Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Saleh Mustafa mengungkap alasan harga beras di pasaran masih menanjak di tengah stoknya yang melimpah.
Saat ini, pemerintah melalui Perum Bulog memiliki stok beras tertinggi sepanjang sejarah, yaitu sebesar 5 juta ton.
Saleh menilai harga beras yang mahal saat ini ada hubungannya dengan keterlibatan mafia di perberasan nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia memastikan kehadiran oknum-oknum tersebut sudah mendapatkan penanganan dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Lihat Juga :AGRIFOOD FORUM 2026 Menko Zulhas Ungkap Alasan Prabowo Genjot Swasembada Pangan |
"Ada pelaku yang bermain. Mungkin teman-teman pernah lihat beberapa waktu lalu Pak Amran menyampaikan bagaimana mafia pangan beras fortifikasi, kemudian tahun 2025 beras premium menjadi suatu persoalan," ujar Saleh dalam acara Agrifood Forum 2026 yang digelar CNN Indonesia di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Senin (19/10).
Guna mengatasi harga beras yang tinggi di pasaran, Saleh mengatakan pemerintah menginstruksikan Perum Bulog untuk mengintervensi pasar dan menstabilkan harga.
Selain itu, ia mengatakan Kementan juga selalu memantau harga beras di berbagai daerah. Contohnya jika ada satu kabupaten yang harga berasnya mahal, pemerintah akan langsung melakukan operasi pasar di daerah tersebut.
Dalam kesempatan sama, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menjelaskan kenaikan harga beras saat ini berkaitan dengan kondisi alam, yaitu fenonema kekeringan El Nino.
Ia mengatakan El Nino menurunkan produksi beras Indonesia. Rizal menyebut tak hanya RI yang mengalami ini, tetapi ada juga India, China, Thailand, dan Vietnam mengalami hal serupa.
Senada dengan Saleh, ia menyebut operasi pasar merupakan salah satu langkah RI menekan harga besar yang tinggi di pasaran.
"Begitu ada indikasi (kenaikan harga beras di suatu wilayah), langsung eksekusi, laporan sambil jalan. Jadi, tidak perlu buat surat dulu, langsung mainkan dulu, baru nanti laporannya menyusul. Istilahnya kami di tentara itu PDUB, pukul dulu urusan belakang," ujar Rizal.
Ia mengatakan Bulog mengutamakan eksekusinya terlebih dahulu dan mengurus urusan administrasi, dokumentasi, serta anggaran belakangan karena jika menunggu administrasi selesai, harga berasnya ada kemungkinan bisa makin naik.
"Kalau tunggu administrasi, harganya meroket. Kalau sudah naik, mohon maaf, susah diturunkan. Oleh karena itu, perlu tindakan cepat, tepat, dan singkat," ujar Rizal.
(dhz/sfr)