Bahlil Bidik Ekspor Nikel RI Tembus Rp805,5 T pada 2026

CNN Indonesia
Kamis, 15 Okt 2026 10:30 WIB
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi merangkap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta transaksi Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 melampaui target US$17,5 miliar atau sekitar Rp313,31 triliun (asumsi
Menko Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menargetkan nilai ekspor nikel Indonesia mencapai US$45 miliar atau sekitar Rp805,52 triliun pada 2026. (CNN Indonesia/Dela Naufalia).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi merangkap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan nilai ekspor nikel Indonesia mencapai US$45 miliar atau sekitar Rp805,52 triliun (asumsi kurs Rp17.900 per dolar AS) pada 2026.

Target tersebut meningkat dari nilai ekspor nikel pada 2025 yang telah melampaui US$40 miliar atau setara Rp716,01 triliun.

"Pada tahun 2023 sudah mencapai US$34 miliar dan di tahun 2025 sudah lebih di angka US$40 miliar. Di tahun 2026 saya targetkan minimal di angka US$45 miliar," ujar Bahlil dalam pembukaan Trade Expo Indonesia ke-41 di ICE BSD, Tangerang, Rabu (14/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai pembanding, Bahlil mengatakan nilai ekspor nikel Indonesia pada 2017-2018 masih sebesar US$3,3 miliar atau Rp59,07 triliun.

Menurut Bahlil, peningkatan terjadi setelah pemerintah menghentikan ekspor bijih nikel (nickel ore) dan mengembangkan industri pengolahan di dalam negeri.

Pengembangan tersebut mencakup pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik dari hulu hingga hilir, termasuk produksi battery pack.

Bahlil menilai pengalaman di sektor nikel menjadi contoh penerapan hilirisasi untuk meningkatkan nilai ekspor komoditas Indonesia.

Pemerintah, sambung Bahlil, menargetkan nilai hilirisasi Indonesia mencapai US$618 miliar atau sekitar Rp11.062,60 triliun pada 2040.

Target tersebut tidak hanya mencakup sektor mineral dan batu bara, tetapi juga minyak dan gas bumi, kehutanan, perikanan, serta pertanian.

[Gambas:Youtube]

"Saya ingin menyampaikan bahwa master plan ke depan hilirisasi Indonesia pada tahun 2040, target kita mencapai US$618 miliar. Dan hilirisasi ini sesungguhnya dilakukan dari semua sektor," kata Bahlil.

Ia menyebut pemerintah ingin RI tak lagi hanya mengekspor bahan baku, melainkan mengembangkan industri pengolahan agar sumber daya alam memiliki nilai tambah sebelum dipasarkan ke luar negeri.

Bahlil juga menyinggung gugatan sejumlah negara Eropa ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terkait kebijakan Indonesia di sektor nikel. Ia menilai penciptaan nilai tambah berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi sekaligus kemandirian ekonomi nasional.

"Pertarungan penciptaan nilai tambah tidak hanya dimaknai sebagai bagian daripada pertumbuhan ekonomi nasional. Tapi harus dimaknai sebagai bagian kemandirian politik ekonomi nasional. Ini sejalan dengan arahan substansi daripada Pasal 33 Undang-Undang Dasar '45," ujarnya.

Pemerintah, lanjut Bahlil, akan memperluas hilirisasi ke berbagai sektor sebagai bagian dari strategi meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dan daya saing ekspor Indonesia.

(del/sfr)