Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan sejumlah pekerjaan rumah (PR) besar sektor perdagangan memasuki tahun ketiga pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Salah satunya adalah memperluas akses pasar ekspor dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di tengah ketidakpastian perdagangan global.
Budi mengatakan dinamika global, termasuk konflik di Timur Tengah, masih menjadi tantangan bagi perdagangan RI.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Budi, pemerintah perlu membuka lebih banyak peluang perdagangan dengan negara lain, termasuk melalui perjanjian dagang yang saat ini masih dalam proses perundingan.
"PR ke depan sebenarnya bagaimana kita membuat banyak perjanjian dagang, bagaimana kita membuka akses pasar, tapi juga bagaimana kita meningkatkan daya saing," ujar Budi di ICE BSD, Tangerang, Kamis (15/10).
Salah satu perundingan yang ditargetkan selesai tahun ini adalah perjanjian dagang dengan negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk atau Gulf Cooperation Council (GCC).
Selain itu, Indonesia juga menjajaki peluang kerja sama perdagangan dengan negara-negara anggota Mercosur, blok perdagangan di Amerika Selatan (AS).
Budi mengakui perundingan dengan Mercosur membutuhkan waktu. Namun, Uruguay, salah satu negara anggotanya, telah mengajak Indonesia membahas kemungkinan perjanjian bilateral. Pemerintah, kata dia, masih akan melihat cakupan dan bentuk kesepakatan yang ditawarkan.
Menurut Budi, pendekatan bilateral dapat menjadi jalan untuk membuka peluang kerja sama dengan negara-negara lain dalam satu kawasan perdagangan.
Ia mencontohkan perjanjian bilateral Indonesia dengan Uni Emirat Arab (UEA) yang lebih dahulu berjalan dibandingkan perundingan dengan GCC secara keseluruhan.
"Timur Tengah itu berunding dari dulu belum selesai. Tetapi UEA itu perjanjian duluan dengan kita, atas nama bilateral, bukan dari GCC," ujar Budi.
Budi menilai kesepakatan dengan UEA turut menjadi pemantik bagi negara-negara Timur Tengah lainnya untuk menjajaki perjanjian dagang dengan Indonesia. Pola serupa, menurutnya, berpeluang diterapkan dalam penjajakan kerja sama dengan Mercosur.
Di luar pembukaan pasar baru, Budi menyebut peningkatan daya saing produk menjadi pekerjaan lain yang perlu diselesaikan. Ia mengaitkan hal tersebut dengan hilirisasi, yakni pengolahan bahan mentah menjadi produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Menurut Budi, produk hasil hilirisasi berpeluang lebih mudah menembus pasar internasional apabila didukung kualitas dan kompetensi produksi yang memadai. Namun, upaya memperluas akses pasar tetap perlu berjalan beriringan dengan kemampuan produk Indonesia memenuhi kebutuhan pasar tujuan.
"Program Bapak Presiden (Prabowo) hilirisasi itu sangat tepat sekali. Karena dengan hilirisasi berarti kita punya daya saing produk yang bagus, dengan kualitas produk. Produk hilirisasi biasanya lebih mudah masuk ke pasar negara lain karena kita mempunyai kompetensi dan kualitas di produk itu," ujarnya.
Budi sebelumnya menyebut perkembangan harga kebutuhan pokok dan peningkatan ekspor sebagai kondisi awal perdagangan yang perlu dipertahankan.
Meski demikian, Budi menyoroti tantangan yang masih dihadapi, terutama ketidakpastian global, kebutuhan memperluas pasar ekspor, dan persaingan produk Indonesia dengan produk negara lain.