Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menemui Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti di kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin (12/10).
Dalam pertemuan tersebut, Amalia mengungkapkan terdapat empat fokus utama yang dibedah secara detail bersama pihak Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
"Jadi pada hari ini kami sangat terhormat mendapatkan kedatangan dan kunjungan dari Bapak Wamenko Bidang Perekonomian untuk membahas data statistik secara lebih detail karena beliau tadi menyampaikan bahwa ke depan akan terus mendorong kebijakan yang berbasis pada data-data statistik yang kami hasilkan," ujar Amalia dalam konferensi pers usai pertemuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Amalia menyampaikan beberapa hal yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Pertama, mengenai sisi pertumbuhan ekonomi atau Produk Domestik Bruto (PDB) dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Kedua, perkembangan inflasi nasional.
Ketiga, mengenai neraca perdagangan. Terakhir, soal daya beli masyarakat Indonesia yang tercatat masih tetap kuat dengan tingkat konsumsi masyarakat tumbuh di atas 5 persen selama semester I 2026.
"Daya beli masyarakat di Indonesia ini berdasarkan catatan BPS itu memang masih kuat karena selama satu semester itu masih tumbuh di atas 5 persen konsumsi masyarakat," terangnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan berdasarkan data BPS bahwa adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat yang dipengaruhi gaya hidup baru, di mana pertumbuhan konsumsi untuk transportasi, restoran, dan hotel melonjak tinggi karena meningkatnya mobilitas serta aktivitas travelling.
"Dan yang tadi yang terlihat oleh rekaman data kami adalah pergeseran pola konsumsi masyarakat karena dipengaruhi oleh gaya hidup yang berbeda," ungkap Amalia.
Sementara itu, Wamenko Perekonomian Dradjad menekankan pentingnya sinergi antara pihaknya dan BPS dalam mengumpulkan data dari daerah agar tidak ada aktivitas ekonomi yang terlewat.
"Mungkin ada kegiatan ekonomi, ada kegiatan pelaku usaha yang belum tercatat, nah itu perlu koordinasi antarkementerian. Nah, kami akan membantu, kita akan melakukan koordinasi dengan kementerian atau lembaga terkait," ungkap Dradjad.
Ia pun meluruskan narasi publik yang menyebut daya beli masyarakat saat ini tengah melemah. Menurutnya, data resmi BPS justru membuktikan kondisi sebaliknya.
"Data BPS menunjukkan yang benar adalah daya beli itu tetap kuat, tetap robust, tetap solid. Jadi kami bukan membantah, tapi kami menunjukkan bahwa berdasarkan data BPS tidak benar daya beli melemah," pungkasnya.