Adidas menggugat White Fox Boutique, merek fesyen daring asal Australia, atas pakaian berdesain empat garis. Adidas menilai desain itu mirip secara menyesatkan dengan merek dagang tiga garis miliknya.
Gugatan diajukan ke Pengadilan Federal Australia pada 18 September, dikutip CNN dari laporan afiliasinya di Australia, 7News, Jumat (9/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam berkas gugatan yang dilihat 7News, Adidas menyebut telah berulang kali meminta White Fox yang berbasis di Sydney menghentikan penjualan pakaian tersebut sepanjang 2026. Menurut Adidas, semua permintaan itu ditolak.
White Fox berdiri pada 2013 dan populer di kalangan remaja serta anak muda usia 20-an di Australia, Amerika Serikat, dan Inggris. Akun Instagram-nya memiliki lebih dari 2,7 juta pengikut.
Dalam sidang di Sydney, Jumat (9/10), pengacara Adidas, Patrick Flynn, menuding White Fox sudah berbulan-bulan memasang empat garis pada produknya.
Flynn juga mempersoalkan materi promosi White Fox yang kerap memadukan pakaiannya dengan sepatu Adidas asli. Ia menunjukkan foto kampanye seorang influencer yang mengenakan busana White Fox dan sepatu Adidas untuk menggambarkan potensi kebingungan konsumen.
"Ada niat untuk menumpang reputasi kami," kata Flynn.
Selain soal pelanggaran merek dagang, Adidas menuntut ganti rugi karena menurut pengacaranya, White Fox menciptakan asosiasi di benak konsumen.
White Fox membantah
Pengacara White Fox membantah semua tuduhan. Mereka berargumen label fast fashion lain, seperti Princess Polly, Glassons, dan Shein, juga memakai tampilan empat garis.
"Jelas Adidas punya reputasi," ujar pengacara White Fox, Ed Heerey, di persidangan.
"Slogan mereka sendiri adalah merek dengan tiga garis. Penekanan pada tiga," tambahnya.
Menurut catatan pemerintah Australia, Adidas telah memegang merek dagang desain tiga garis di Australia sejak 1957.
Pada 2013, Adidas juga berhasil menggugat Pacific Brands, perusahaan barang konsumsi dan pakaian asal Australia, karena menjual sepatu berdesain empat garis.
Hakim Ian Jackman menjadwalkan sidang perkara ini pada awal 2027.
(fea)

