Bos KAI Jawab Keluhan soal AC KRL Tak Dingin

CNN Indonesia
Rabu, 23 Sep 2026 19:53 WIB
Sejumlah komuter perempuan memadati gerbong Kereta Rel Listrik (KRL) di peron 3-4 Stasiun Manggarai, Manggarai, Jakarta Selatan, Rabu (29/4/2026). (CNN Indonesia/Febria Adha L)
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menjawab keluhan penumpang soal kondisi Commuter Line alias Kereta Rel Listrik (KRL) yang terasa gerah. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Febria Adha L).
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI Bobby Rasyidin menjawab keluhan penumpang soal kondisi Commuter Line alias Kereta Rel Listrik (KRL) yang terasa gerah.

Pasalnya, kapasitas pendingin udara (AC) pada kereta baru KAI lebih besar dibandingkan sejumlah KRL eks-Jepang yang masih beroperasi.

Bobby menerangkan, kapasitas AC kereta eks Jepang hanya 4.200 kilokalori per jam. Sementara, kereta baru, termasuk buatan PT INKA, berkisar 6.000 kilokalori per jam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau kereta-kereta baru kayak China, kemudian INKA itu kan 6.000-an, 6.000 lebih. Nanti begitu kita remajakan kereta-kereta Jepang ini, semuanya itu kan akan 6.000-an. Kalau 6.000 udah enggak gerah lagi," ujar Bobby di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Rabu (23/9).

Adapun kereta eks-Jepang yang dimaksud merupakan armada KRL bekas pakai yang diimpor dari Jepang untuk melayani operasional Commuter Line Jabodetabek.

Kereta-kereta tersebut, seperti seri JR 205 atau Tokyo Metro, sejak awal dirancang untuk iklim sub-tropis empat musim.

Alhasil, spesifikasi pendingin bawaannya yang berada di kisaran 4.200 kilokalori per jam kerap tidak sanggup mengimbangi cuaca panas tropis Indonesia dan tingginya kepadatan penumpang pada jam sibuk, sehingga sering dikeluhkan gerah oleh pengguna jasa.

Bobby mengatakan peningkatan kapasitas AC tersebut akan dilakukan seiring dengan peremajaan kereta eks-Jepang.

Infrastruktur Terbatas

Namun, persoalan kepadatan KRL Jabodetabek menurutnya tidak hanya berkaitan dengan kondisi kereta, tetapi juga keterbatasan infrastruktur.

Saat ini, KRL Jabodetabek melayani rata-rata sekitar 1,1 juta penumpang per hari dengan 1.065 perjalanan. Pada jam sibuk, tingkat kepadatan mencapai sekitar delapan orang per meter persegi.

"Seperti yang saya gambarkan tadi, kurangnya itu tidak hanya di sarananya, tidak hanya keretanya, kurang itu juga ada di infrastrukturnya. Infrastruktur ini, dalam dua tahun tiga tahun ke depan, inilah yang kita benahi dan kita tingkatkan kapasitasnya," ujar Bobby.

Bobby mengatakan jumlah penumpang KRL meningkat 11,3 persen pada semester I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Rata-rata penumpang harian yang sebelumnya masih di bawah 1 juta kini mencapai 1,1 juta orang.

Kepadatan juga berbeda di setiap lintasan. Bobby menyebut okupansi di jalur Rangkasbitung telah lebih dari 160 persen, sementara Bekasi sekitar 120 persen dan Bogor sekitar 130 persen.

"Kalau standarnya itu kita tadi 1:6, kalau si Bogor dan Bekasi itu masih 1:7. Nah, sementara kalau yang Rangkasbitung ini, itu 1:12," katanya.

Menurut Bobby, kepadatan tinggi di jalur Rangkasbitung salah satunya dipengaruhi headway yang masih 10-15 menit. KAI berencana meningkatkan sistem persinyalan sehingga jeda perjalanan dapat dipangkas menjadi 4-5 menit.

KAI juga akan menambah lima gardu traksi dan meningkatkan sembilan gardu lainnya di jalur Rangkasbitung. Dengan peningkatan kelistrikan tersebut, seluruh perjalanan ditargetkan dapat menggunakan rangkaian SF12 mulai semester I 2027.

Di jalur Bogor, KAI akan menambah 22 slot perjalanan menuju Bogor dengan mengakhiri perjalanan Nambo Line di Citayam. Sementara itu, elektrifikasi jalur Bekasi akan diperpanjang dari Cikarang menuju Cikampek dan jalur Bogor dari Bogor menuju Cigombong.

Rangkaian peningkatan kapasitas tersebut menjadi bagian dari target KAI meningkatkan kemampuan angkut KRL Jabodetabek hingga 2 juta penumpang per hari. Saat ini, rata-rata penumpang mencapai 1,1 juta per hari dengan puncak sekitar 1,3 juta.

Bobby mengatakan KAI menargetkan berbagai pembenahan infrastruktur tersebut dapat mengubah kondisi kepadatan KRL dalam beberapa tahun ke depan.

"Prasarana quick win-nya itu adalah tahun 2026 adalah untuk jalur Green Line yang Rangkasbitung, itu kita mulai memasang atau menyisipkan lima gardu traksi di tahun ini dan upgrading di sembilan gardu lainnya, sehingga nanti di semester I 2027 jalur Green Line ini itu akan bisa dilewati oleh SF12 semua," ujar Bobby.

Selain kelistrikan dan persinyalan, KAI juga akan meningkatkan proteksi perjalanan melalui teknologi Automatic Train Protection (ATP).

Saat ini sistem perlindungan perjalanan masih mengandalkan grafik perjalanan kereta, persinyalan, serta masinis sebagai lapisan perlindungan terakhir.

Ketika ditanya apakah kondisi kepadatan seperti saat ini ditargetkan tidak lagi terjadi pada 2028, Bobby mengatakan KAI akan berupaya memenuhi target tersebut.

"Iya, insyaallah. Karena bagi kami bahwa keberadaan KAI ini adalah pelayan dari angkutan publik, maka kami harus jamin," ujar Bobby.

[Gambas:Video CNN]

(del/sfr)