Kisah "Orang Sinting" di Banyuwangi, Dongkrak Panen Padi Sampai 50%

BI Jatim | CNN Indonesia
Rabu, 23 Sep 2026 09:02 WIB
BI Jatim
(Foto: Arsip CNN Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketika pertama kali memimpin Kelompok Tani Mendo Sampurno pada 1997, Samanhudi tak punya latar belakang pertanian sama sekali. Kini berusia 63 tahun, pria yang akrab disapa Haji Saman itu dikenal sebagai bapak perintis pertanian padi organik di Banyuwangi, sekaligus sosok sentral di balik PT Sirtanio Organik Indonesia, yakni korporasi petani produsen beras organik ternama yang bermula dari kelompok tani yang ia pimpin di Dusun Umbulrejo, Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh.

Setiap Jumat pagi, rumah sekaligus kantor PT Sirtanio Organik Indonesia menjadi tempat berkumpul jemaah Ngaji Tani. Selain berdoa bersama, mereka mengkaji tata kelola pertanian organik secara teknis, mulai penanganan hama secara alami, meracik pupuk organik mandiri, sampai memilih agen hayati terbaik untuk tanaman padi.

Pada Jumat (7/8), pagi diisi dengan pemaparan dari perwakilan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Jember, yang membagikan kisah lebih dari satu dasawarsa membina Sirtanio hingga bertransformasi seperti sekarang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya tidak punya basic pertanian. Makanya begitu ada pelatihan di Dinas Pertanian di mana saja, saya selalu ikut. Dari situ arahnya rata-rata mengenalkan pertanian organik, pupuk organik, dan agen hayati," tutur Saman.

Kiprah Saman tak selalu mulus. Idenya untuk mengembangkan pertanian organik pun sempat ditentang, Saman dicap jadi "orang sinting".

Tak patah arang, Saman menjawab cibiran tetangganya lewat pembuktian di lahan sendiri. Dalam waktu dua tahun, ia berhasil mewujudkan lahan bebas kimia sepenuhnya.

"Yang saya lakukan adalah mendalami dan memperbaiki apa yang kami punya lalu mengaplikasikannya. Saya tidak menjawab pakai kata-kata, saya jawab dengan pembuktian bahwa produksi (padi) saya saat itu meningkat sampai 50 persen," katanya.

Memasuki tahun ke-13 merintis pertanian organik di wilayah Desa Sumberbaru, Saman yang kemudian mendirikan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) di desanya, bertemu sejumlah petani muda lulusan kampus-kampus pertanian terbaik di Indonesia.

Kolaborasi lintas generasi ini kemudian melahirkan badan usaha PT Sirtanio Organik Indonesia. Salah satu sarjana muda yang terlibat adalah Shohib Qomad Dillah, yang kini menjabat sebagai Direktur PT Sirtanio Organik Indonesia.

"Ketika kami mengawali, Pak Saman sudah merintis namun dari sisi penjualan belum banyak. Saat itu bahkan ada 300 kilogram beras merah yang sempat kesulitan dijual. Kami melihat potensi itu, lalu membuat strategi penjualan dan perbaikan pengemasan. Dalam waktu sebulan, beras tadi habis dan banyak repeat order," ujar Shohib.

Dari momen itu, lahir komitmen kemitraan mutualisme bersama ratusan petani lokal lewat jargon ikonis "Menyejahterakan petani, menyehatkan dunia".

Saman menyadari, kemitraan akan langgeng jika petani diuntungkan lewat harga beli gabah yang lebih tinggi dan adil. Pola ini terbukti berhasil meningkatkan kapasitas produksi hingga Sirtanio mampu memasok puluhan ton beras organik per bulan ke seluruh penjuru Nusantara, hingga pasar internasional seperti Italia, China, dan Amerika Serikat.

Strategi Bank Indonesia Kendalikan Inflasi Pangan

Semangat kemandirian pangan yang digelorakan Saman dan Sirtanio lewat PT Sirtanio Organik Indonesia, sejalan dengan misi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai rupiah dan menekan angka inflasi.

Melalui Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS), Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember kemudian 'mengadopsi' Sirtanio menjadi binaan sejak tahun 2011.

Pada sisi hulu produksi, tim pendampingan dari Bank Indonesia lewat pendekatan intervensi terintegrasi berfokus mengarahkan peningkatan produktivitas Sirtanio dan para petani mitranya. Sementara, sisi hilir diarahkan pada aspek pengolahan (processing), pengemasan modern (packaging), promosi, hingga perluasan akses pasar.

Langkah ini dinilai krusial mengingat dinamika tantangan ekonomi ke depan. Pada triwulan I tahun 2026, perekonomian Jawa Timur tercatat tumbuh menguat 5,96 persen secara tahunan (year-0n-year/yoy). Namun, stabilitas harga pangan tetap dibayangi ancaman perubahan iklim, cuaca ekstrem dan gangguan rantai pasok global.

Kepala Divisi Implementasi KEKDA Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Yono Haryono, memaparkan pentingnya efisiensi biaya produksi di tingkat petani melalui program klaster pangan demi meredam gejolak harga pasar.

Menurutnya, ketika merancang program ini, Bank Indonesia sepenuhnya berfokus mengendalikan perkembangan harga secara berkelanjutan melalui penguatan ketahanan pangan.

Untuk itu, dijalankan langkah meningkatkan produktivitas pertanian dengan pendampingan klaster pangan lewat penerapan GAP (Good Agricultural Practices), pemupukan, dan pembibitan yang baik.

"Kedua, kami mendorong efisiensi biaya. Kadang-kadang petani tidak concern mencatat biaya operasional sehingga biayanya tinggi. Kita dorong mitigasi itu melalui program digitalisasi atau penerapan teknologi IoT (Internet of Things). Keberhasilan Sirtanio ini adalah contoh success story yang coba kita replikasi di tempat lain agar klaster pangan mitra BI di seluruh Indonesia bisa menerapkan standarisasi yang sama," pungkas Yono.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember yang sejak awal terlibat dalam transformasi Sirtanio, menyatakan berkomitmen memperkuat kelembagaan kelompok tani pada sisi produksi guna menjaga kesinambungan pasokan beras organik nasional.

Komitmen diwujudkan lewat pendampingan intensif, yang menjadikan Sirtanio sebagai percontohan klaster pangan binaan Bank Indonesia. Selain perbaikan koordinasi antara petani dan manajemen produksi, pendampingan juga mencakup pengendalian mutu hingga konsolidasi hasil panen.

Capaian positif produksi padi organik petani mitra Sirtanio bersama Bank Indonesia ini semakin memperkokoh peran sektor pertanian lokal dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

(rea/rir)
placeholder