Dari Komunitas Lokal, Sirtanio Bawa Beras Organik ke Pasar Global

BI Jatim | CNN Indonesia
Selasa, 22 Sep 2026 09:00 WIB
Bank Indonesia
Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, saat flag off pelepasan tim Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren 2026. (Foto: Arsip CNN Indonesia/Andreas Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dari sebuah komunitas petani di Banyuwangi, beras organik Sirtanio kini mampu menembus pasar internasional. Perjalanan itu tak lepas dari proses panjang membangun ekosistem pertanian, mengatasi persoalan produksi hingga memperluas akses pasar.

Kisah tersebut menjadi salah satu yang diangkat dalam Program Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren 2026 yang kembali digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur.

Mengusung tema "Jelajah Ekonomi Berdaya: Merangkai Kemandirian, Inovasi, dan Keberlanjutan dari Ekosistem Lokal", program tersebut telah memasuki penyelenggaraan yang ketiga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tim Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren 2026 dilepas dari Gedung De Javasche Bank, Surabaya, menuju sejumlah wilayah di Jawa Timur pada akhir Juli 2026. Dalam kegiatan ini, CNN Indonesia turut melihat langsung perkembangan klaster pangan, UMKM, dan pondok pesantren yang mendapat pendampingan Bank Indonesia.

Salah satu tujuan perjalanan adalah Kabupaten Banyuwangi. Bumi Blambangan itu menjadi tempat lahirnya PT Sirtanio Organik Indonesia atau Sirtanio, tepatnya di Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh.

Sirtanio berawal dari Kelompok Tani Mendo Sampurno. Selama hampir dua dekade, komunitas tersebut berkembang menjadi pusat pelatihan pertanian organik sekaligus produsen beras organik dalam kemasan yang telah menjangkau pasar global.

Nama Sirtanio sendiri diambil dari bahasa Jawa "Sir" yang berarti suka, dan "Tanio" yang berarti ajakan untuk bertani. Nama tersebut merefleksikan semangat komunitas yang dinilai selaras dengan misi Bank Indonesia dalam mendorong kemandirian ekonomi.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur Ibrahim menegaskan, kisah sukses komunitas pertanian lokal seperti Sirtanio harus digaungkan agar menjadi contoh untuk daerah-daerah lain.

"UMKM dan pondok pesantren, utamanya di Jatim untuk mengemuka di wilayahnya. Agar semua pihak bisa belajar. Ada success story, ada insight yang bisa direplikasi di daerah lain. Untuk itu pentingnya acara hari ini bisa kita teruskan dari tahun ke tahun" ujar Ibrahim.

Pendampingan BI Jember untuk Sirtanio

Berkat konsistensinya, produk beras organik merah, hitam, dan putih Sirtanio kini tidak hanya merajai pasar domestik. Sirtanio sukses menembus pasar internasional seperti Italia, Tiongkok, hingga Amerika Serikat.

Kepala Kantor Perwakilan BI Jember, Iqbal Reza Nugraha menceritakan, sejak awal BI memang sudah melihat potensi besar pertanian organik saat memutuskan membina Sirtanio.

"Awal mulanya kita kenal Sirtanio tahun 2011. Setelah kita diskusi, kita datangi dan lihat potensinya. Potensi pertama yang kita lihat yaitu pengembangan sosial. Sirtanio bukan hanya fokus pada pengembangan produksi beras, tapi bisa melibatkan jumlah petani secara lebih masif," ungkap Iqbal.

Iqbal menambahkan, potensi kedua terletak pada pengembangan benih organik secara mandiri. Langkah ini dinilai sangat strategis dan berkelanjutan.

"Yang paling penting, ini selaras dengan visi misi BI. Kita membangun pengembangan berkelanjutan melalui pembinaan petani organik," jelasnya.

Potensi Sektor Organik yang Masih Terbuka

Bank IndonesiaFoto: Arsip CNN Indonesia/Gancar Wicaksono

Peluang pengembangan sektor pertanian organik di Banyuwangi masih sangat menjanjikan. Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banyuwangi, pada semester pertama tahun 2026, total produksi beras di Bumi Blambangan mencapai 255.257 ton dengan angka surplus mencapai sekitar 174.000 ton.

Meski demikian, kontribusi beras organik baru menyentuh angka 765,15 ton. Jumlah ini terhitung masih kecil dibanding total produksi keseluruhan, sehingga ruang pertumbuhan bagi petani organik masih sangat luas.

Di balik kesuksesan beras organik PT Sirtanio Organik Indonesia menembus pasar internasional, terdapat kisah perjuangan mengatasi masalah pascapanen. Berkat intervensi dan pendampingan hulu ke hilir dari Bank Indonesia, komunitas petani di Singojuruh, Banyuwangi pun berhasil menyulap keluhan konsumen menjadi peluang ekspor.

Berawal dari Komplain Beras Apek

Direktur PT Sirtanio Organik Indonesia, Shohib Qomad Dillah, menceritakan tantangan besar yang dihadapi saat merintis Sirtanio. Baru satu bulan memasarkan beras organik kebanggaan Banyuwangi, Sirtanio dihujani komplain dari para pengelola ritel.

"Di beberapa outlet berasnya ada bau apek dan warnanya berubah," ungkap Shohib.

Shohib menjelaskan, proses oksidasi beras organik memang jauh lebih cepat dibanding beras konvensional yang disemprot pestisida kimia sehingga memiliki daya simpan lebih lama.

Di tengah situasi kritis, Sirtanio bertemu dengan pihak BI Jember pada tahun 2011. Respon cepat pihak BI pun berbuah manis dengan tawaran solusi konkret. Bantuan mesin pengemas vakum melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI).

Dari bantuan mesin vakum pertama di 2013, kini Unit Pengemasan Sirtanio sudah beralih menggunakan mesin vakum modern double chamber yang membuat beras tahan disimpan lebih dari satu tahun.

Strategi Pendampingan Hulu ke Hilir

Penyediaan teknologi pengemasan vakum ini sejalan dengan komitmen BI dalam membangun ekosistem usaha yang tangguh dari hulu ke hilir. BI memastikan seluruh siklus produksi, mulai dari masa tanam, pemeliharaan, panen, pasca panen, hingga pemasaran, mendapatkan pendampingan ketat.

Kepala Perwakilan BI Jember, Iqbal Reza Nugraha, membeberkan strategi komprehensif yang diterapkan BI, mulai penguatan kelembagaan petani, memperluas jejaring kemitraan, hingga standarisasi budidaya pertanian yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP).

Sementara di sisi hilir, petani dilatih digitalisasi keuangan, diberikan bantuan sarana prasarana seperti mesin vakum dan alat distribusi, hingga didorong untuk perluasan pasar.

"Kami memfasilitasi berbagai pameran, baik yang diselenggarakan BI maupun pemerintah daerah, termasuk business matching penjualan. Pengalaman suksesnya, Sirtanio mampu memperluas pasar ekspornya ke Italia pada tahun 2019, serta mendapatkan kemudahan akses business matching pembiayaan," jelas Iqbal.

Penopang Lumbung Pangan Jawa Timur

Komitmen BI membina klaster pangan seperti Kelompok Tani Mendo Sampurno-yang membidani lahirnya Sirtanio-terbukti efektif menjadi instrumen pengendali inflasi. Langkah ini tidak hanya menjaga stabilitas harga pangan, tetapi juga mendongkrak kesejahteraan petani Jatim.

Potensi besar sektor pertanian organik juga ditegaskan Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani. Apalagi sektor pertanian merupakan urat nadi perekonomian masyarakat Bumi Blambangan.

"Sektor pertanian di Banyuwangi itu menyumbang 26% lebih bagi PDRB, tetapi jika mengukur dari mata pencaharian masyarakat, total ada sekitar 40 % warga yang bekerja di sektor pertanian. Jadi kontribusinya sangat besar," urai Ipuk.

Ipuk menambahkan bahwa status Banyuwangi sebagai salah satu lumbung pangan utama Jawa Timur akan terus dipertahankan. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berupaya menyelaraskan pertanian dengan tata kelola yang baik seperti yang telah dicontohkan lewat kemitraan BI-Sirtanio.

"Pertanian sudah menjadi ciri khas masyarakat kami. Itu yang akan kami pertahankan," ujarnya.

Kini, lahan pertanian organik garapan petani mitra Sirtanio di Banyuwangi telah menjadi medan percontohan nasional. Sinergi kuat komunitas lokal, bank sentral, dan pemerintah daerah menjadi cetak biru (blueprint) bahwa produk lokal yang dikelola dengan teknologi tepat guna mampu bersaing di pasar global.

Keberhasilan komunitas petani Sirtanio diharapkan menginspirasi para pegiat UMKM, petani, serta pondok pesantren di wilayah lain, untuk bersama-sama mewujudkan ekonomi lokal yang tangguh dan berdaya saing global.

(inh)