Amran Ungkap Ada Lagi Negara yang Ingin Impor Beras RI

CNN Indonesia
Selasa, 20 Okt 2026 03:45 WIB
Pedagang beras di kawasan pasar Bukit Duri, Jakarta Selatan, Rabu, 20 Mei 2015. Direktorat Jenderal Bea Cukai  menyatakan masih menunggu kepastian soal asal usul beras plastik. CNN Indonesia/Safir Makki
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap ada negara lain yang meminta impor beras dari RI. Ilustrasi. (Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap ada negara lain yang meminta impor beras dari RI.

Permintaan tersebut muncul setelah Indonesia mulai membuka pasar ekspor beras meski Amran belum mengungkap negara yang dimaksud.

"Ada lagi permintaan ekspor (beras) ke salah satu negara, tunggu aja beritanya besok atau lusa. Kemarin telepon salah satu negara meminta beras," ujar Amran dalam konferensi pers di Kementan, Jakarta Selatan, Senin (19/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, Amran belum menyebut negara yang baru meminta impor beras tersebut maupun jumlah beras yang diminta. Pemerintah masih akan mengumumkan permintaan itu dalam waktu dekat.

Ia mengatakan pemerintah tak hanya mengejar swasembada beras, tetapi juga membangun ekosistem pangan yang menghubungkan produksi petani dengan kebutuhan industri dan pasar.

Salah satunya melalui skema penyerapan hasil panen jagung oleh peternak, sementara kelebihan produksi dapat disalurkan ke Perum Bulog melalui sistem resi gudang.

Pemerintah juga membahas pembangunan pabrik untuk menyerap kelebihan produksi telur ayam. Selain itu, program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung melalui Bulog disiapkan untuk mendukung kebutuhan pakan. Amran meminta Bulog mempercepat distribusinya.

Di sisi lain, Amran mengklaim kinerja perdagangan sektor pertanian menunjukkan peningkatan. Ia menyebut nilai ekspor pertanian pada 2025 mencapai Rp166 triliun, sementara impor turun Rp41 triliun.

"Ekspor kita naik 2025 itu Rp166 triliun, impor kita turun Rp41 triliun. Rp208 triliun tambahan nilai dengan kebijakan-kebijakan sektor pertanian," ujarnya.

Amran juga menyebut Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 131, yang diklaim sebagai angka tertinggi sepanjang sejarah.

Ia mengaitkan capaian tersebut dengan penurunan harga pupuk sebesar 20 persen dan kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah menjadi Rp6.500 per kilogram.

Sebelumnya, Indonesia menyepakati ekspor 1.000 ton beras premium komersial ke Malaysia melalui kerja sama Bulog dengan perusahaan asal Malaysia, Padi dan Beras Borneo Sdn Bhd.

Pengiriman direncanakan berlangsung bertahap untuk memenuhi kebutuhan beras di Sarawak yang diperkirakan mencapai 200 ribu ton per tahun.

Pemerintah juga pernah mengusulkan ekspor minimal 10 ribu ton beras ke Singapura.

Sementara itu, rencana pengiriman 2.280 ton beras untuk kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia di Arab Saudi pada 2026 sempat menunggu asesmen keamanan dari sejumlah instansi terkait di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah.

[Gambas:Video CNN]

(del/sfr)