Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas) mendorong percepatan penyelesaian persoalan sampah di Bekasi secara terpadu dari hulu hingga hilir, mulai dari gerakan memilah sampah dari rumah, pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), hingga teknologi pirolisis untuk menangani timbunan sampah lama.
Beberapa waktu lalu, Bekasi menjadi sorotan akibat persoalan polusi dan timbunan sampah di kawasan Bantargebang. Terlebih, timbulan sampah Kota Bekasi mencapai sekitar 1.800 ton per hari dan telah masuk kategori darurat sampah.
"Kita harus segera menyelesaikan persoalan ini. Kita koordinasikan agar semua bergerak cepat, tidak boleh lagi masyarakat hidup dalam lingkungan yang tercemar udara, tanah, dan air akibat sampah yang tidak terkelola," ujar Zulhas di Kota Bekasi, baru-baru ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi hilir, pembangunan PSEL Kota Bekasi menjadi langkah konkret untuk mempercepat penanganan kedaruratan sampah perkotaan melalui teknologi Waste to Energy.
PSEL Kota Bekasi ditargetkan mampu mengolah sekitar 1.500 ton sampah per hari, atau sekitar 70% sampah kota Bekasi yang juga berdampak pada penurunan emisi.
"Pengolahan sampah ini akan menurunkan emisi dari TPA sebesar 80?n menciptakan 1000 lapangan kerja, jadi PSEL Bekasi ini mendatangkan 4 manfaat yaitu pengelolaan sampah, hasilkan energi hijau, mengurangi emisi dan menggerakkan ekonomi lokal," kata Zulhas.
Pada Juli 2026, telah dilakukan groundbreaking PSEL Bali dan Legoknangka, Jawa Barat. Setelah Bekasi, pembangunan akan dilanjutkan dengan PSEL Bogor Raya-1.
Secara keseluruhan, pemerintah akan segera memiliki 13 lokasi PSEL baru, termasuk PSEL Kota Palembang yang diharapkan mulai beroperasi pada Oktober 2026.
Zulhas mengingatkan, PSEL bukan solusi tunggal. Jika seluruh PSEL tersebut beroperasi, kapasitasnya baru akan menyelesaikan sekitar 22,5 persen timbulan sampah.
Untuk itu, pengurangan dan pemilahan sampah dari sumber serta penggunaan berbagai teknologi pengolahan tetap menjadi bagian penting dari strategi nasional.
"Memilah sampah sejak dari sumbernya merupakan langkah sederhana namun sangat penting. Sampah yang sudah dipilah akan memudahkan proses selanjutnya. Kalau pemilahan dilakukan secara konsisten, volume sampah yang diangkut ke TPA akan jauh berkurang," papar Zulhas.
Selain mengolah timbulan sampah baru melalui PSEL, pemerintah juga menyiapkan solusi untuk timbunan sampah lama di TPA melalui teknologi pirolisis.
Secara khusus, Kementerian Koordinator Bidang Pangan mengapresiasi dukungan TNI AD dalam pengembangan teknologi tersebut melalui pilot project di lima lokasi. Pirolisis dapat mengolah timbunan sampah lama menjadi sumber energi baru berupa BBM terbarukan setara solar.
Jika diterapkan secara penuh secara nasional, teknologi pirolisis berpotensi mengurangi sekitar 20 persen timbulan sampah.
Melalui berbagai pendekatan, pemerintah berharap persoalan sampah Bekasi dapat menjadi contoh transformasi pengelolaan sampah yang terintegrasi dari hulu ke hilir, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
(rea/rir)