PNM Mekaar Dampingi Perajin Blangkon Jawa Bertahan di Era Modern

PNM | CNN Indonesia
Selasa, 29 Sep 2026 17:01 WIB
BNR PNM 9/10 (12445) - September 2026
Kerajinan blankon keluarga Tri Damayanti. (Foto: Arsip PNM)
Jakarta, CNN Indonesia --

Blangkon merupakan penutup kepala tradisional Jawa yang hingga kini masih lekat dengan busana adat dan berbagai upacara budaya. Keterampilan membuatnya diwariskan dan terus dijaga oleh para pengrajin, salah satunya Tri Damayanti bersama suaminya.

Di tangan keluarga Tri, setiap helai kain dibentuk dan dirangkai menjadi blangkon. Proses tersebut menyimpan cerita tentang keterampilan yang diwariskan dan budaya Jawa yang berusaha bertahan di tengah perubahan zaman.

Bagi keluarga Tri, blangkon bukan sekadar kerajinan. Usaha ini juga menjadi penopang agar dapur keluarga tetap menyala.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menjaga usaha tetap berjalan berarti lebih dari mempertahankan produksi. Keluarga Tri menghadapi tantangan agar produknya tetap dikenal dan menjangkau pasar lebih luas, sementara keterampilan membuat blangkon harus tetap memiliki nilai ekonomi.

Tri menjadi nasabah PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM sejak 2023. Ia memperoleh akses pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku.

Melalui kegiatan pemberdayaan, PNM juga memberikan pengetahuan dan pendampingan. Tri dibantu mengembangkan cara memasarkan produknya.

Dari pendampingan itu, media sosial mulai dimanfaatkan untuk memperkenalkan blangkon kepada lebih banyak orang.

“Terima kasih kepada PNM yang telah memberikan pelatihan dan pendampingan yang sangat bermanfaat bagi usaha saya. Melalui pelatihan dan pendampingan tersebut, saya bisa memasarkan produk melalui media sosial sehingga produk saya semakin dikenal luas,” ujarnya.

Perubahan yang dialami Tri menunjukkan bahwa penguatan usaha ultra mikro tidak berhenti ketika modal diterima. Ada pengetahuan yang perlu dibangun, keberanian mencoba cara baru, dan kesempatan memperluas pasar.

Direktur Utama PNM, Kindaris, mengatakan PNM berupaya membuka akses dan menciptakan kesempatan bagi masyarakat prasejahtera untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Menurutnya, pembiayaan menjadi pintu masuk, sementara pemberdayaan membantu nasabah memiliki kemampuan untuk terus bertumbuh.

“Membuka akses bukan hanya tentang memberikan pembiayaan. Kami ingin membuka kesempatan agar setiap nasabah dapat belajar, mengembangkan usaha, dan semakin percaya diri dengan potensi yang dimilikinya,” tutur dia dalam keterangan tertulis, Selasa (29/9).

Kindaris menyebut pembiayaan dan pemberdayaan dihadirkan secara berdampingan. Dengan begitu, usaha yang dijalankan tidak hanya bertahan, tetapi memiliki ruang untuk terus tumbuh.

Pendekatan tersebut penting bagi usaha seperti yang dijalankan Tri. Ketika usaha tradisional berkembang, yang tumbuh bukan hanya ekonomi keluarga, tetapi juga kesempatan bagi keterampilan dan produk lokal untuk menemukan tempat di tengah perubahan zaman.

“Saya berharap pendampingan ini terus berlanjut agar kami sebagai nasabah bisa terus berkembang, lebih percaya diri, mampu mengembangkan usaha, serta meningkatkan perekonomian keluarga,” lanjut Tri.

Dari rumah usaha di Pracimantoro, blangkon terus dibuat dengan tangan. Setiap pesanan menjadi pemasukan bagi keluarga Tri sekaligus bagian dari perjalanan keterampilan tradisional di tengah generasi yang terus berubah.

(rir)