memverifikasi klaim Houthi secara independen.

Selain itu, sebanyak 58 orang tewas dan lebih dari 200 orang terluka setelah serangan Houthi terhadap kamp pelatihan pasukan keamanan pemerintah di Provinsi Shabwa, Yaman, Senin (19/10).

Serangan terbaru tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan dan mempertegas risiko gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Kondisi itu turut menjaga harga minyak dunia tetap berada di atas US$100 per barel.

Di Amerika Serikat, persediaan minyak mentah diperkirakan turun pada pekan lalu. Berdasarkan jajak pendapat awal Reuters pada Senin (19/10), persediaan produk minyak juga diperkirakan mengalami penurunan.

(lil/ins)