Liang Wenfeng adalah salah satu konglomerat terkaya di dunia. Pundi-pundi hartanya berasal dari perusahaan teknologi kecerdasan buatan (AI), DeepSeek.
Berdasarkan catatan Forbes, Minggu (11/10), total kekayaan Liang mencapai US$40 miliar atau sekitar Rp715,65 triliun (asumsi kurs Rp17.891 per dolar AS).
Tumpukan hartanya itu menempatkan Liang pada peringkat ke-52 pada Daftar Real Time Orang Terkaya di Dunia versi Forbes. Tahun lalu, ia menduduki peringkat ke-34 pada Daftar 100 Orang Terkaya di China.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, bagaimana kisah hidupnya?
Lihat Juga : |
Dilansir dari berbagai sumber, Liang Wenfeng lahir di Zhanjiang, Guangdong, China, pada 1985. Keduanya orang tuanya adalah guru sekolah dasar (SD).
Sejak kecil, Liang dikenal sebagai jenius di bidang matematika oleh orang-orang di sekitarnya. Di luar sekolah, dia menghabiskan waktu dengan membaca waktu.
Selesai menempuh pendidikan menengah, Liang melanjutkan studi sarjana dan magister di Universitas Zhejiang. Ia fokus pada bidang teknik informasi elektronik dan komunikasi, khususnya visi komputer dan penerapan AI dalam berbagai bidang.
Setelah lulus, Liang mendirikan beberapa perusahaan yang menggabungkan AI dengan perdagangan kuantitatif.
Lihat Juga : |
Pada 2013, ia mendirikan Hangzhou Yakebi Investment Management Co Ltd, dan pada 2015, bersama rekan-rekannya, ia mendirikan Hangzhou Huanfang Technology Co Ltd, yang kemudian dikenal sebagai Zhejiang Jiuzhang Asset Management Co Ltd.
Pada 2016, ia ikut mendirikan Ningbo High-Flyer Quantitative Investment Management Partnership, sebuah perusahaan yang mengandalkan matematika dan AI untuk investasi.
Selanjutnya, pada 2019, Liang mendirikan High-Flyer AI, yang didedikasikan untuk penelitian algoritma AI dan aplikasinya. Perusahaan ini berhasil mengelola aset lebih dari 10 miliar yuan.
Loncatan kekayaannya terjadi pada 2023, setelah Liang mendirikan DeepSeek, sebuah perusahaan AI yang berfokus pada pengembangan model AI canggih. Kala itu, modal perusahaan berasal dari High-Flyer.
Lihat Juga : |
Model AI DeepSeek dianggap efisien dan hemat biaya lantaran dikembangkan dengan sumber daya yang lebih sedikit dibandingkan pesaing Barat.
Hal itu terbukti saat perusahaan merilis R1, model penalarannya yang menyaingi OpenAI o1. R1 bersifat open-source, artinya pengembang AI mana pun dapat menggunakannya.
Mengutip CNN, perusahaan menyebut mereka hanya menghabiskan US$5,6 juta untuk mendukung model dasar AI-nya. Biaya tersebut ebih murah dibanding dana ratusan juta, bahkan miliaran dolar yang dikeluarkan perusahaan-perusahaan AS untuk mengembangkan teknologi AI mereka.
Tak ayal, Deepseek berhasil mencuri perhatian global dan menjadi pesaing ChatGPT dari OpenAI, Gemini dari Google dan AI terkemuka lainnya.
Hal ini juga menjadi bukti bahwa China mampu mengembangkan model AI-nya sendiri.
Pada Juni lalu, DeepSeek menggalang US$7,4 miliar dalam putaran pendanaan yang dilakukan perusahaan, dengan valuasi mencapai US$52 miliar.
Kendati demikian, kesuksesan DeepSeek tidak lepas dari kontroversi. Beberapa ahli memperingatkan potensi risiko penggunaan platform AI ini, termasuk penyebaran misinformasi dan dugaan eksploitasi data oleh pemerintah China.
Selain itu, muncul kekhawatiran terkait privasi data dan kepatuhan terhadap regulasi China di Negara Barat.