Harga minyak dunia cenderung stagnan pada perdagangan Kamis (1/10) pagi. Investor mencermati perkembangan pembicaraan damai Amerika Serikat-Iran serta pemulihan ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Mengutip dari Reuters, harga minyak Brent naik 12 sen atau 0,1 persen menjadi US$98,15 per barel pada 00.45 GMT. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 7 sen atau 0,1 persen menjadi US$90,35 per barel.
Kedua harga acuan tersebut naik sekitar US$1 per barel pada perdagangan Rabu. Sepanjang September, Brent mencatat kenaikan sekitar 14 persen, menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Juli. Sementara WTI naik sekitar 5 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Analis Fujitomi Securities Toshitaka Tazawa mengatakan tekanan beli masih muncul di tengah kekhawatiran pasokan. Namun, tekanan jual juga menguat seiring tanda-tanda pemulihan ekspor minyak dari Timur Tengah.
"Tekanan beli masih berlanjut di tengah kekhawatiran pasokan, tetapi tekanan jual juga terjadi karena ekspor minyak Timur Tengah menunjukkan tanda-tanda pemulihan," kata Tazawa.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah kembali beroperasinya pengiriman minyak dari pelabuhan Laut Merah Yanbu, Arab Saudi.
Arab Saudi kembali melakukan pemuatan tanker minyak dari Yanbu pada Selasa setelah mengaktifkan kembali operasional pipa East-West.
Di sisi lain, perkembangan negosiasi antara AS dan Iran masih menjadi perhatian investor. Qatar pada Selasa menyatakan berharap diplomasi antara Teheran dan Washington dapat menghasilkan terobosan.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump membantah laporan Axios dan CNN yang mengutip pejabat AS bahwa dirinya bersedia memberikan keringanan sanksi dan mencairkan dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas langkah konkret Teheran terkait program nuklirnya.
Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak dari kawasan Teluk, termasuk ekspor yang dilakukan oleh kapal yang mematikan transponder lokasinya, telah pulih menjadi 23,3 juta barel per hari dalam sepekan terakhir.
Angka tersebut sejalan dengan rata-rata ekspor pada 2025, setelah ekspor minyak kawasan Teluk meningkat dua kali lipat pada September.
Sementara itu, negara-negara produsen minyak OPEC+ diperkirakan mempertahankan target produksi minyak untuk November dalam pertemuan pada Minggu (4/10). Hal tersebut disampaikan dua sumber yang mengetahui persoalan tersebut kepada Reuters.
Dari AS, persediaan minyak mentah meningkat 922 ribu barel menjadi 427,3 juta barel pada pekan yang berakhir 25 September, berdasarkan data Energy Information Administration (EIA).
Kenaikan tersebut berbanding dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan persediaan minyak mentah AS turun 264 ribu barel. Namun, persediaan bahan bakar AS turun tajam seiring kuatnya permintaan musiman dan global.