Rupiah Lesu, Bos BI Siapkan Jurus Jaga Stabilitas Nilai Tukar

CNN Indonesia
Jumat, 25 Sep 2026 07:50 WIB
Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (23/9).
Bank Indonesia (BI) optimistis stabilitas akan terjaga melalui intervensi dan insentif untuk aliran modal asing. (FOTO:CNN Indonesia/Laurent Nabila Zahra Tanjung).
Jakarta, CNN Indonesia --

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan pasar keuangan. Untuk itu, bank sentral mempersiapkan strategi untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

"Rupiah per 22 September tercatat Rp17.855 per dolar AS, melemah terbatas 0,78 persen dibandingkan akhir Agustus 2026," kata Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (23/9).

Destry mengatakan tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari perkembangan global, terutama meningkatnya tensi perang di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga komoditas dan meningkatkan risiko terhadap perekonomian global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain, kebijakan moneter global masih ketat. Suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Funds Rate (FFR) telah berada di kisaran 3,75-4 persen pada September 2026 dan masih berpotensi kembali naik.

Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS. Kenaikan yield AS dan prospek suku bunga yang lebih tinggi membuat aliran modal ke negara berkembang menjadi lebih tertahan serta memperkuat dolar AS.

Meski demikian, Destry memperkirakan pergerakan rupiah ke depan tetap stabil dengan dukungan fundamental domestik dan kebijakan BI.

[Gambas:Youtube]

"Ke depan BI perkirakan rupiah akan bergerak stabil didukung oleh komitmen BI serta imbal hasil menarik, inflasi terkendali dan prospek ekonomi yang tetap baik," ujarnya.

Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI akan memperkuat strategi intervensi di pasar valuta asing dengan mengoptimalkan berbagai instrumen moneter.

"Bank Indonesia akan terus memperkuat berbagai strategi dengan mengoptimalkan seluruh instrumen moneter guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah," tegas Destry.

BI melakukan intervensi melalui pasar offshore dengan instrumen Non-Deliverable Forward (NDF), serta di pasar domestik melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Selain intervensi, BI juga memperkuat insentif untuk mendorong masuknya aliran modal asing sekaligus meningkatkan transaksi lindung nilai atau hedging di pasar valuta asing.

Mulai September 2026, BI meningkatkan insentif untuk transaksi Swap Beli Lindung Nilai dengan underlying pendanaan eksternal, termasuk aliran modal portofolio, pinjaman luar negeri perbankan, dan investasi langsung asing.

Insentif tersebut menjadi 15 persen untuk tenor tiga bulan, 20 persen untuk tenor enam bulan, dan 25 persen untuk tenor 12 bulan, dari sebelumnya 12,5 persen untuk seluruh tenor.

Sementara itu, insentif untuk transaksi DNDF lindung nilai dinaikkan menjadi 25 persen untuk tenor enam bulan dan 30 persen untuk tenor 12 bulan, dari sebelumnya 15 persen.

BI juga tetap memberikan insentif untuk transaksi dalam kerangka Local Currency Transaction (LCT), berupa tambahan premi swap 10 persen dan pengurangan premi DNDF sebesar 10 persen.

Destry mengatakan penguatan respons kebijakan tersebut diperlukan untuk menjaga ketahanan eksternal Indonesia di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

"Kondisi ini mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal," pungkasnya.

(lau/ins)
placeholder