Pertamina Dukung Pengembangan Homestay Lokal Lewat MotoGP Mandalika

Pertamina | CNN Indonesia
Jumat, 09 Okt 2026 12:34 WIB
Pertamina
(Foto: Arsip Pertamina)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sukses menjadi magnet bagi wisatawan, ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit terbukti memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat di sekitar kawasan.

Salah satunya dirasakan para pelaku homestay di Desa Kuta, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang mengalami peningkatan menjelang balapan puncak yang diselenggarakan pada 9-11 Oktober 2026.

Berkolaborasi dengan Universitas Mataram, Pertamina memberi pelatihan hospitality, manajemen homestay, hingga kemampuan berbahasa Inggris bagi para pengelola dan pekerja homestay.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Corporate Secretary Pertamina Arya Dwi Paramita mengatakan, penguatan kapasitas masyarakat tersebut merupakan bagian dari upaya Pertamina agar keberadaan event sport tourism di Mandalika memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat seperti di Desa Kuta, Lombok yang berada paling dekat dengan Pertamina Mandalika International Circuit.

Karena itu, penduduk di lingkar terdekat menjadi salah satu perhatian Pertamina untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari gelaran event.

"Kita melihat ada beberapa kegiatan. Yang pertama adalah kita membantu memberdayakan masyarakat untuk bisa mengelola sampah. Kemudian yang kedua adalah bagaimana masyarakat di sini bisa membantu melayani wisatawan dengan baik," ujar Arya.

Selain pelatihan hospitality dan bahasa Inggris, Pertamina juga membantu masyarakat mengembangkan pengelolaan sampah melalui bank sampah. Sampah anorganik dapat diolah menjadi produk bernilai tambah seperti kerajinan dan tas, sementara sampah organik dimanfaatkan menjadi pupuk.

Pertamina menyediakan sepeda motor listrik untuk mengumpulkan sampah. Unit tersebut mendapat pasokan energi dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kWp yang terpasang di Balai Desa Kuta, serta rumah baterai berkapasitas 20 kWh yang berfungsi sebagai sumber pengisian daya.

Program ini merupakan bagian dari Desa Energi Berdikari Pertamina yang menggabungkan edukasi mengenai potensi energi, pemanfaatan energi, hingga pengembangan aktivitas ekonomi masyarakat berbasis energi bersih.

Arya berharap, berbagai langkah itu dapat membuat manfaat Pertamina Grand Prix Of Indonesia jadi berkelanjutan. Sebab, wisatawan tetap mengunjungi Mandalika sepanjang tahun.

"Event tahunan ini tidak setiap hari, tapi turis yang datang ke sini kan setiap hari. Artinya mereka juga bisa mengelola itu menjadi hal yang menarik. Nah, ini yang tentunya kita latih dan kita edukasi sekarang," tuturnya.

Salah satu pemilik homestay, Bani, mengatakan peningkatan permintaan kamar mulai terasa dalam sepekan terakhir. Kondisi tersebut terjadi di tengah tren pariwisata yang biasanya mulai menurun pada Oktober.

Menurutnya, kehadiran Pertamina Grand Prix Of Indonesia membuat tingkat hunian homestay di Kuta dan sekitarnya justru meningkat signifikan.

"Dengan adanya Pertamina Grand Prix Of Indonesia ini karena demand yang begitu banyak, jadi kita menaikkan sedikit harga dari harga pada umumnya. Dalam satu minggu terakhir ini peningkatan jumlah okupansi pada homestay sangat tinggi untuk seluruh wilayah Kuta dan sekitarnya," ujar Bani, pemilik Mong Bungalows.

Pada kondisi normal, tarif kamar di Mong Bungalows berkisar Rp350 ribu hingga Rp500 ribu per malam, tergantung musim. Namun, tingginya permintaan selama periode MotoGP membuat tarif mengalami penyesuaian.

Bani mengapresiasi program Pertamina karena memberikan tambahan keterampilan yang dibutuhkan untuk mengelola homestay secara lebih profesional. Terlebih, sebagian pengelola homestay tidak memiliki latar belakang pendidikan pariwisata.

"Dengan adanya program ini, kami sebagai owner memiliki keahlian yang tersertifikasi dan juga bisa meningkatkan mutu dari homestay kami, baik pelayanan maupun tata kelola homestay yang lebih profesional," katanya.

Reddy Mardani (Dani) dari Mango Room Mandalika, mengatakan harga kamar yang biasanya dipatok sekitar Rp600 ribu per malam meningkat hingga Rp2 juta selama gelaran Pertamina Grand Prix Of Indonesia. Seluruh kamar yang ditawarkan dengan harga tersebut pun laku terjual.

"Walaupun event-nya hanya tiga hari, kami bisa menjualnya mungkin tiga kali lipat. Kami menjual dengan harga Rp2 juta per malam dan itu laku semua," kata Dani.

Dani menilai, peningkatan kunjungan wisatawan tidak hanya memberikan keuntungan bagi pemilik akomodasi. Para pekerja lokal, pelaku kuliner, UMKM, hingga masyarakat yang menyediakan berbagai jasa ikut merasakan perputaran ekonomi dari event olahraga internasional tersebut.

Ia menyebut, sejak Pertamina Grand Prix Of Indonesia digelar di Mandalika pada 2021, jumlah wisatawan yang datang ke kawasan Kuta mengalami peningkatan setiap tahunnya, terutama wisatawan mancanegara, yang membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal.

"Semua pekerja kami pekerja lokal. Dengan adanya banyak akomodasi yang tercipta di Kuta Mandalika ini, kami berterima kasih karena sudah menyediakan wadah untuk kami bekerja. Semoga gelaran balapan ini bisa terus ada setiap tahunnya agar kita juga mendapat dampak ekonomi yang baik," tutup Dani.

(rea/rir)
placeholder