16 Bandara di Papua Terdampak Kabut Asap Karhutla

CNN Indonesia
Sabtu, 17 Okt 2026 21:05 WIB
Suasana di Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel akibat kabut asap yang disebabkan karhutla menyebabkan sekolah dilakukan secara daring. (ANTARA/HO/Dokumentasi)
Kabut asap akibat kebakaran hutan mengganggu 16 bandara di Papua, menyebabkan keterlambatan dan pembatalan penerbangan. (ANTARA/HO/Dokumentasi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu operasional 16 bandar udara di Papua.

Berdasarkan laporan Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah X, 16 bandara yang terdampak terdiri dari Bandar Udara Sentani di Provinsi Papua, Bandar Udara Mozes Kilangin Timika, Bandar Udara Ilaga, dan Bandar Udara Ilu di Papua Tengah.

Adapun di Papua Pegunungan, kabut asap berdampak pada operasional Bandar Udara Wamena, Bandar Udara Oksibil, dan Bandar Udara Dekai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Provinsi Papua Selatan, terdapat sembilan bandara yang terdampak, yakni Bandar Udara Mopah di Merauke, Bandar Udara Tanah Merah, Bandar Udara Kepi, Bandar Udara Ewer, Bandar Udara Bade, Bandar Udara Senggo, Bandar Udara Manggelum, Bandar Udara Yaniruma, dan Bandar Udara Mindiptanah.

Kabut asap dapat mengurangi jarak pandang di sekitar bandara sehingga berisiko menyebabkan keterlambatan, penundaan, hingga pembatalan penerbangan. Karena itu, setiap keputusan operasional tetap mengacu pada pertimbangan keselamatan.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus memantau perkembangan karhutla dan pengaruhnya terhadap transportasi udara di berbagai daerah, termasuk Papua. Langkah tersebut dilakukan bersama instansi terkait untuk mengantisipasi dampak kabut asap terhadap penerbangan.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F Laisa mengatakan koordinasi terus dilakukan melalui Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I hingga Wilayah X bersama pengelola bandara, AirNav Indonesia, maskapai, BMKG, dan instansi terkait lainnya.

"Koordinasi ini dilakukan untuk memantau perkembangan situasi di masing-masing wilayah dan memastikan keselamatan serta keamanan penerbangan tetap menjadi prioritas," kata Lukman terkonfirmasi di Jakarta, Sabtu (17/10).

Secara nasional, Kemenhub mencatat 2.021 penerbangan berjadwal domestik terdampak karhutla sejak 11 Agustus 2026 hingga posisi data 13 Oktober 2026.

Dari total tersebut, sebanyak 919 penerbangan mengalami keterlambatan (delay), sementara 1.067 penerbangan dibatalkan atau ditunda (cancelled/postponed). Selain itu, 18 penerbangan dialihkan ke bandara lain (divert), enam penerbangan kembali ke bandara keberangkatan (return to base/RTB), dan 11 penerbangan dimajukan jadwalnya (advance).

Dampak kabut asap juga menjangkau penerbangan internasional. Sebanyak 12 penerbangan berjadwal rute Singapura-Pontianak pulang pergi dibatalkan pada periode 12-23 September 2026 akibat kondisi asap di Bandar Udara Supadio, Pontianak.

Di luar dampak karhutla, Kemenhub juga mencatat 18 penerbangan domestik dibatalkan selama periode yang sama karena sejumlah faktor lain. Penyebabnya meliputi sebaran abu vulkanik Gunung Lewotolok dan Gunung Dukono, cuaca buruk, angin kencang, serta kebutuhan perawatan pesawat.

Sementara itu, upaya penanganan karhutla terus dilakukan pemerintah melalui operasi pemadaman dari udara atau water bombing. Selama periode 20 April hingga 12 Oktober 2026, operasi tersebut telah dilaksanakan sebanyak 5.035 siklus penerbangan (flight cycle).

Operasi itu melibatkan 38 pesawat udara yang dioperasikan oleh 11 operator di berbagai wilayah rawan karhutla.

Kemenhub mengimbau masyarakat dan pengguna jasa transportasi udara tetap tenang apabila terjadi penyesuaian jadwal penerbangan akibat kabut asap. Penumpang juga diminta berhati-hati terhadap informasi yang belum dipastikan kebenarannya.

"Masyarakat juga diimbau untuk tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi," ucap Lukman.

Penumpang diharapkan terus memantau perkembangan cuaca dan informasi terbaru dari maskapai masing-masing sebelum berangkat ke bandara. Langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan jadwal penerbangan.

"Direktorat Jenderal Perhubungan Udara akan menyampaikan informasi lebih lanjut sesuai dengan perkembangan situasi dan hasil koordinasi dengan instansi terkait," kata Lukman.

(antara/isn)
placeholder