Pendidikan tinggi adalah fondasi penting bagi mahasiswa.Di tengah perubahan pasar kerja saat ini, ijazah saja tidak lagi cukup. Transkrip nilai bisa membuka pintu wawancara, tapi belum tentu seseorang mampu bertahan di ruang kerja.
Berbekal pengalaman menjalankan program beasiswa TELADAN, Tanoto Foundation mengidentifikasi tiga hal yang menjadi akar dari kesenjangan besar antara pendidikan dan pekerjaan.
1. Karyawan yang Baik Dibentuk oleh Pengalaman Nyata
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fondasi akademik yang kuat diakui Tanoto Foundation penting untuk pengembangan karier jangka panjang. Namun di dunia kerja, seseorang dituntut dapat menjelaskan gagasan, berkolaborasi dengan berbagai karakter orang, merespons situasi yang tidak pasti, dan mengambil keputusan cepat.
Beragam kemampuan itu terbentuk secara bertahap, misalnya lewat pengerjaan proyek, magang, kegiatan organisasi, keterlibatan dengan komunitas, mentoring, refleksi diri, dan kerendahan hati untuk mau menerima masukan.
2. Ketimpangan Kesempatan Pengembangan Diri
Tidak semua mahasiswa punya akses yang setara untuk memperkaya CV dengan pengalaman yang relevan, seperti magang, program pertukaran, organisasi ekstrakurikuler, hingga kesempatan membangun jejaring. Padahal, masa kuliah sering dianggap sebagai waktu ideal untuk membangun pengalaman ini.
Selain itu, jejaring profesional dan eksposur ke calon pemberi kerja juga turut menentukan siapa yang lebih menonjol di antara para lulusan. Karena ketimpangan akses ini, mentoring terstruktur, magang, dan eksposur profesional menjadi kunci untuk memperluas peluang mendapatkan pekerjaan.
3. Mulai Sejak Awal
Memulai lebih awal di sini bukan berarti mahasiswa harus berkuliah dengan rencana lima tahun yang sudah paten, atau melihat dirinya sebagai seorang pemimpin sejak semester pertama.
Dalam hal ini, kuliah menjadi periode belajar di mana mahasiswa memiliki waktu dan ruang untuk mengeksplorasi minat, kekuatan, nilai-nilai pribadi, serta area yang masih perlu dikembangkan.
Yang paling penting adalah mahasiswa mau mencoba berbagai jalan, mengambil tanggung jawab baru, belajar dari kegagalan, dan membuat pilihan yang makin terarah seiring waktu. Semakin dini proses ini dimulai, semakin matang pula bentuknya ketika memasuki dunia kerja.
Program Beasiswa TELADAN, Bangun Ekosistem Kesiapan Kerja
Pemikiran ini mendorong Tanoto Foundation konsisten menjalankan program beasiswa TELADAN (Teaching Leadership, Advancing the Nation).
Selain dukungan biaya kuliah penuh dan tunjangan hidup bulanan, para Tanoto Scholars, sebutan bagi penerima beasiswa, juga mendapat pengembangan kepemimpinan yang terstruktur selama 3,5 tahun, dari semester dua hingga semester delapan.
Studi tentang TELADAN berjudul What Drives Graduate Employability? di Journal of Further and Higher Education menemukan bahwa kesiapan kerja lulusan lebih banyak dibentuk oleh faktor-faktor seperti ketangguhan (grit), kemampuan menetapkan tujuan, komunikasi, kolaborasi, dan kemampuan mengambil keputusan secara mandiri.
Studi yang sama juga mendapati bahwa penerima beasiswa TELADAN 27 persen lebih mungkin mendapatkan pekerjaan, dan dua kali lebih mungkin mengalami mobilitas sosial ke atas, bahkan menyamai atau melampaui pendapatan orang tua mereka hanya dalam satu tahun pertama bekerja.
Pengembangan yang terstruktur ini juga diperkuat oleh ekosistem yang lebih luas, meliputi Tanoto Scholars Association; inisiatif berbagi berbasis komunitas, Pay It Forward; Tanoto Scholars Gathering; kesempatan magang; eksposur global dan sponsorship, serta jaringan alumni di dalam dan mancanegara.
Sejak 2006, Tanoto Foundation telah mendukung lebih dari 8 ribu Tanoto Scholars di 10 universitas mitra melalui Program TELADAN yang membuka potensi para penerimanya lewat pendekatan pengembangan kepemimpinan yang holistik, dimulai dari kepemimpinan diri dan kepemimpinan kolaboratif, hingga memasuki tahap persiapan langsung menuju dunia profesional.
(rea/rir)