Airlangga Ungkap Jurus Vietnam Bikin Ekspor Meroket Tinggalkan RI

CNN Indonesia
Selasa, 06 Okt 2026 12:28 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto saat konferensi pers RAPBN & Nota Keuangan Anggaran 2027
Menko Airlangga mengungkap keunggulan ekspor Vietnam yang melesat, termasuk struktur industri dan pengembangan KEK yang lebih agresif dibanding Indonesia. (FOTO:Tangkapan layar Youtube Kemenkeu).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan sejumlah keunggulan yang membuat kinerja ekspor Vietnam melesat meninggalkan Indonesia.

Airlangga menyebut salah satu faktor pembeda terbesar berada di lompatan struktur industri dan agresivitas pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di negara tetangga tersebut.

Ia menjelaskan bahwa struktur industri terbagi dalam beberapa tingkatan. Jika Indonesia masih berfokus pada industri berbasis agrowisata di tier 1 serta manufaktur dasar di tier 2, Vietnam justru sudah berhasil melampaui industri tier 3 yang mencakup teknologi tinggi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kesempatan untuk naik dari 5 persen (pertumbuhan ekonomi), kita rata-rata 5 persen, kalau kita mau mengejar Vietnam yang bisa mencapai 9 persen, maka kita harus lari juga ke digitalisasi, semikonduktor, AI. Jadi itu seluruhnya leverage yang Vietnam sudah lakukan lebih dulu dari Indonesia," kata Airlangga dalam acara BIG Downstream Insights 2026 di Graha CIMB Niaga, Jakarta Selatan, Selasa (6/10).

Airlangga juga menyebut laju ekspor Vietnam didorong perluasan lahan KEK yang jauh lebih masif, serta keberanian dalam memberikan kepastian hukum bagi investor asing.

"Bayangkan Indonesia punya Special Economic Zone itu kira-kira 24.000 hektar. Vietnam punya Special Economic Zone 2 juta hektar. Jadi dia lebih masif dari kita, lebih berani, dan sebetulnya dari segi kepastian usaha, mereka juga memberikan pelayanan yang baik kepada para investor," terangnya.

[Gambas:Youtube]

Lebih lanjut, keunggulan lain yang membuat ekspor Vietnam melesat adalah langkah proaktif mereka dalam mengamankan pasar internasional.

Airlangga menjelaskan Vietnam tercatat sudah lebih dulu mengesahkan perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif (CEPA) dengan Uni Eropa dibandingkan Indonesia.

Selain itu, negara tetangga tersebut juga mengantongi kesepakatan perlakuan tarif maupun non-tarif yang jauh lebih menguntungkan dari Pemerintah Amerika Serikat. Dengan demikian, produk-produk ekspor Vietnam bisa masuk ke pasar negara maju dengan biaya yang jauh lebih murah dan cepat.

Meski begitu, Airlangga mencatat bahwa Vietnam memiliki keterbatasan pada ketergantungan pasar luar negeri karena tidak memiliki kekuatan pasar domestik sebesar Indonesia. Kondisi tersebut memaksa seluruh investasi yang masuk ke Vietnam untuk difokuskan sepenuhnya pada orientasi ekspor.

"Namun, mereka tidak punya domestik market. Jadi mereka yang menanam investasi di Vietnam itu harus mendorong untuk menuju ekspor," tutur Airlangga.

(fln/ins)
placeholder