BI Ungkap Penyebab Rupiah Kembali Tembus Rp18 Ribu per Dolar AS

tim | CNN Indonesia
Selasa, 29 Sep 2026 14:00 WIB
Petugas melayani penukaran valuta asing di PT Valuta Artha Mas di Jakarta, Rabu, 17 April 2024. Nilai tukar rupiah tercatat melemah hingga menembus level Rp 16.245 per dollar AS setelah libur Lebaran 2024. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Bank Indonesia (BI) mengungkap sejumlah faktor penyebab rupiah kembali menyentuh level Rp18 ribu per dolar AS pada perdagangan Selasa (29/9). Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Indonesia (BI) mengungkap sejumlah faktor penyebab rupiah kembali menyentuh level Rp18 ribu per dolar AS pada perdagangan Selasa (29/9).

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com melalui Bloomberg, rupiah berada di level Rp18.003 per dolar AS pada pukul 13.19 WIB. Rupiah melemah 25 poin atau 0,14 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global dan risiko fiskal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi tersebut terjadi seiring kenaikan harga minyak dunia hingga di atas US$108 per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz.

"Kenaikan harga minyak hingga di atas US$108 per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz. Hal ini mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut," ujar Erwin dalam keterangannya, Selasa (29/9).

Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury (UST) tenor 10 tahun hingga 5,23 persen. Menurut Erwin, level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 2007.

Tekanan terhadap rupiah juga berasal dari kebutuhan valuta asing (valas) importir menjelang akhir kuartal III 2026.

Selain itu, arus keluar dana dari portofolio aset negara-negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi turut menekan nilai tukar rupiah.

"Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi," ujarnya.

Erwin mengatakan bank sentral terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya.

Selain itu, BI mengelola struktur suku bunga di pasar uang melalui penguatan strategi operasi moneter pro-market. Efektivitas stabilisasi nilai tukar juga diperkuat dengan menjaga kecukupan likuiditas.

"Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga sesuai fundamentalnya," ujar Erwin.

BI juga meningkatkan insentif untuk instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) lindung nilai kepada BI dalam rangka pendanaan luar negeri.

Erwin menegaskan intervensi terhadap rupiah akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui sejumlah instrumen.

"Intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," jelasnya.

BI juga terus melakukan koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Meski rupiah tertekan, Erwin mengatakan pergerakannya secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan. Pelemahan rupiah secara quarter-to-date (qtd) tercatat sebesar 0,67 persen.

"Secara umum, pergerakan Rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan pelemahan terbatas secara quarter-to-date (qtd) sebesar 0,67 persen," katanya.

Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia tercatat meningkat menjadi US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.

BI sebelumnya menyebut posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

[Gambas:Video CNN]

(lau/sfr)