ANALISIS

Mengupas Tuah Kemenko Baru Prabowo, Bawa Berkah atau Justru Bencana?

Endrapta Ibrahim Pramudhiaz | CNN Indonesia
Rabu, 07 Okt 2026 07:20 WIB
Presiden Prabowo Subianto memimpin pelantikan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/1/2026). Presiden melantik Pratikno sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia (Wantimpres), Hatta Rajasa seb
Presiden Prabowo bentuk Kemenko Hilirisasi dan Transisi Energi, dipimpin Bahlil. Namun, struktur kementerian belum jelas, menimbulkan kritik dan keraguan. (FOTO:ANTARA/BAYU PRATAMA S)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Prabowo Subianto kembali memperlebar kabinet dengan membentuk Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi.

Posisi pimpinannya dipercayakan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang kini merangkap dua jabatan di Kabinet Merah Putih sejak Kamis (1/10).

Namun, kemenko anyar ini belum matang lantaran kementerian teknis yang berada di bawah koordinasinya belum teridentifikasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahlil mengaku masih harus mengecek Peraturan Presiden (Perpres) terkait, sedangkan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani juga belum mengetahui akan ke arah mana koordinasi kementerian yang dipimpinnya ini.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menilai pembentukan kemenko ini merupakan upaya Prabowo memberi sinyal kalau ia menaruh prioritas tinggi pada program hilirisasi dan transisi energi agar dapat dieksekusi lebih efektif, bukan sekadar membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Jadi dengan dibentuknya kemenko, berarti hilirisasi dan transisi energi yang diberikan prioritas kuat," ujar Faisal kepada CNNIndonesia.com, Selasa (6/10).

Meski demikian, ia mengkritik desain kelembagaan yang terkesan gegabah akibat ketiadaan struktur bawahnya yang jelas. Faisal menilai perencanaan pembentukannya tidak matang.

"Kalau sampai sekarang kemenkonya sudah dibentuk, tapi belum ada kementerian-kementerian (di bawahnya), ini berarti tidak begitu matang desainnya," ujar Faisal.

[Gambas:Youtube]

Faisal juga menyoroti risiko rangkap jabatan Ketua Umum Partai Golkar itu yang berada dalam satu komando vertikal.

Ia memandang posisi Bahlil yang merangkap jabatan Menko Hilirisasi dan Transisi Energi serta Menteri ESDM berpotensi menimbulkan conflict of interest atau konflik kepentingan.

"Saya harap ini hanya temporer untuk menghindari kekosongan saja. Ke depan harus dipikirkan supaya ini tidak diisi oleh orang yang sama," ujar Faisal.

Keraguan senada disuarakan oleh Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda. Ia memandang tugas kemenko baru ini tumpang tindih dengan kewenangan Kemenko Perekonomian.

Huda juga pesimistis terhadap arah transisi energi bersih, mengingat sosok yang memimpin disebut memiliki rekam jejak dan irisan kuat dengan sektor pertambangan.

"Saya justru ragu energi di sini adalah pengembangan energi fosil lagi, bukan energi baru terbarukan. Jadi saya rasa pelantikan Bahlil hanya memperkuat posisi dia dalam mengatur penggunaan energi yang dia inginkan," ujarnya kepada CNNIndonesia.com secara terpisah.

Ia mengibaratkan Kemenko Hilirisasi dan Transisi Energi seperti kapal induk yang disetir oleh nakhoda bermasalah, sehingga berisiko salah arah.

"Kapal induk itu akan kehilangan arah juga mengikuti kapal kecil yang sudah salah arah duluan. Tidak akan ada yang sampai ke tujuan terkait dengan transisi energi baru terbarukan karena nahkodanya tidak mempunyai tujuan yang serupa," ujar Huda.

Sementara itu, Koalisi Publish What You Pay (PWYP) Indonesia menyoroti kontradiksi fundamental antara agenda hilirisasi dan transisi energi di dalam satu payung kementerian.

Jebakan Tumpang Tindih Jabatan BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2