Bank Indonesia (BI) mengungkap risiko keluarnya aliran modal asing (capital outflow) dari pasar keuangan Indonesia ketika suku bunga Amerika Serikat (AS) meningkat.
Kenaikan suku bunga AS dapat membuat aset berdenominasi dolar AS semakin menarik bagi investor global sehingga mendorong mereka melakukan repositioning portofolio.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan kenaikan Federal Funds Rate (FFR) dapat mengubah perhitungan investor dalam menempatkan dananya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Investor dapat mempertimbangkan kembali aset-aset di negara berkembang, termasuk Indonesia, ketika imbal hasil aset AS meningkat.
"Begitu statement itu keluar tidak hanya kita di domestik, global juga bergerak," ujar Erwin dalam Taklimat Media BI di Gedung BI, Jakarta, Rabu (30/9).
Menurut Erwin, perubahan sentimen global dapat mendorong investor melakukan repositioning.
Dalam kondisi tersebut, investor bisa menjual aset keuangan dalam rupiah seperti Surat Berharga Negara (SBN) atau instrumen moneter BI, kemudian menukarkan rupiahnya ke valuta asing.
"Kalau outflow-nya banyak, kan yang terjadi adalah dia jual SBN, jual SRBI, kemudian dia akan menerima rupiah. Rupiahnya kemudian dia akan beli valas. Nah, itu akan menyebabkan permintaan valas meningkat," jelasnya.
Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Erwin mengatakan tekanan rupiah tidak semata-mata berasal dari kebutuhan valas untuk transaksi perdagangan atau impor, tetapi juga dapat muncul dari perubahan persepsi investor terhadap kondisi global.
"Jadi jalur terjadinya pelemahan nilai tukar itu tidak semata-mata hanya supply dan demand karena kebutuhan, tapi ada satu jalur harga persepsi yang juga bekerja," katanya.
Erwin mengatakan perubahan persepsi tersebut dapat dipicu berbagai perkembangan global, termasuk kebijakan moneter negara maju, konflik geopolitik, maupun pernyataan pejabat yang memengaruhi ekspektasi pasar.
Karena itu, BI memperkuat kebijakan untuk menjaga agar aset rupiah tetap menarik bagi investor asing. Salah satunya melalui peningkatan insentif lindung nilai (hedging) bagi investor yang membawa dana dari luar negeri.
Lihat Juga : |
Bank sentral meningkatkan insentif untuk instrumen swap lindung nilai menjadi 15 persen untuk tenor tiga bulan, 20 persen untuk tenor enam bulan, dan 25 persen untuk tenor 12 bulan.
Sementara, insentif DNDF ditingkatkan menjadi 25 persen untuk tenor enam bulan dan 30 persen untuk tenor 12 bulan.
Erwin menjelaskan semakin panjang tenor investasi, semakin besar insentif yang diberikan. Skema tersebut diharapkan dapat mengurangi biaya lindung nilai yang ditanggung investor sehingga imbal hasil bersih investasi di Indonesia tetap menarik.
"Makanya kita berikan insentif ini kan the longer the higher. Jadi kalau dia mau tinggal lebih lama, kita kasih insentif lebih tinggi," ujarnya.
Menurut Erwin, kebijakan tersebut juga sejalan dengan keinginan BI agar arus modal asing yang masuk ke Indonesia tidak hanya bersifat jangka pendek atau hot money. Bank sentral lebih mengharapkan investor yang memiliki orientasi jangka panjang.
"Kalau pun kita bicara portfolio investasi mungkin kita akan lebih suka kalau yang masuk itu adalah long term investor yang sifatnya real money atau bentuknya Foreign Direct Investment (FDI)," katanya.
Erwin menjelaskan investor jangka panjang dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan pembiayaan ekonomi karena tidak mudah melakukan perpindahan dana hanya berdasarkan perubahan sentimen pasar dalam jangka pendek.
Namun, Erwin mengatakan dinamika pasar global tetap perlu diwaspadai. Kenaikan imbal hasil aset AS dapat membuat investor global kembali menghitung risiko dan potensi imbal hasil dari penempatan dana di negara berkembang.
Karena itu, selain menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar valas, BI terus memperkuat instrumen lindung nilai dan pendalaman pasar keuangan untuk menjaga daya tarik aset rupiah.
Bank sentral sebelumnya juga memperluas transaksi yang dapat memperoleh insentif lindung nilai. Selain portfolio inflows, insentif tersebut mencakup pinjaman luar negeri oleh bank dan FDI.
Di tengah tekanan global, BI mencatat aliran investasi portofolio asing ke Indonesia pada kuartal III 2026 hingga 21 September masih mencatat net inflows sekitar US$400 juta.
Aliran tersebut antara lain ditopang penerbitan global bond pemerintah dan masuknya dana ke SBN.
(lau/sfr)