Airlangga Heran Rating Global Ketat Nilai RI: Negara Lain kok Boleh?

CNN Indonesia
Selasa, 06 Okt 2026 13:39 WIB
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan saat konferensi pers Hasil High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Pusat (HLM TPIP) di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (31/1/2025). Hasil rapat Tim Pengendali
Airlangga mempertanyakan motif lembaga rating global yang dinilai terlalu kaku dan mematok RI dengan standar yang tinggi, tetapi longgar ke negara lain. (Foto: ANTARA FOTO/SULTHONY HASANUDDIN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mempertanyakan penilaian sejumlah lembaga pemeringkat global yang menurutnya tebang pilih terhadap indikator ekonomi makro Indonesia.

Airlangga heran lantaran makroprudensial Indonesia tergolong jauh lebih konservatif ketimbang banyak negara maju maupun negara tetangga. Namun, lembaga rating internasional justru bersikap terlalu kaku dan terus mematok Indonesia pada standar yang tinggi.

Ia menyebut postur rasio utang Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) saat ini berada di level 41 persen dengan defisit anggaran yang selalu terjaga di bawah 3 persen. Airlangga lantas membandingkan dengan kondisi negara lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bandingkan dengan Amerika yang 5,8 persen defisitnya, kemudian utangnya terhadap GDP 123,3 persen. Kemudian India minus 4,4 persen dan debt-nya 83,10 persen. Jepang defisitnya minus 0,6 persen cuman utangnya 248,7 persen. Dan negara tetangga kita Singapura, dia budget positif 1,9 persen tapi debt-nya di 171,3 persen," ujar Airlangga dalam acara BIG Downstream Insights 2026 di Graha CIMB Niaga, Jakarta Selatan, Selasa (6/10).

Lantas Airlangga menyebut kondisi tersebut memicu pertanyaan besar bagi pemerintah terkait motif di balik penilaian ketat lembaga rating dunia terhadap postur fiskal Indonesia.

"Kenapa ada kelompok rating agency yang heboh dan mematok Indonesia di angka-angka yang sebetulnya dibandingkan negara-negara yang tadi saya sebut, makroprudensial kita relatif konservatif?" ungkapnya.

"Pertanyaannya, kalau yang lain boleh kok Indonesia enggak boleh? Pertanyaan berikutnya, ada apa sebetulnya? Is it economics? Is it beyond economics?" tutur Airlangga.

Di tengah tekanan penilaian global tersebut, Airlangga menegaskan ketahanan ekonomi nasional masih sangat solid. Meski berbagai lembaga keuangan dunia memproyeksikan rata-rata pertumbuhan ekonomi global berada di kisaran 3 persen, Indonesia mampu melaju jauh di atas rata-rata dengan pertumbuhan 5,45 persen.

"Nah, tentu pertama tentu pesan (sinyal) ekonomi makro. Walaupun berbagai lembaga menilai pertumbuhan global rata-rata 3, sekian baik IMF, World Bank, Indonesia masih mampu tumbuh di 5,45 persen. Dan tentu kita berharap bahwa menjelang semester kedua, angkanya juga tidak jauh dari angka di semester pertama," pungkasnya.

[Gambas:Youtube]

(fln/pta)